Ramai-ramai Tambah Modal, Bank Kecil pun Naik Kelas

Market - Gita Rossiana, CNBC Indonesia
28 May 2018 14:30
Ramai-ramai Tambah Modal, Bank Kecil pun Naik Kelas
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah bank pada Maret 2018 mencapai 115 bank. Jumlah tersebut tidak mengalami perubahan dibandingkan Maret 2017, namun ada beberapa bank yang meningkat kelasnya ke level BUKU yang lebih tinggi.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dirilis OJK, jumlah bank BUKU I mencapai 18 bank. Nilai ini menurun dibandingkan periode Maret 2017 yang tercatat 21 bank masih berstatus bank BUKU I.

Hal ini berbeda pada BUKU II. Jumlah bank BUKU II justru meningkat dari 52 bank pada Maret 2017 menjadi 53 bank pada Maret 2018. Pertumbuhan juga terjadi pada bank BUKU III, jumlah bank yang memiliki modal inti di atas Rp 5 triliun bertambah dari 24 bank pada Maret 2017 menjadi 26 bank pada Maret 2018. Sementara untuk bank BUKU IV tidak mengalami perubahan sebanyak 5 bank.

Berbeda dengan bank konvensional yang mengalami perubahan pada kelas bank. Jumlah bank syariah justru tidak mengalami perubahan dan tidak ada yang mengalami peningkatan kelas. Bank syariah yang berada di BUKU I mencapai 3 bank, di BUKU II sebanyak 9 bank dan 1 bank di BUKU IV.

Perubahan kelas bank terjadi seiring dengan adanya penambahan modal bank. Penambahan modal ini bisa terjadi melalui aksi penawaran umum saham perdana ataupun right issue. Hingga Mei 2018, total dana yang diperoleh bank dari kedua skema tersebut mencapai Rp 5,56 triliun.

Bank pertama yang sudah melakukan right issue adalah PT Bank Panin Dubai Syariah Tbk (PNBS). Bank Panin Syariah melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) I dengan melepas 12,76 miliar saham atau 57,45% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.

Dalm prospektus yang diterbitkan, total dana segar yang dapat diperoleh perseroan senilai Rp 1,37 triliun. Setiap pemegang saham yang memiliki 100 lembar saham akan mendapatkan 135 lembar saham baru, dengan harga pelaksanaan Rp 100/saham.

Kemudian ada PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk (Bank BNP) yang akan melakukan right issue sebanyak 123 juta dengan nominal Rp 500 per saham. Adapun dana yang ingin diraup dari right issue adalah maksimal Rp 200 miliar.

Selanjutnya, ada PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) telah mendapat restu dari para pemegang saham untuk right issue dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.

 Jumlah saham baru yang akan diterbitkan mencapai 2,7 miliar lembar saham, dengan harga saham per lembarnya ada pada kisaran Rp 550-Rp 700. Sehingga, perusahaan akan memeroleh dana segar sebanyak-banyaknya Rp 1,91 triliun.

Selain beberapa bank yang melakukan right issue, ada dua bank lain yang menambah modal melalui skema IPO. Adapun kedua bank tersebut adalah PT BRI Syariah Tbk (BRIS). BRIS Syariah menawarkan 2,62 miliar saham baru atau 27% dari modal yang disetor penuh.

Dari aksi tersebut, perusahaan mendapatkan dana segar sebesar Rp 1,33 triliun, dan selama masa penawaran umum pada 2-3 Mei 2018, perusahaan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga dua kali dari total saham yang diberikan.

Kemudian ada PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPS) yang menawarkan 770.370.000 saham baru atau 10% dari modal yang disetor. Dari right issue tersebut, perusahaan mendapatkan dana segar sebesar Rp 751 miliar sebelum dikurangi biaya emisi saham.

Di luar bank-bank tersebut, ada PT Bank Muamalat Indonesia Tbk yang akan melakukan right issue. Namun sampai saat ini, rencana right issue bank tersebut tengah menuai polemik. Bahkan sempat dibicarakan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).


(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading