Produksi OPEC Bertambah, Harga Minyak Tertekan

Market - Raditya Hanung, CNBC Indonesia
31 July 2018 09:55
Produksi OPEC Bertambah, Harga Minyak Tertekan
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak jenis brent kontrak pengiriman September 2018 melemah tipis 0,04% ke level US$74,94/barel, sementara harga minyak light sweet kontrak September 2018 naik 0,08% ke US$70,19 pada perdagangan hari ini Selasa (31/07/2018) hingga pukul 09.00 WIB.

Harga minyak brent yang menjadi acuan di Eropa tidak mampu melanjutkan penguatan sebesar 0,91% pada perdagangan kemarin, setelah Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) diperkirakan menambah produksinya pada bulan Juli 2018.

Sementara, light sweet yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) masih stabil cenderung menguat pasca kemarin mampu naik 2% lebih, kembali ke level US$70/barel. Kuatnya harga minyak AS didukung oleh rilis data pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam kuartal II-2018 yang kuat, serta kekhawatiran penurunan cadangan minyak di negeri adidaya itu.


Produksi OPEC Bertambah, Harga Minyak Tertekan



Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) tumbuh sebesar 4,1% secara quarter-to-quarter (QtQ) pada periode April-Juni 2018, sesuai dengan ekspektasi pasar. Dengan capaian itu, pertumbuhan ekonomi AS di kuartal lalu menjadi yang tercepat sejak kuartal II-2014 yang sebesar 4,6% YoY, dan menjadi pertumbuhan ekonomi kuartalan tertinggi ke-3 di AS sejak era Resesi Besar (The Great Recession).

Saat pertumbuhan ekonomi negeri adidaya kuat, maka permintaan komoditas minyak mentah sebagai sumber energi pun pastinya akan melambung. Meski sebenarnya data PDB AS tersebut sudah diantisipasi pasar, namun pertumbuhan 4,1% adalah jumlah yang besar. Dibutuhkan "bahan bakar" yang banyak untuk menggerakkan ekonomi secepat itu.

Selain itu, kini muncul kekhawatiran bahwa cadangan minyak mentah AS akan anjlok pada pekan lalu, seiring kelangkaan di fasilitas Syncrude di Kanada tidak dapat diselesaikan dalam waktu dekat. Akibat disrupsi di Syncrude, cadangan minyak mentah di Cushing, titik pengiriman minyak light sweet, turun ke 23,7 juta barel pada sepekan hingga tanggal 20 Juli. Angka itu merupakan yang terendah sejak November 2014.

Meski demikian, perusahaan informasi energi Genscape melaporkan bahwa cadangan minyak mentah di Cushing meningkat hampir 200.000 barel, atau hampir 1%, pada periode Selasa-Jumat pekan lalu. Hal ini lantas membatasi penguatan harga minyak AS pada pagi ini.

Di sisi lain, menurut survei yang dilakukan oleh Reuters, OPEC diperkirakan meningkatkan produksi minyak mentahnya pada bulan Juli 2018, sebesar 70.000 barel/hari ke angka 32,64 juta barel/hari. Kenaikan pasokan OPEC ini kemudian diprediksikan mampu mengompensasi kelangkaan pasokan yang terjadi akibat krisis di Venezuela dan terhentinya pengiriman minyak melalui Selat Bab al-Mandeb.

Sebagai informasi, mengutip data dari sumber sekunder di laporan bulanan OPEC edisi Juli 2018, produksi minyak mentah OPEC sudah meningkat 0,56% menjadi 32,33 juta barel/hari pada bulan Juni 2018.

Produksi OPEC Bertambah, Harga Minyak Tertekan


Sentimen lainnya yang menekan harga minyak Brent adalah Presiden AS Donald Trump yang kini mulai melunak dalam menghadapi Iran. Eks pembawa acara reality show The Apprentice itu menyatakan bersedia untuk bertemu dengan Presiden Iran Hassan Rouhani untuk membahas perbaikan hubungan kedua negara.

"Kalau mereka ingin bertemu, kami akan bertemu. Saya akan bertemu dengan siapa saja, saya percaya dengan pertemuan terutama jika pertaruhannya adalah perang. Saya tentu akan bertemu dengan Iran jika mereka memang mau. Tanpa syarat," tegas Trump, dikutip dari Reuters.

Apabila pertemuan Trump dan Rouhani sampai terjadi dan hasilnya positif, maka kekhawatiran terhadap sanksi dan berkurangnya pasokan minyak dari Iran bisa mereda. Harga minyak pun bisa terkoreksi karena pasokan yang memadai. (gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading