Special Research

Mengukur Energi Positif Kinerja Saham Bank BTN

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
02 May 2018 16:30
Rata-rata saham perbankan sepanjang tahun ini menunjukkan tren pergerakan yang sama setahun terakhir (per 30 April), yakni penguatan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Anjloknya rupiah menembus level 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS) sempat melempar indeks harga saham gabungan (IHSG) ke bawah level psikologis 6.000. Saham-saham bank pun berguguran, tak terkecuali PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Namun sentimen negatif pelemahan pasar itu mereda setelah Bank Indonesia (BI) menyatakan tak ragu menaikkan suku bunga di tengah tren pembalikan modal asing. Situasi ini memberi ruang bagi saham perbankan untuk kembali melanjutkan penguatan.

Rata-rata saham perbankan sepanjang tahun ini menunjukkan tren pergerakan yang sama setahun terakhir (per 30 April), yakni penguatan. Saham BBTN memimpin dengan kenaikan 35,65%. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) di posisi kedua dengan kenaikan 24,51%, diikuti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kenaikan 22,99%, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar 21,2%.


Artinya, jika anda setahun yang lalu membeli saham BBTN dengan modal Rp 100 juta, maka kemarin anda bisa menjualnya dengan keuntungan (return) sebesar 35,6%. Uang anda bertambah Rp 35,6 juta menjadi Rp 135,6 juta. Hanya dalam setahun!

Mengukur Energi Positif Kinerja Saham Bank BTNFoto: Riset CNBC Indonesia


Bagi saham BBTN, kembalinya sentimen positif pasar berpeluang menaikkan kembali (rebound) harganya di pasar dari level Rp 3.110 per unit menuju rekor tertingginya yang dicetak pada 19 Februari di level Rp 3.840 per saham.

Level tertinggi tersebut dicapai jelang rilis data BI yang menyebutkan kredit perbankan (dalam rupiah dan kurs asing) naik Rp 360 triliun (sebesar 8,24%) ke Rp 4.737,94 triliun pada Desember 2017, dari Rp 4,377,19 triliun (Desember 2016). Jika dibandingkan dengan posisi November, angka itu naik 2,89% senilai Rp 4.605,08 triliun.

Di antara empat bank BUMN, saham BBTN memang terhitung mendapatkan momentum kenaikan paling istimewa karena pada kuartal I-2018, perusahaan yang dipimpin oleh Maryono tersebut membukukan lompatan aset tertinggi, hingga menggeser posisi PT Bank CIMB Niaga Tbk sebagai bank terbesar kelima di Indonesia dari sisi aset.

Bank yang dikendalikan CIMB Group asal Malaysia tersebut mencatat total aset secara konsolidasi senilai Rp257,51 triliun, meningkat 8,72%% dibandingkan dengan setahun lalu yang tercatat Rp 236,86 triliun.

Sementara itu, BTN yang telah mempublikasikan laporan keuangan kuartal I/2018 pekan lalu memiliki total aset lebih tinggi yakni, Rp 258,74 triliun. Bank yang fokus pada kredit perumahaan ini mencatat kenaikan aset 20,73%, dari setahun sebelumnya Rp 214,31 triliun.

Sentimen Positif Tersembunyi

Pendorong kinerja positif BTN awal tahun ini bisa ditemukan di kinerja intermediasi keuangan yang terpotret dari statistik perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pada Februari, bank-bank membukukan penyaluran kredit senilai Rp 4.662,34 triliun, naik Rp 354,26 triliun dalam setahun atau sebesar 8,22%, dari Rp 4.308,08 triliun (Februari 2016).

Meski tidak mencapai digit ganda (double digit), kenaikan tersebut mengindikasikan bahwa perbankan masih memiliki celah mengucurkan kreditnya. Kredit produktif (kredit modal kerja) masih dominan, yakni sebesar Rp 2.137,84 triliun, disusul kredit konsumer Rp 1.345,69 triliun.

Mengukur Energi Positif Kinerja Saham Bank BTNFoto: Riset CNBC Indonesia


Sebagai bank milik pemerintah yang fokus mengucurkan kredit ke sektor properti, BTN mencatatkan sedikit keunggulan sepanjang setahun terakhir, terlihat dari tingginya pertumbuhan segmen pembiayaan rumah susun (apartemen) dan rumah tapak sampai dengan Februari, masing-masing sebesar 26,25% dan 11,81%.

Sampai dengan Maret, penyaluran kredit BTN naik 19,34% (year-on-year/ YoY), atau dua kali lipat di atas industri. Terakhir per Februari, kredit perbankan tumbuh rata-rata sebesar 8,3%. Kenaikan tersebut terjadi di tengah dominannya keterlibatan bank tersebut dalam rumah subsidi (program Sejuta Rumah).

Pertumbuhan Kredit Konsumer
PosPertumbuhan (%)
Rumah Susun26,25
Peralatan Rumah Tangga15,49
Rumah Tapak11,81
Otomotif7,99
Rumah Toko-1,77
Sumber: OJK


Dalam paparan perseroan, yang disampaikan dalam Analyst Meeting baru-baru ini, permintaan kredit perumahan rakyat (KPR) subsidi sebesar 32,96% secara tahunan. Dengan berbekal kinerja tersebut, perseroan mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar KPR dengan menguasai 37,3% kredit properti yang terkucur.

Secara bersamaan, kinerja positif itu diraih tanpa mengorbankan aspek prudensial (kehati-hatian). Kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) perseroan tercatat hanya di level 2,78%,atau jauh lebih baik dari posisi Maret setahun yang lalu pada 3,34%.

Kenaikan kinerja yang dibukukan BTN tersebut secara fundamental memiliki landasan yang valid. Indeks Harga Properti Residensial pada kuartal IV-2017 memang tercatat naik secara triwulanan dari 0,5% menjadi 0,55%. Secara tahunan, angka tersebut tumbuh dari 3,32% menjadi 3,5%.

Namun pada periode yang sama, penjualan properti masih tumbuh, yakni sebesar 3,05% dibandingkan dengan 2,58% pada kuartal III-2017. Ini menandakan bahwa permintaan rumah, sebagai kebutuhan pokok masyarakat, masih tumbuh meski menghadapi tantangan.

Karenanya, tidak heran jika sepanjang bulan April, perusahaan-perusahaan sekuritas nasional dan asing menilai harga saham BTN masih berpeluang menguat. Berdasarkan laporan riset terbaru (per April) 10 sekuritas yang dikompilasi oleh tim riset CNBC Indonesia, 60% di antaranya merekomendasikan beli, 40% merekomendasikan tahan, dan tak ada satupun yang merekomendasikan jual saham BBTN.

Rekomendasi Saham BBTN dari 10 Sekuritas
SekuritasRekomendasi
Bahana SecuritiesBUY
BCA SekuritasBUY
Ciptadana SecuritiesBUY
Daiwa CapitalBUY
Danareksa SekuritasBUY
Indo PremiereBUY
Kresna SecuritiesHOLD
OCBC SekuritasHOLD
NH KorindoHOLD
Samuel SekuritasHOLD
Sumber: Riset CNBC Indonesia


Bahana Securities dan Daiwa Capital dalam laporan risetnya merekomendasikan beli saham BBTN dengan target harga Rp 4.500. Broker pelat merah ini menilai harga saham BBTN pada level Rp 3.660 masih menarik karena setara dengan 1,6 kali rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/ PBV) tahun depan.

Danareksa Sekuritas dalam laporan risetnya juga merekomendasikan beli saham BBTN dengan target harga Rp 4.200 per unit. Target tersebut mengimplikasikan 1,8 kali dari PBV 2018. Namun, perusahaan sekuritas itu juga menyoroti pentingnya upaya mendongkrak modal, dengan capital adequacy ratio (CAR) yang melemah 17,9% pada Maret 2018. Sejauh ini perseroan telah menyiapkan emisi obligasi subordinasi.

Di sisi lain, Ciptadana merekomendasikan beli dengan target harga saham Rp 4.250, setara dengan 1,8 kali PBV tahun ini. "Kami percaya target harga ini berdasar karena BBTN secara historis diperdagangkan pada level 1,8 kali -1,9 kali PBV ke depan, ketika ROE berada di level 16%," tutur analis Ciptadana Erni Marsella Siahaan.

Rekomendasi-rekomendasi perusahaan sekuritas tersebut menunjukkan bahwa secara fundamental kinerja BTN masih memberikan dasar bagi penguatan kinerja ke depannya. Terlebih, KPR merupakan kredit yang bersifat defensif di mana pelemahan ekonomi tidak lantas membuat masyarakat menghentikan KPR mereka.

Tidak ada alasan penurunan kinerja perbankan, termasuk BTN, selama kondisi ekonomi makro dan moneter masih stabil. Apalagi BI pada Kamis (26/4) menyatakan tidak akan ragu menaikkan suku bunga acuan (7-day reverse repo rate) untuk menjaga kestabilan moneter nasional, menahan kurs rupiah di tengah tren pembalikan modal (capital outflow).

TIM RISET CNBC INDONESIA


(dru/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading