Suku Bunga Acuan Naik 50 Bps, IHSG Melesat 2,33%

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
29 June 2018 16:42
Suku Bunga Acuan Naik 50 Bps, IHSG Melesat 2,33%
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat hingga 2,33% pada perdagangan terakhir di minggu ini ke level 5.799,24. Penguatan IHSG senada dengan bursa saham utama kawasan Asia yang juga diperdagangkan di zona hijau: indeks Nikkei naik 0,15%, indeks Kospi naik 0,51%, indeks Strait Times naik 0,58%, indeks Shanghai naik 2,2%, dan indeks Hang Seng naik 1,61%.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 9,35 triliun dengan volume sebanyak 342,35 miliar unit saham. Frekuensi perdagangan adalah 432.880 kali.

Dari dalam negeri, pelaku pasar merespon positif kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 50bps ke level 5,25% yang diumumkan siang tadi. Kenaikan ini lebih besar jika dibandingkan dengan konsensus yang dihimpun oleh CNBC Indonesia dimana para ekonom memproyeksikan kenaikan suku bunga acuan hanya sebesar 25bps.


Suku bunga deposit facility dan lending facility juga dikerek masing-masing sebesar 50bps.

Sebelum keputusan ini diumumkan, IHSG diperdagangkan di level 5.727,4 (+1,06% dibandingkan posisi kemarin, 28/6/2018). Pasca keputusan diumumkan, IHSG melesat naik.

Meroketnya IHSG terjadi lantaran objektif dari kenaikan suku bunga acuan yakni stabilisasi nilai tukar bisa dibilang tercapai. Sampai akhir perdagangan, rupiah menguat 0,42% terhadap dolar AS di pasar spot ke level Rp 14.325.

Seiring dengan penguatan rupiah, investor gencar memburu saham-saham emiten perbankan; sektor jasa keuangan menguat hingga 2,6%, menjadikannya kontributor terbesar bagi penguatan IHSG.

Saham-saham perbankan yang diburu investor diantaranya: PT Bank Rakyat Indonesia Tbk/BBRI (+3,27%), PT Bank Mandiri Tbk/BMRI (+5,38%), PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (+2,51%), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk/BBNI (+3,68%).

Sebelumnya, pelemahan rupiah membuat investor melepas saham-saham perbankan, seiring dengan adanya risiko kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL). Ketika rupiah berbalik menguat, risiko tersebut lantas mereda.

Lebih lanjut, relaksasi kebijakan makroprudensial bagi sektor properti juga direspon positif oleh pelaku pasar. Guna memacu pertumbuhan kredit yang masih berjalan di bawah target, BI melonggarkan rasio LTV untuk kredit properti dan rasio FTV untuk pembiayaan properti. Ini artinya, pihak yang mengambil KPR (Kredit Pemilikan Rumah) bisa membayar uang muka dengan rasio yang lebih kecil dari sebelumnya.

Untuk rumah tapak dengan di atas 70 meter persegi misalnya, pembeli pertama yang sebelumnya diwajibkan membayar uang muka senilai 10-15% kini dibebaskan dari kewajiban membayar uang muka (0%).

Sebelum kebijakan tersebut diumumkan, indeks sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan berada di level 431,58 (+0,13% dibandingkan posisi kemarin, 28/6/2018). Pada akhir perdagangan, posisinya ada di level 434,97 (+0,91%).

Sebagai catatan, sektor properti terbilang sebagai sektor yang jarang mendapat sentimen positif belakangan ini. Sentimen positif besar terakhir yang menghampiri sektor ini adalah kala pemerintah mengadopsi kebijakan pengampunan pajak alias tax amnesty pada pertengahan 2016 silam. Ketika kini ada angin segar bagi sektor properti, aksi beli pun dilakukan oleh investor.

Saham-saham emiten properti yang ditransaksikan menguat diantaranya: PT Pembangunan Perumahan Tbk/PTPP (+8,42%), PT Bumi Serpong Damai Tbk/BSDE (+0,97%), PT Ciputra Development Tbk/CTRA (+2%), dan PT Pembangunan Perumahan Properti Tbk/PPRO (+1,43%).

Dari sisi eksternal, positifnya rilis data ekonomi negara-negara tetangga ikut mengangkat kinerja IHSG. Tingkat pengangguran Jepang per akhir Mei secara mengejutkan diumumkan di level 2,2%, jauh lebih rendah dari konsensus yang dihimpun oleh Reuters sebesar 2,5%.

Kemudian, pembacaan awal untuk data pertumbuhan output industri periode Mei tercatat hanya sebesar -0,2% MoM, jauh lebih baik dari konsensus yang memperkirakan penurunan hingga 1,1% MoM.

Dari Korea Selatan, data pertumbuhan output industri periode Mei diumumkan sebesar 0,9% YoY, lebih tinggi dari ekspektasi yang sebesar 0,5% saja.

Kuatnya data-data ekonomi tersebut memberikan indikasi bahwa perang tarif antara AS dengan negara-negara mitra dagangnya belum memberikan dampak yang signifikan bagi sektor riil. (ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading