Jatuh Lagi, Harga Batu Bara di Titik Terendah Dalam 3,5 Bulan

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
21 September 2018 11:55
Jatuh Lagi, Harga Batu Bara di Titik Terendah Dalam 3,5 Bulan
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga batu bara Newcastle kontrak acuan melemah 1,18% ke US$113,15/Metrik Ton (MT) pada penutupan perdagangan hari Kamis (20/9/2018).

Dengan pelemahan sebesar itu, harga batu bara kini sudah berada di level terendahnya dalam 3,5 bulan, atau sejak 6 Juni 2018. Di sepanjang bulan September 2018, harga si batu hitam kini sudah anjlok sebesar 4,11%.

Sentimen negatif bagi harga batu bara masih datang dari menipisnya permintaan sumber energi utama dunia ini Tidak hanya dari China sebagai importir utama, kini sinyal turunnya permintaan juga datang dari importir besar lainnya, seperti Jepang dan India.   






Persepsi penurunan konsumsi batu bara di China semakin nyata memasuki bulan September 2018. Menurut data China Coal Resources, stok batu bara di 6 pembangkit listrik utama China kembali menanjak secara mingguan (week-to-week/WtW) ke angka 15,4 juta ton, per hari Jumat (14/9/2018). Capaian itu merupakan yang tertinggi sejak Januari 2015.

Akibat masih tingginya level stok batu bara tersebut, pengguna akhir batu bara lantas menahan pembeliannya. Hal itu diindikasikan oleh impor batu bara China yang turun nyaris 40% WtW ke 1,98 juta ton per hari Jumat (7/9/2018), yang merupakan level terendah sejak sepekan yang berakhir 6 April, berdasarkan data dari Global Ports.

Berlalunya puncak musim panas nampaknya mulai memberikan dampak bagi menipisnya konsumsi batu bara Negeri Tirai Bambu. Sentimen ini lantas memberikan tekanan bagi harga batu bara, seiring China merupakan importir batu bara terbesar di dunia.

Namun, ternyata sentimen menipisnya permintaan batu bara tidak hanya dari Beijing. Mengutip data Global Ports, impor batu bara Jepang turun 1,55 juta ton WtW dalam sepekan hingga tanggal 14 September. Level itu menjadi yang terendah sejak April 2017.

Tidak hanya di Negeri Sakura, impor batu bara Korea Selatan dan India juga turun masing-masing sebesar 1,69 juta ton dan 2,56 juta ton secara mingguan, di periode yang sama. Lesunya permintaan komoditas ini lantas sukses menekan harga batu bara kemarin.

Selain itu, investor nampaknya masih mengkhawatirkan perkembangan perang dagang AS-China. Walau baranya sudah mendingin, tetapi pelaku pasar nampaknya belum mau menganggap remeh. Sebab sejauh ini belum ada jaminan pasti kedua negara akan berdamai.

Bumbu-bumbu ketegangan juga masih ada. Kemarin, Menteri Perdagangan China menyatakan bahwa negaranya berharap AS memperbaiki perilakunya. Padahal selama ini justru AS yang selalu menuduh China melakukan kecurangan dalam berbisnis.

Penasihat Ekonomi Gedung Putih Lawrence 'Larry' Kudlow malah sempat menyebutkan bahwa reformasi ekonomi China beranjak ke arah yang keliru.

Kedua pihak yang sama-sama keras kepala ini tampaknya mengindikasikan bahwa kisruh dagang akan memakan waktu lebih panjang hingga benar-benar selesai. Selama itu pula pelaku pasar masih akan waspada.

Pasalnya, perang dagang yang semakin parah akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan arus perdagangan global. Alhasil, hal tersebut akan menjadi sentimen bahwa permintaan energi (termasuk batu bara ) akan tertekan.  
(RHG/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading