Dokter Jantung Ungkap Risiko Ikut Marathon, Waspadai Gangguan Aritmia

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
14 September 2026 11:45
dok Istimewa
Foto: Ilustrasi jantung. (Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ajang lari half marathon (HM) hingga full marathon (FM) semakin diminati masyarakat. Di balik manfaat olahraga dan keseruan mencapai garis finis, peserta tetap perlu memahami risiko kesehatan yang dapat muncul, salah satunya gangguan irama jantung atau aritmia.



Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Konsultan Kardiologi Intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K) mengingatkan, aktivitas lari jarak jauh membuat jantung bekerja dalam intensitas tinggi dalam waktu yang cukup lama. Bobby bilang, ketika seseorang berlari dalam waktu lama dengan frekuensi jantung tinggi, kadar hormon adrenalin dapat meningkat pesat.

Pada orang yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan irama jantung, kondisi tersebut dapat memicu aritmia dengan tingkat keparahan yang beragam.

"Banyak yang post serunya ikut half atau full marathon, tapi sedikit yang angkat kalau kalian ikut event ini kalian berisiko untuk alami gangguan irama jantung," tulis Bobby melalui akun Threads pribadinya @dr.bobbyjantung, dikutip Senin (14/9/2026).

Ia menjelaskan, gangguan yang muncul dapat berkisar dari kontraksi prematur atau premature contraction hingga fibrilasi atrium atau atrial fibrillation. Risiko lainnya berkaitan dengan banyaknya cairan dan elektrolit yang hilang melalui keringat selama berlari.

Kekurangan elektrolit seperti natrium dan kalium yang tidak segera diganti dapat mempengaruhi sistem kelistrikan jantung. Bobby menjelaskan, sistem kelistrikan jantung sensitif terhadap naik turunnya kadar elektrolit dalam tubuh. Selain itu, kehilangan cairan yang tidak diimbangi dengan rehidrasi juga dapat memperberat kerja jantung.

Bobby juga menyoroti orang yang secara rutin melakukan olahraga ketahanan atau endurance pada level atlet. Dalam kondisi tertentu, aktivitas tersebut dapat menyebabkan perubahan struktur jantung, seperti pembesaran dan fibrosis atrium.

Meski demikian, bukan berarti masyarakat harus menganggap marathon sebagai olahraga berbahaya. Bobby menegaskan, pada kebanyakan orang, aktivitas tersebut tetap aman. Gangguan irama jantung hanya terjadi pada sebagian kecil orang, sedangkan mayoritas peserta tidak mengalaminya.

"Tenang, pada kebanyakan orang aman. kejadian gangguan irama jantung terjadi hanya pada sebagian kecil orang sementara mayoritas yang lain baik baik saja. Masalahnya kita tidak pernah tau apakah kita pribadi masuk kebagian kecil atau bagian bedar?" kata Bobby.

4 Hal yang Perlu Dilakukan Sebelum Ikut Marathon
Bobby memberikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk menekan risiko gangguan irama jantung ketika mengikuti event lari. Pertama, kata ia, peserta dianjurkan menjalani pemeriksaan kesehatan atau medical check-up sebelum mengikuti perlombaan.

"Mengukur tekanan darah, kadar gula darah, elektrokardiogram (EKG) dasar, melakukan tes treadmill (yang terbaik cardiopulmonary exercise testing) dan echocardiografi di antara pemeriksaan yang dianjurkan sebelum mengikuti event," ujarnya.

Kedua, jangan mengikuti HM maupun FM tanpa persiapan latihan yang cukup. Bobby menyarankan peserta menjalani latihan secara benar dan, idealnya, mendapat bimbingan profesional.

Ketiga, pelari harus mendengarkan kondisi tubuhnya selama perlombaan. Bila muncul nyeri dada, sesak berat, jantung berdebar, atau sensasi seperti akan pingsan, peserta sebaiknya segera berhenti berlari dan mencari bantuan medis.

"Event masih banyak, tapi kesehatan kita cuma satu," ujarnya.

Keempat, bagi peserta yang memiliki hipertensi, diabetes, maupun penyakit kronis lainnya dan mengonsumsi obat secara rutin, Bobby mengingatkan agar tetap mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter.

Ia turut mengapresiasi komunitas dan pegiat olahraga yang mendorong masyarakat untuk mulai menjalani gaya hidup aktif dan sehat. Namun, ia menekankan, ajakan berolahraga juga perlu disertai edukasi mengenai risiko dan keselamatan.

Dengan begitu, masyarakat tidak hanya mengetahui manfaat olahraga, tetapi juga memahami potensi risiko serta langkah yang perlu dilakukan agar dapat berolahraga dengan aman.

(miq/miq) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Minum Kopi Hingga 5 Cangkir Sehari Aman untuk Jantung? Ini Kata Ahli


Most Popular
Features