Asing Banyak Keluar, Nilai Saham Indonesia Sudah Murah

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
25 July 2018 10:45
Asing Banyak Keluar, Nilai Saham Indonesia Sudah Murah
Jakarta, CNBC Indonesia - Akumulasi jual investor asing terhadap saham-saham di Bursa Efek Indonesia telah membuat nilai aset finansial di Indonesia menjadi menarik. Chief Investment Officer Danareksa Investment Management Edwin Ridwan menilai penarikan dana investor asing tersebut tidak akan berlangsung lama karena smart money akan segera datang untuk memungut asset-aset berharga murah.

Ridwan memprediksi Bank Indonesia (BI) masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan hingga 75 bps sampai dengan akhir tahun 2018 dan current account deficit (CAD) Indonesia kuartal II kemungkinan dapat melampaui angka 2,5% akibat laju impor barang modal. "Namun CAD yang meningkat justru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat, terutama ditopang oleh pertumbuhan investasi," jelas Ridwan dalam CIO Commentary yang diterbitkan Danareksa Investment Management.

Menurut Ridwan, kondisi terburuk sudah kita alami, "Kami percaya bahwa paruh kedua 2018 akan lebih baik daripada paruh pertama ditopang oleh harga komoditas terutama batu bara dan metal yang cenderung kuat, belanja modal korporasi yang meningkat, peningkatan belanja pemerintah yang pada gilirannya akan menopang tingkat konsumsi masyarakat dan cenderung melemahnya mata uang Dollar AS terhadap mata uang utama dunia terutama EURO."

Perang tarif yang telah dimulai kemungkinan tidak akan mengalami eskalasi menjadi perang dagang yang meluas mengingat negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China sama-sama menyadari konsekuensi buruk yang diakibatkan oleh perang dagang.


Lagipula besarnya tarif impor dapat memicu relokasi pabrik oleh perusahaan- perusahaan Amerika Serikat ke luar negeri seperti diwacanakan oleh Harley Davidson dan Tesla sehingga pengenaan tarif oleh Pemerintah AS menjadi kurang efektif. Danareksa Investment Management menilai risiko resesi Amerika Serikat (AS) yang kemungkinan akan terjadi pada tahun 2019 atau 2020.

Dalam suatu survei yang diterbitkan oleh J.P. Morgan Private Bank di bulan April lalu, 75% dari 700 orang super kaya di dunia memprediksi bahwa resesi di Amerika Serikat akan terjadi dalam dua tahun ke depan. Sebanyak 21% responden meyakini resesi akan dimulai pada 2019 dan 50% berkeyakinan bahwa resesi akan dimulai pada 2020.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed sejauh ini ada langkah otoritas keuangan Amerika Serikat untuk mengantisipasi kemungkinan memanasnya perekonomian AS akibat pertumbuhan ekonomi yang lama dan kuat tersebut. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa langkah The Fed menaikkan suku bunga saat ini sebagai persiapan agar apabila resesi terjadi The Fed punya amunisi yang cukup berupa suku bunga acuan yang dapat dilonggarkan.

Bila resesi AS datang lebih cepat dari yang diperkirakan, maka tidak ada alasan lagi bagi The Fed untuk terus mengerek suku bunga acuan. Justru sebaliknya, suku bunga akan diturunkan untuk mengatasi kondisi tersebut. Di sisi lain resesi ekonomi AS tentunya akan menghambat pertumbuhan ekonomi global mengingat Amerika Serikat hingga saat ini masih merupakan perekonomian terbesar di dunia dan lokomotif ekonomi global.

Tak seorang pun dapat memprediksi secara pasti kapan ekonomi AS dan ekonomi global akan mulai mengalami resesi namun mengingat perekonomian Amerika Serikat saat ini berada pada periode akhir siklus-nya maka pertanyaan yang lebih tepat adalah investasi apa yang paling cocok untuk dilakukan pada periode akhir tersebut.

Beberapa sektor ekonomi yang cenderung mengalami performa baik dalam siklus akhir perekonomian adalah sektor komoditas, sektor utilitas, layanan kesehatan dan consumer staple. Harga minyak mentah yang meroket pada paruh pertama 2018 adalah salah satu pertanda bahwa perekonomian AS dan dunia memang sedang berada di siklus akhir.

Kenaikan harga komoditas, terutama batu bara dan komoditas lain seperti metal, akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Nilai ekspor batu bara merepresentasikan 13-14% total ekspor Indonesia atau sekitar 3% PDB Indonesia dan terdapat korelasi positif antara harga batubara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan nilai ekspor, investasi dan belanja modal serta multiplier effect yang dihasilkan dalam bentuk peningkatan konsumsi masyarakat.



(hps/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading