Naik 3.037% dan Disuspen 2 Kali, Masih Wajarkah Saham TCPI?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
08 August 2018 11:26
Naik 3.037% dan Disuspen 2 Kali, Masih Wajarkah Saham TCPI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdagangan saham PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) kembali dibekukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak kemarin (7/8/2018), seiring dengan peningkatan harga kumulatif yang signifikan.

Terhitung sejak melantai di BEI pada 4 Juli silam, imbal hasil saham TCPI telah mencapai 3.037,7% alias naik lebih dari 30 kali lipat. Sebelumnya pada 24 Juli, saham TCPI juga sempat dibekukan oleh BEI selama 1 hari lantaran kenaikan harganya yang begitu signifikan.

Mengutip Reuters, emiten ini menyediakan jasa transportasi dan logistik untuk produk-produk sektor energi.


Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di halaman resmi perusahaan, kinerja dari perusahaan memang terbilang cukup positif. Terhitung sejak tahun 2015, perusahaan tak pernah membukukan perlambatan pendapatan dan laba bersih.

Pada tahun 2016, penjualan perusahaan melesat 67,4% menjadi Rp 565,1 miliar, dari yang sebelumnya Rp 337,5 miliar. Seiring dengan melesatnya penjualan, laba bersih terkerek sebesar 152,8% menjadi Rp 86,2 miliar, dari yang sebelumnya Rp 34,1 miliar.

Beralih ke tahun 2017, penjualan perusahaan naik 15,1% menjadi Rp 650,4 miliar, sementara laba bersih naik 2,9% menjadi Rp 88,7 miliar.

Memasuki tahun 2018, perusahaan menargetkan pertumbuhan laba bersih higga 100%, ditopang oleh pertumbuhan permintaan jumlah kargo yang dikirimkan perusahaan.

Direktur Utama Transcoal Pacific Dirc Richard Talumewu mengatakan sebagian besar klien yang ditangani perusahaan meningkatkan jumlah kargonya. Hal tersebut membuat kinerja perusahaan menjadi meningkat signifikan di tahun ini.

"Tahun 2017 kami catat laba Rp 88 miliar, tahun ini kami targetkan laba minimal Rp 150 miliar. Jadi kurang lebih tumbuh 100%," kata Dirc di Gedung BEI, Jakarta.
Melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan mengatakan memang memiliki rencana untuk melakukan tindakan korporasi dalam waktu dekat.

"Apalagi perusahaan telah memutuskan melakukan tindakan korporasi tersebut nantinya perusahaan akan melakukan keterbukaan informasi sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam peraturan BEI dan Otoritas Jasa Keuangan," tulis Dirc Richard Talumewo, Direktur Utama perusahaan, Selasa (7/8).

Motor pertumbuhan lainnya adalah langkah perusahaan yang baru saja melakukan pembelian floating storage senilai US$ 1 juta. Perusahaan menargetkan pembelian tersebut bisa menghasilkan pendapatan senilai Rp 50 miliar-Rp 60 miliar.

Selain itu, perusahaan juga akan melakukan pembelian tiga tug boats (kapal tongkang) baru untuk menutup permintaan yang selama ini dipenuhi dengan menyewa kapal dari pihak ketiga.

Sudah Terlalu Mahal
Saham TCPI saat ini bisa dibilang sudah kemahalan. Mengutip RTI, Price-Earnings Ratio (PER) saham TCPI saat ini adalah sebesar 131,2x, jauh di atas PER sektor industrinya (infrastruktur, utilitas, dan transportasi) yang sebesar 17,1x.

Jika kita bandingkan dengan emiten-emiten yang memiliki lini bisnis sejenis, PER dari TCPI juga terbilang besar. PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS) memiliki PER sebesar 22,9 kali, PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP) 17,2 kali, PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) 18,2 kali, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) 17,3 kali, dan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) 12,3 kali.

Hingga saat ini, belum ada analis yang memberikan rekomendasi target harga untuk saham TCPI. Namun, melihat valuasinya yang sudah sangat mahal, investor harus berhati-hati jika ingin bermain di saham ini.

TIM RISET CNBC INDONESIA (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading