Musim Panas Mulai Berlalu, Harga Batu Bara Terus Merosot

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
09 August 2018 11:24
Musim Panas Mulai Berlalu, Harga Batu Bara Terus Merosot
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga batu bara ICE Newcastle kontrak acuan ditutup melemah sebesar 0,09% ke US$115,9/ton pada perdagangan hari Rabu (08/08/2018). Pemicunya adalah permintaan dari China yang mulai menurun akibat terlewatinya puncak musim panas di tahun ini, ditambah melemahnya mata uang Yuan China.

Dengan pergerakan itu, harga batu bara sudah melemah selama tiga hari berturut-turut, dan kini sudah menyentuh titik terendahnya di bulan ini.

Musim Panas Mulai Berlalu, Harga Batu Bara Terus Merosot



Seperti diketahui, sejak bulan Mei 2018, harga batu bara termal Australia terus menanjak hingga menyentuh hingga menyentuh titik tertingginya dalam 6 tahun terakhir, di angka US$119,9/metrik ton di akhir Juli 2018 lalu.

Biang keroknya tidak lain adalah gelombang panas yang menyapu Bumi Belahan Utara (BBU). Akibatnya, energi listrik yang digunakan menyalakan pendingin ruangan pun memuncak, sehingga memicu meroketnya permintaan batu bara untuk pembangkit listrik.

Temperatur di wilayah pengkonsumsi utama batu bara di Asia Utara dan Eropa menyentuh rekor tertingginya di Bulan Juli 2018. "Pelebaran suhu panas antara 1-4 derajat Celsius di atas normal telah terjadi di wilayah Selatan Tengah, Timur, dan Timur Laut di China, selama 7 hari terakhir," papar Ed Whalen, seorang analis cuaca, seperti dilansir dari Reuters.

Hal ini lantas dibuktikan oleh impor batu bara China bulan Juli 2018 yang naik 14% pada secara bulanan (month-to-month/MtM) ke 29,01 juta, tertinggi dalam 4,5 tahun. Sebagai informasi, melesatnya impor batu bara Negeri Panda juga didukung oleh kebijakan pemerintah Negeri Panda untuk membatasi produksi batu bara domestik.

Dari data teranyar, produksi batu bara China bulan Juni 2018 jatuh 1,4% secara MtM, ke level terendahnya dalam 8 bulan terakhir.
Meski demikian, sejumlah trader menyatakan jatuhnya harga batu bara domestik di China beberapa waktu lalu telah mengindikasikan minat beli yang lebih rendah dari salah satu negara pengkonsumsi batu bara terbesar di dunia tersebut.

"Kita akan melihat sebagian dari permintaan (batu bara) musim panas berkurang seiring datangnya temperatur yang lebih dingin, dan kita bergerak keluar dari puncak musim panas," ujar Pat Markey, Managing Director di perusahaan konsultan komoditas Sierra Vista Resources, seperti dikutip dari Reuters.

Selain itu, pelemahan Yuan China juga mendorong penurunan harga batu bara. Mata uang Negeri Tirai Bambu telah menurun nyaris 3% terhadap dolar AS di sepanjang bulan Juli 2018, seiring munculnya kekhawatiran terkait eskalasi perang dagang dengan Negeri Paman Sam yang merupakan pembeli utama dari produk-produk China.

"Akibat melemahnya yuan (China) terhadap dolar AS, kekuatan pembelian dari konsumen (batu bara) di China juga menurun," tambah Markey. (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading