5 Sentimen Jadi Penentu Arah IHSG Pekan Depan

Market - Yazid Muamar, CNBC Indonesia
01 July 2018 16:30
5 Sentimen Jadi Penentu Arah IHSG Pekan Depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah melewati pekan pekan yang penuh tekanan dengan volatilitas yang cukup tinggi, besok pelaku pasar saham akan kembali berburu saham-saham yang berpotensi memberikan cuan. Namun tekanan sepertinya masih akan dirasakan, dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan dipengaruhi sentimen dari dalam dan luar negeri.

Tim Riset CNBC Indonesia menailai ada 5 sentimen lain yang bakal mempengaruhi keputusan investor dalam berinvestasi. Lima isu ini akan menjadi dasar bagi pelaku pasar mengambil posisi beli maupun jual.


1. Pengumuman InflasiInvestor pada Senin ini akan memperhatikan dampak dari pengumuman data inflasi Juni. Polling Reuters menyebutkan inflasi Indonesia berpeluang naik sebesar ke level 2,88% secara tahunan.


Jika inflasi naik seperti polling Reuters, maka IHSG berpeluang menguat dengan emiten sektor konsumer akan menjadi sasaran beli.


2. Dampak Relaksasi LTV
Perhatikan saham sektor properti yang berpeluang melanjutkan kenaikan menyambut pengumuman Bank Indonesia (BI) melonggarkan rasio uang muka terhadap kredit properti (loan to value/LTV) untuk memacu permintaan dan konsumsi.

Secara tahun berjalan (year to date) indeks sektor properti sudah turun 12%. Pada Jumat kemarin terlihat tanda-tanda rebound dengan kenaikan 0,91% pada indeks sektor properti.


3. Harga Minyak
Pada Jumat, 29/06/2018 harga minyak dunia jenis light sweet yang menjadi acuan di Amerika Serikat (AS) melemah 0,26% ke US$73,26/barel. Sementara brent yang menjadi acuan di Benua Eropa juga terkoreksi 0,29% ke US$77,62/barel. Namun harga minyak saat ini, berada pada level tertinggi.

Organisasi Negara-negara Pengeskspor Minyak (OPEC) dan Rusia sepakat untuk melonggarkan kesepakatannya, maka dalam waktu singkat pasar minyak global akan diguyur oleh pasokan minyak dari OPEC, Rusia, dan AS, masing-masing sekitar 11 juta barel/hari.

Situasi ini lantas sepertinya masih membuat investor sedikit mewaspadai perkembangan situasi pasar minyak global, dan berkontribusi pada pelemahan harga minyak pada hari ini.

Saham-saham sektor energi, terutama migas, berpeluang melemah dalam jangka pendek mengikuti sentimen ini, jika keputusan OPEC terbukti berdampak terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan energi utama dunai tersebut.


4. Kenaikan Suku Bunga Acuan BI
Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan BI 7-Day Reverse Repo Rate pada 29 Juni setelah tertunda karena pilkada. Kenaikan suku bunga acuan BI akan memicu aksi beli saham perbankan yang akan mendapat kenaikan margin, sedangkan di sisi lain mereka tidak harus mengeluarkan kredit baru dengan risiko tinggi di tengah situasi ekonomi yang belum bertumbuh signifikan.

Sementara itu, saham-saham sektor manufaktur dengan bahan baku berbasis impor memiliki peluang mendapatkan kepastian harga impor karena rupiah berpeluang terkendali menyusul kembalinya investor asing untuk memarkir dananya di pasar modal nasional, mengejar rentang (spread) keuntungan yang kompetitif.


5. Perang Dagang
Pelaku pasar juga harus mencermati perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan negara mitra, terutama China. AS semakin getol mengenakan tarif terhadap barang impor dari negara-negara yang selama ini menjadi mitra dagang.

Namun hal tersebut mendapat kecaman keras, baik dari pemeritahan maupun dari sektor swasta. Terbaru BMW mengancam akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan mengurangi investasi di Amerika Serikat jika Presiden Donald Trump menetapkan tarif untuk mobil impor.

Kenaikkan tarif impor mobil asal Eropa membuat terbebaninya kegiatan ekspor yang dilakukan BMW dari pabrik di South Caroline AS. Pabrik di sana merupakan yang terbesar, di mana berkontribusi atas 70% total produksi setiap tahun.


TIM RISET CNBC INDONESIA (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading