Aturan Registrasi Prepaid Ancam Pendapatan XL Tahun Ini

Market - Shuliya Ratanavara, CNBC Indonesia
02 February 2018 14:53
Aturan Registrasi Prepaid Ancam Pendapatan XL Tahun Ini
Jakarta, CNBC Indonesia – Penerapan aturan registrasi kartu prabayar oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi dapat mengancam pendapatan perusahaan telekomunikasi tahun ini, termasuk PT XL Axiata Tbk (EXCL).

Direktur Keuangan XL Mohamed Adlan menjelaskan hal tersebut terjadi di negara-negara lain yang sudah menetapkan aturan serupa. “Kita lihat di banyak negara, sperti Thailand yang sudah menerapkan prepaid registration pertumbuhan industrinya jatuh. Saya tidak bilang negatif, tapi melambat,” kata Adlan di XL Axiata Tower, Jumat (02/02/2018).

Namun, menurut dia signifikansi penerapan aturan tersebut di Indonesia terhadap pendapatan perseroan juga bergantung kepada bagaimana pemerintah mengetatkan penetapan aturan. Jika pemerintah dengan ketat langsung mematikan kartu-kartu prabayar yang belum teregistrasi sampai tenggat waktu yaitu 28 Februari 2018, maka hal itu dapat berpengaruh signifikan terhadap pendapatan tahun ini.


“Pengaruhnya tergantung enforcementnya gimana. Kalau sampai deadline belum diregistrasi dimatiin. So revenuenya loss. Jadi itu tergantung pada enforcement kalau ketat banget pasti jatuhlah revenue industri,” jelasnya.

Namun, ia juga menjelaskan dampak dari penerapan aturan registrasi kartu prabayar tersebut biasanya tercermin dalam kinerja keuangan dalam satu tahun terakhir. Sementara, setelahnya Adlan mengatakan pendapatan akan tumbuh kembali normal.

Malah dalam jangka panjang, Adlan mengatakan penerapan aturan registrasi prabayar juga dapat meningkatkan marjin perusahaan. Sebab, dengan registrasi tersebut perseroan mendapatkan pengguna tetap. “Bukan (pengguna) rotational, definetely margin semakin improve,” jelas Adlan.

Luar Jawa
XL Axiata juga akan menyiapkan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp 7 triliun untuk mengembankan bisnis di luar Pulau Jawa tahun ini.

Perseroan berencana akan membangun sekitar 7.650 Base Transceiver Station (BTS) di luar Pulau Jawa atau 45% dari total BTS baru yang akan dibangun oleh perseroan sekitar 17.000 unit.

Hal tersebut disampaikan Direktur Utama XL Dian Siswarini dalam paparan publik perseroan di XL Axiata Tower. Dian menjelaskan hal ini dilakukan XL karena perseroan melihat potensi pasar yang belum digarap dengan maksimal.

“Saturasi itu sudah tinggi di Pulau Jawa makanya kita investasi di luar karena kesempatan untuk mendampatkan market share nya lebih besar. Sekarang kan yang dominan di luar cuma satu,” kata Dian.

Direktur Keuangan XL Mohamed Adlan mengatakan saat ini market share perseroan untuk jaringan di luar Pulau Jawa baru mencapai kisaran 11%-15% (low teens).



Untuk total pembangunan BTS perseroan sudah menyiapkan anggaran belanja modal sebesar Rp 7 triliun. Hampir seluruhnya atau 90% dari dana tersebut akan digunakan perseroan untuk membangun jaringan dan mengembangkan IT. Sementara 10% sisanya akan digunakan untuk pengembangan awal televisi berbayar oleh perseroan.

Tahun 2017 sebenarnya bukan tahun pertama perseroan memfokuskan pengembangan bisnisnya di luar Pulau Jawa. Adlan menjelaskan hal ini sudah dilakukan perseroan sejak 2016. Ia mengatakan hasilnya terjadi peningkatan pendapatan dari luar Pulau Jawa sebear 49%.

Meskipun, memang kontribusinya untuk pendapatan perseroan secara keseluruhan masih sangat kecil yaitu berada di kisaran 6-9%. “Ya middle to high single digit-lah,” kata Adlan.
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading