Perang Dagang Memanas, Investor Buru Emas, Yen, dan Franc

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
04 April 2018 18:10
Tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China semakin panas membuat investor mulai mengincar instrumen safe haven.
Jakarta, CNBC Indonesia - Tensi perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China semakin panas. Investor pun bersiap mencari selamat masing-masing dengan mengarahkan dana ke instrumen aman alias safe haven.

Hari ini, pemerintah China resmi mengenakan bea masuk baru terhadap 106 produk AS termasuk kedelai. Ini merupakan kali kedua, di mana sebelumnya China telah membebankan bea masuk kepada 128 produk AS di antara daging babi, anggur (wine), dan buah-buahan. 

[Gambas:Video CNBC]


Kebijakan China merupakan respons atas langkah AS yang terlebih dulu menerapkan bea masuk bagi baja dan aluminium. Ditambah lagi AS berencana mengenakan bea masuk kepada 1.300 produk China atas nama perlindungan hak kekayaan intelektual.

Perang dagang yang melibatkan dua perekonomian terbesar di muka bumi menyebabkan dampaknya menyebar ke seluruh negara. Ekspor AS maupun China akan terhambat, sehingga industri dalam negeri mereka mungkin akan mengurangi produksi. Permintaan bahan baku dan barang modal dari berbagai negara akan ikut berkurang, artinya perdagangan dunia akan melambat. 

Masalah di sektor perdagangan akan merambat ke sektor keuangan. Bursa saham berguguran dan harga obligasi anjlok. Saat itulah investor membutuhkan pelarian.

Investor butuh instrumen yang menawarkan stabilitas dan tidak membuat uang mereka 'hangus'. Ini menjadi fungsi safe haven, menjamin dana investor relatif aman.
 

Ada beberapa instrumen yang dianggap sebagai safe haven dalam situasi penuh gejolak. Namun umumnya ada tiga yaitu emas, yen Jepang, dan franc Swiss. 

Emas merupakan instrumen lindung nilai alami. Tidak seperti uang, emas eksis dalam jumlah terbatas. Harga emas tidak tergantung dari suku bunga atau kebijakan pemerintah. 

Mengantisipasi risiko perang dagang, sepertinya minat investor terhadap logam mulia sudah mulai meningkat. Pada pukul 17.30 WIB, harga emas dunia naik 0,83% ke US$ 1.342,84/troy ons. 

Perang Dagang Memanas, Investor Buru Emas, Yen, dan FrancReuters
Berikutnya adalah yen Jepang. Mata uang Negeri Matahari Terbit ini merupakan salah satu yang paling stabil di dunia. Ini karena Jepang mencatat surplus dalam perdagangan dan transaksi berjalan, sehingga pasokan devisa terus mengalir lancar. 

Selain itu, kepercayaan investor kepada perekonomian Jepang juga tinggi meski utang publik di sana mencapai level 200% dari Produk Domestik Bruto. Ini karena sebagian utang Jepang adalah kepada warga negaranya sendiri, sehingga tidak mudah keluar-masuk pasar seperti investor asing. 

Status yen Jepang sebagai safe haven sudah terlihat dengan penguatan yang terjadi sore ini. Minat investor yang tinggi membuat yen terapresiasi 0,52% terhadap dolar AS. 

Perang Dagang Memanas, Investor Buru Emas, Yen, dan FrancReuters
Namun, status yen sebagai safe haven membuat Jepang sendiri pusing. Pasalnya penguatan yen membuat ekspor Jepang terancam. Apresiasi kurs memang berkorelasi negatif terhadap kinerja ekspor. 

Ini terlihat pada survey Tankan yang dilaksanakan Bank Sentral Jepang (BoJ) untuk mengukur tingkat kepercayaan atau optimisme pelaku usaha. Pada Maret, indeks Tankan bernilai 28. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 29, dan pada Januari bahkan nilainya masih 35. 

Salah satu penyebab di balik penurunan optimisme pebisnis adalah penguatan yen Jepang. Sejak awal tahun, yen sudah menguat 5,7%. Penguatan yang cepat ini dikhawatirkan menciderai ekspor Jepang. 

Terbukti ekspor Jepang pada Februari hanya tumbuh 1,8%. Jauh melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 12,3%. 

Perang Dagang Memanas, Investor Buru Emas, Yen, dan FrancReuters
Kemudian franc Swiss. Sudah lama mata uang ini menggenggam predikat sebagai safe haven, tidak lepas dari kondisi domestik Swiss. 

Negeri Coklat ini punya pemerintahan yang stabil dan tidak ada pengangguran di sana. Industri keuangan Swiss juga sangat kuat dan aman, dengan volatilitas pasar modal yang sangat minim.

Secara perdagangan, Swiss juga mencatat surplus. Swiss tidak tergabung dalam Uni Eropa sehingga gejolak politik, sosial, dan ekonomi di Zona Euro tidak banyak berpengaruh.
 

Berbagai hal ini membuat Swiss menjadi tujuan kala terjadi gejolak perekonomian global. Franc Swiss pun menjadi salah satu instrumen safe haven. 

Di tengah hawa perang dagang, sepertinya investor sudah mulai melirik mata uang ini. Franc Swiss menguat 0,01% terhadap greenback. 

Perang Dagang Memanas, Investor Buru Emas, Yen, dan FrancReuters

TIM RISET CNBC INDONESIA
(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading