Newsletter

Lagu Perang Dagang Kembali Berkumandang

Market - Hidayat Setiaji & Raditya Hanung & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
03 May 2018 06:01
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan kemarin. Rilis data inflasi menjadi penyelamat IHSG, yang sebenarnya tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah. 

IHSG menguat 0,29% ke 6.012,24 poin pada perdagangan kemarin. Nilai transaksi tercatat Rp 9,2 triliun dengan volume 8,59 miliar unit saham dan frekuensi perdagangan sebanyak 500.928 kali. 

Data inflasi mampu muncul sebagai penyelamat bursa saham domestik dari koreksi ke zona merah. IHSG sebelumnya sempat mencapai titik terendah di 5.970,34. Namun, setelah data inflasi diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada pukul 11:00 WIB, IHSG mulai menipiskan koreksinya dan berhasil mengakhiri hari di teritori positif.  


Inflasi periode April adalah 0,1% MoM (3,41% YoY), lebih rendah dibandingkan konsensus yang dihimpun oleh CNBC Indonesia yang sebesar 0,14% MoM (3,49% YoY). Inflasi yang lebih rendah dari perkiraan ini nampak melegakan investor. 

Secara sektoral, sektor jasa keuangan menjadi kontributor terbesar bagi penguatan IHSG. Sektor ini ditutup naik 1,06% dan berkontribusi sebesar 18,2 poin bagi total kenaikan IHSG yang sebesar 17,6 poin. 

Di sisi lain, penguatan IHSG tertahan oleh kembali melemahnya rupiah. Sampai akhir perdagangan IHSG, rupiah terdepresiasi 0,25% ke Rp 13.945/US$. Bahkan, rupiah sempat mencapai titik terlemahnya di Rp 13,960/US$. 

Merespons pelemahan rupiah, investor asing kembali melakukan aksi jual bersih sebesar Rp 511,66 miliar. Saham-saham yang paling banyak dilepas investor asing di antaranya UNTR (Rp 132,9 miliar), ADRO (Rp 110,3 miliar), BBRI (Rp 51,2 miliar), TLKM (Rp 33,2 miliar), dan HMSP (Rp 30,9 miliar). 

IHSG cukup beruntung karena bursa saham kawasan tidak mampu melepaskan diri dari koreksi. Indeks Nikkei 225 turun 0,16%, SSEC melemah 0,03%, Hang Seng terkoreksi 0,27%, Kospi berkurang 0,39%, dan KLCI minus 0,98%. 

Pasar saham regional nampaknya masih cenderung mewaspadai kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat (ASS). Investor memperkirakan tahun ini akan ada tiga kali kenaikan suku bunga, tetapi jika ancaman inflasi semakin nyata maka kenaikan lebih dari itu bukan hal yang tidak mungkin. 

Sebagai catatan, potensi inflasi AS memang berpotensi terakselerasi dalam bulan-bulan ke depan. Potensi ini muncul setelah kenaikan biaya pengadaan bahan baku, salah satunya akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan bea masuk untuk baja dan aluminium.
Wall Street Tertekan Isu Perang Dagang
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading