Newsletter

Perang Dagang Masih Jadi Perhatian

Market - Hidayat Setiaji & Raditya Hanung & Anthony Kevin, CNBC Indonesia
26 March 2018 05:59
IHSG bergerak melemah pekan lalu. Bagaimana dengan perdagangan hari ini?
  • IHSG ditutup 'merah' pada akhir pekan lalu.
  • Bursa utama Asia mayoritas terkoreksi.
  • Wall Street melemah pada akhir pekan lalu, yang bisa menjadi sentimen negatif di Asia pada hari ini. 
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah akhir pekan lalu. Sentimen perang dagang masih membayangi pelaku pasar, berita yang mungkin masih menjadi perhatian hari ini. 

IHSG ditutup melemah 0,69% ke 6.210,7 poin pada perdagangan akhir pekan lalu. Sementara selama sepekan,IHSG terkoreksi 1,49%. Koreksi tersebut menyebabkan kapitalisasi pasar turun 1,5% dibandingkan pekan sebelumnya menjadi Rp 6.908,34 triliun. 

Rata-rata nilai transaksi saham harian sepanjang pekan lalu turun 2,92% menjadi Rp 8,64 triliun. Sedangkan rata-rata volume transaksi saham harian naik 1,13% menjadi 11,17 miliar unit saham dari 11,05 miliar unit saham pada pekan lalu, dan rata-rata frekuensi transaksi harian turun 1,74% ke posisi 364,93 ribu kali. 


Investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih sepanjang pekan lalu dengan nilai Rp 3,75 triliun. Sepanjang tahun ini, investor asing telah membukukan jual bersih senilai Rp 21,04 triliun. 

Pelaku pasar nampak masih menghindari aset-aset beresiko setelah pertemuan the Federal Reserve yang bisa dibilang mengecewakan. Pasalnya, kenaikan suku bunga acuan sebanyak empat kali pada tahun masih terbuka meski samar-samar. Belum lagi pengetatan pada 2019 dan 2020 yang diproyeksikan akan bertambah setidaknya satu kali dari yang sudah ditetapkan sebelumnya. 

Kini, kenaikan suku bunga acuan 2019 diproyeksikan menjadi tiga kali (dari sebelumnya dua kali), serta kenaikan suku bunga 2020 diperkirakan dua kali (dari yang sebelumnya sekali). Pelaku pasar nampak belum memperhitungkan hal ini sebelumnya, sehingga aksi jual terjadi dalam skala yang besar. 

Kemudian, potensi perang dagang dalam skala global kembali mencuat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani kebijakan pengenaan bea masuk yang menargetkan produk asal China senilai hingga US$ 60 miliar atau sekitar Rp 824 triliun. Kebijakan itu dimaksudkan untuk 'menghukum' China atas praktik perdagangan yang disebut oleh pemerintahan Trump mencuri hak kekayaan intelektual.

Sebenarnya, kabar mengenai kebijakan ini sudah lama berhembus. Namun, ada satu hal khusus yang membuat pelaku pasar begitu gusar, yaitu sikap pemerintah China yang bergerak cepat dalam menyiapkan aksi balasan.
 

Pemerintah China mempublikasikan daftar 128 produk AS yang berpotensi menjadi target tindakan balasan, termasuk daging babi, anggur (wine), buah-buahan, dan baja. Barang-barang tersebut bernilai sekitar US$ 3 miliar. Bea masuk 25% akan dikenakan pada daging babi sementara buah kering dan segar akan dikenakan tarif 15%. 

Tingginya tensi perang dagang antara AS dan China tersebut juga membebani bursa regional. Pada akhir pekan lalu, indeks Hang Seng ditutup melemah 2,45%, SSEC terkoreksi 3,38%, Kospi turun 3,18%, Strait Times berkurang 2%, dan Nikkei 225 anjlok 4,51%.
Wall Street Catatkan PerformaTerburuk Sejak Januari 2016
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2 3 4
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading