Peserta Marathon Meninggal Mendadak di Dekat Garis Finis

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
04 November 2026 14:30
Rachel Apa. (Dok. Istimewa)
Foto: (Dok. Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang wanita berusia 24 tahun meninggal dunia setelah pingsan menjelang garis finis ajang New York City Marathon di Amerika Serikat, Minggu (1/11/2026). Korban diketahui merupakan mantan atlet perguruan tinggi yang memiliki kondisi fisik prima.

Wanita bernama Rachel Apa itu tiba-tiba kehilangan kesadaran saat berlari di kawasan Central Park, sekitar dua mil atau 3,2 kilometer sebelum garis finis. Padahal, ajang tersebut merupakan pengalaman pertamanya mengikuti lomba maraton.

Melansir The Guardian, Rabu (4/11/2026), ayah Rachel, Steve Apa, mengatakan putrinya meninggal akibat rhabdomyolysis atau rabdomiolisis, yakni kondisi serius ketika jaringan otot mengalami kerusakan dan melepaskan zat dari dalam sel otot ke aliran darah. Kondisi ini dapat dipicu oleh aktivitas fisik yang sangat berat.

Steve mengungkapkan, putrinya sebelumnya aktif bermain hoki lapangan semasa kuliah dan dikenal memiliki kondisi kesehatan yang sangat baik.

"Kesehatannya sempurna, kondisi fisiknya sempurna," ujar Steve.

Rachel yang berasal dari Lewisberry, Pennsylvania, mengikuti maraton tersebut sebagai bagian dari tim Parkinson's Champions. Keikutsertaannya dilakukan untuk mengenang mendiang kakeknya yang pernah menderita penyakit Parkinson.

Pada hari perlombaan, kedua orang tuanya, Steve dan Michelle Apa, turut hadir untuk memberikan dukungan. Michelle bahkan sempat merekam putrinya yang terlihat tersenyum ketika mencapai mil ke-14 atau sekitar kilometer 22,5.

Namun, kondisi Rachel mulai menunjukkan tanda-tanda tidak biasa beberapa kilometer kemudian. Saat mencapai mil ke-18 atau sekitar kilometer 29, Rachel mengirim pesan singkat kepada ayahnya yang berbunyi "Ow", ungkapan rasa sakit dalam bahasa Inggris.

Satu mil kemudian, ia kembali mengirim pesan bertuliskan "Ow, ow", yang mengisyaratkan bahwa dirinya masih merasakan sakit. Ketika Rachel mencapai mil ke-23 atau sekitar kilometer 37, Steve mengirim pesan penyemangat bertuliskan "final stretch" atau tahapan terakhir menuju garis finis. Namun, pesan tersebut tidak mendapatkan balasan.

Tak lama kemudian, Rachel dilaporkan pingsan di lintasan maraton. Seorang warga yang berada di lokasi segera memberikan pertolongan pertama berupa resusitasi jantung paru (CPR). Petugas medis perlombaan kemudian menggunakan defibrilator untuk memberikan kejutan listrik pada jantung sebelum membawanya ke Mount Sinai Medical Center.

Tim dokter berupaya menyelamatkan nyawanya, tetapi Rachel akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.40 waktu setempat.

"Sulit dipercaya," kata Steve menggambarkan kehilangan putrinya.

Rachel diketahui baru saja memulai pendidikan magister administrasi bisnis atau MBA di Charleston Southern University. Penyelenggara New York City Marathon, New York Road Runners, turut menyampaikan belasungkawa atas kejadian tersebut.

"Kami sangat berduka atas meninggalnya salah satu pelari kami setelah perlombaan kemarin," demikian pernyataan New York Road Runners.

"Pikiran dan simpati tulus kami menyertai keluarga, teman-teman, serta seluruh komunitas pelari," lanjutnya.

Menurut pihak penyelenggara, insiden kematian peserta akibat kondisi medis dalam ajang New York City Marathon terakhir kali terjadi pada 2024.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Jarak Marathon 42,195 KM, Kenapa Tak Dibulatkan Jadi 42 KM?


Most Popular
Features