Catat! Safe Haven Baru Selain Emas: Yen dan Franc

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
27 August 2019 06:21
Investor yang dominan memegang dolar AS sebagai salah satu instrumen safe haven mulai ditinggalkan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Volatilitas dolar AS makin tidak jelas setelah perang dagang antara AS dan China yang berkepanjangan. Investor yang dominan memegang dolar AS sebagai salah satu instrumen safe haven mulai ditinggalkan.

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan ketidakpastian pasar keuangan global yang berlanjut ini mendorong pergeseran penempatan dana global ke aset yang dianggap aman seperti komoditas emas.

Ternyata, ada lagi instrumen yang saat ini dianggap sebagai safe haven. Adalah Yen (Jepang) dan Franc (Swiss).



"Risk off yang dipicu full blown trade war ini kembali memicu aksi flight to quality sehingga yield US Treasury Bond turun tajam ke 1,48% dan mendorong penguatan tajam nilai tukar safe haven seperti JPY (Yen) dan CHF (Franc)," kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah, Selasa (27/8/2019).

Menurut Nanang, memanasnya suhu perang dagang di akhir pekan lalu seolah memupus harapan pasar global yang berharap ada angin segar dari symposium Jackson Hole. Di mana menguatkan ekspektasi bahwa the Fed Chairman, Jerome Powell di Jackson Hole akan memberikan komitmen mengambil langkah yang sudah dinantikan yaitu memangkas suku bunga pada FOMC berikutya.

Kenapa Yen dan Franc?

Mata uang yen Jepang dianggap sebagai salah satu aset safe haven karena status Jepang memiliki suplus current account yang besar sehingga memberikan jaminan stabilitas bagi mata uangnya.


Selain itu Negeri Matahari Terbit merupakan negara kreditur terbesar di dunia. Berdasarkan data Kementerian Keuangan Jepang yang dikutip CNBC International, jumlah aset asing yang dimiliki pemerintah, swasta, dan individual Jepang mencapai US$ 3,1 triliun di tahun 2018. Status tersebut mampu dipertahankan dalam 28 tahun berturut-turut.

Jumlah kepemilikan aset asing oleh Jepang bahkan 1,3 kali lebih banyak dari Jerman yang menduduki peringkat kedua negara kreditur terbesar di dunia.

Saat terjadi gejolak di pasar finansial seperti saat ini, para investor asal Jepang akan merepatriasi dananya di luar negeri, sehingga arus modal kembali masuk ke Negeri Matahari Terbit tersebut, dan yen menjadi menguat.

Bukti yen dianggap sebagai mata uang safe haven terlihat dari pergerakannya di bulan Agustus saat terjadi eskalasi perang dagang AS-China. Sepanjang bulan Agustus yen sudah menguat 2,5% melawan dolar AS, sementara sejak awal tahun menguat 3,2%.

Terhadap rupiah, yen sepanjang bulan Agustus menguat 4,13% dan sepanjang tahun sebesar 2,5%.

Sementara itu franc juga dianggap sebagai aset safe haven karena stabilitas pemerintahan dan sistem finansial yang dimiliki Swiss, mengutip investopedia.com. Swiss juga memiliki tingkat inflasi yang stabil, serta para investor memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kredibilitas bank sentral Swiss (Swiss National Bank/SNB).

Hasil studi para ekonom Deutche Bank menunjukkan dalam rentang Maret 1986 sampai September 2012 menunjukkan franc cenderung menguat ketika bursa saham global anjlok serta terjadi finansial stress. Namun, ketika kondisi finansial global relatif stabil, pergerakan franc dipengaruhi faktor fundamental lain seperti inflasi di Swiss. Sehingga para ekonom yang melakukan studi tersebut menyimpulkan franc menjadi aset safe haven saat terjadi gejolak di pasar finansial.

Sejak awal Agustus ketika AS mengenakan tarif impor baru ke China sehingga terjadi gejolak di pasar finansial, franc menguat 1,44% melawan dolar AS. Sementara jika dilihat sejak awal tahun, franc hanya menguat 0,09%, dimana sebelum Agustus pasar finansial masih relatif stabil.

Hal yang sama terjadi dengan kurs franc melawan rupiah, sepanjang bulan Agustus franc menguat 3% melawan Mata Uang Garuda, sementara jika dilihat dari awal tahun malah melemah 0,6%.

[Gambas:Video CNBC]


(pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading