Masih Dibayangi Sanksi Iran, Harga Minyak Kembali Menguat

Market - Raditya Hanung Prakoswa, CNBC Indonesia
02 May 2018 10:56
Masih Dibayangi Sanksi Iran, Harga Minyak Kembali Menguat
Jakarta, CNBC IndonesiaHarga minyak bergerak menguat pagi ini, masih didorong oleh kekhawatiran bahwa Amerika Serikat (AS) akan menerapkan sanksi baru kepada Iran. Namun, penguatan sang emas hitam masih terbatas oleh melonjaknya cadangan minyak mentah Negeri Paman Sam.

Hingga pukul 10.00 WIB hari ini, harga minyak jenis Light Sweet untuk kontrak pengiriman Juni 2018 bergerak menguat 0,39% ke US$67,51/barel, sementara Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2018 naik 0,14% ke US$73,23/barel.

Masih Dibayangi Sanksi Iran, Harga Minyak Kembali MenguatFoto: Raditya Hanung



Sebagai catatan, pagi ini harga minyak mampu rebound, setelah kemarin terkoreksi cukup dalam. Brent bahkan anjlok nyaris 3% pada penutupan perdagangan kemarin. Adalah penguatan dolar secara signifikan yang menekan harga minyak sehari lalu.

Dollar Index, yang mencerminkan posisi dolar AS terhadap enam mata uang utama, menguat sampai 0,67% kemarin. Harga minyak punya hubungan yang berbanding terbalik dengan pergerakan dolar AS, karena menguatnya mata uang Negeri Paman Sam akan membuat harga minyak menjadi relatif lebih mahal, dan akhirnya menekan permintaan sang emas hitam.
 
Penguatan greenback terjadi sebagai respons menanti keputusan suku bunga acuan AS yang diumumkan pada besok pukul 01.00 WIB.

Selain itu, penurunan harga minyak juga dipicu oleh kenaikan cadangan AS. American Petroleum Institute mencatat stok minyak AS pekan lalu naik 3,4 juta barel menjadi 432,57 juta barel. Melimpahnya pasokan di AS tentu mempengaruhi harga minyak dunia karena posisi Negeri Paman Sam sebagai salah satu produsen dan eksportir emas hitam utama.

Data resmi dari US Energy Information Administration akan diumumkan pada malam ini pukul 21.30 WIB. 

Penguatan harga minyak hari ini masih didorong oleh kekhawatiran akan terancamnya kesepakatan nuklir Iran yang dibuat pada 2015 oleh pemerintahan mantan Presiden AS Barack Obama, bersama-sama dengan China, Prancis, Jerman, Rusia, dan Inggris.

Sebagai informasi, pasca kesepakatan nuklir tersebut, sansi ekonomi terhadap Iran pun dihapuskan, dengan catatan Iran harus membatasi program nuklirnya. Alhasil, per Januari 2016, Iran pun kembali menjadi salah satu eksportir minyak mentah utama dunia.

Sepanjang April 2018, ekspor minyak mentah Iran bahkan mencapai 2,6 juta barel per hari (bph), rekor tertinggi sejak Iran bebas dari sanksi. China dan India menjadi importir utama bagi minyak mentah asal Negeri Persia tersebut.

Namun, Presiden AS Donald Trump secara tegas menyatakan keraguan akan keseriusan Iran dalam membatasi program nuklirnya. Mantan taipan properti tersebut lantas mengancam akan keluar dari kesepakatan 3 tahun silam, dan menerapkan sanksi baru pada Iran.

Trump akan mengumumkan keputusannya terkait Iran pada 12 Mei mendatang. Apabila akhirnya AS menerapkan sanksi baru kepada Iran, maka pastinya gerak ekonomi Negeri Persia akan kembali terbatas, termasuk terganggunya produksi dan distribusi minyak mentah. Persepsi ini lantas menyokong kuatnya harga minyak.

Terlebih pada hari Senin (30/4) waktu setempat, PM Israel Benjamin Netanyahu ikut-ikutan memanaskan "tungku" tensi geopolitik Iran-AS. Kantor pemerintahan Netanyahu awalnya dijadwalkan untuk memberikan pernyataan terkait "perkembangan signifikan"dari kesepakatan nuklir Iran, namun ternyata secara mengejutkan memaparkan sejumlah bukti dari keseriusan Iran dalam membangun persenjataan nuklir.

Namun demikian, sekumpulan data Netanyahu sebenarnya tidak mengungkap fakta baru, di mana keseluruhan isi dokumen tersebut telah diketahui oleh para diplomat yang terlibat dalam negosiasi kesepakatan nuklir Iran pada 2015 lalu.

Tindakan PM Israel tersebut nampaknya dilakukan untuk memberikan "dorongan" pada Presiden AS Donald Trump untuk keluar dari kesepakatan nuklir Iran, dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi pada Negeri Persia.
(RHG/RHG)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading