IHSG Bergejolak, Return Reksa Dana Ikut Terdampak

Market - Anastasia Arvirianty, CNBC Indonesia
24 May 2018 - 08:43
IHSG Bergejolak, Return Reksa Dana Ikut Terdampak
Jakarta, CNBC Indonesia - Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berfluktuasi cukup tinggi beberapa waktu terakhir ikut berdampak pada kinerja reksa dana, utamanya reksa dana dengan portofolio saham.

Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan penurunan return yang dialami reksa dana saham cukup bervariatif, ada yang mencapai di bawah pergerakan IHSG, tetapi ada juga yang tidak.


"Semua tergantung ke underlying asset-nya. Kalau banyak yang mengambil di saham-saham big caps [berkapitalisasi pasar besar], memang cenderung turun lebih dalam dari IHSG, tapi kalau yang alokasi big caps-nya sedikit, tidak terlalu dalam turunnya," ujar Rudiyanto kepada CNBC Indonesia saat dihubungi Rabu (23/5/2018).


Hal serupa juga dialami oleh reksa dana obligasi atau reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana campuran. Namun, Rudiyanto melihat penurunannya belum sedalam IHSG. Adapun, untuk reksa dana pasar uang, ia menilai pergerakannya cenderung tetap, akan tetapi imbal hasilnya diprediksi akan turun sampai 0,5% dibandingkan dengan tahun lalu.

"Pasar uang itu kan isinya surat utang jangka pendek. Jadi, memang pergerakannya cenderung tetap. Kondisi ini berlaku umum, untuk semua reksa dana," tuturnya.

Senada dengan Rudiyanto, Direktur PT BNI Asset Management Putut Endro Andanawarih pun mengakui kinerja reksa dana memang mengalami penurunan. Untuk itu pihaknya menerapkan pengelolaan yang lebih defensif saat ini.

"Saat ini kami lebih defensif, posisi kas sedikit dinaikkan, pilihan saham-sahamnya juga lebih konservatif, seperti saham-saham yang mendapat keuntungan dari menguatnya mata uang dolar AS," tutur Putut saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (23/5/2018).


Pengelolaan serupa juga ia terapkan untuk portofolio reksa dana lainnya. Meski saat ini ia menilai memang yang sedang menguntungkan adalah reksa dana pasar uang, bukan berarti seluruh portofolio di pasar uang akan diambil.

"Intinya sekarang lebih defensif. Sebenarnya kami sudah melakukan ini sejak dua bulan lalu, tapi memang semakin ke belakang ini semakin hati-hati karena kondisinya belum stabil," imbuh Putut.

Adapun, Rudiyanto memprediksikan kondisi ini akan berlangsung sampai pada Juni mendatang. Pasalnya, sampai pada Juni ia menilai masih banyak sentimen negatif yang akan memengaruhi kinerja IHSG, seperti kebutuhan banyak dolar AS untuk membayar dividen, kenaikan suku bunga bank sentral AS/ the Fed, dan kenaikan harga minyak dunia yang tidak disertai dengan kenaikan harga batu bara.


"Setelah Juni, semestinya kenaikan harga minyak sudah tidak terlalu tinggi dan kebutuhan dolar AS untuk bayar dividen juga sudah tidak banyak. Sehingga, diharapkan kondisi ini akan merembet ke stabilnya kinerja IHSG," pungkas Rudiyanto. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading