In This Economy, Warga Mulai Mulung Barang Demi Hemat Uang
Jakarta, CNBC Indonesia - Kebiasaan mencari barang bekas di tempat sampah atau yang dikenal dengan istilah dumpster diving alias memulung semakin menarik perhatian. Bukan sekadar mencari barang yang sudah dibuang, aktivitas ini menjadi cara bagi sebagian orang untuk mendapatkan berbagai kebutuhan secara gratis sekaligus menghemat pengeluaran.
Warga yang melakukan dumpster diving umumnya mencari dan mengambil barang-barang yang dibuang di tempat sampah komersial, seperti milik supermarket atau pusat perbelanjaan. Barang yang ditemukan beragam, mulai dari pakaian, perlengkapan rumah tangga, perlengkapan mandi, hingga makanan yang masih tersegel.
Salah satu pelakunya adalah Darryl Baker, perempuan berusia 39 tahun yang tinggal di London Utara. Ia awalnya terkejut ketika menemukan tumpukan pakaian di tempat sampah supermarket langganannya. Setelah beberapa kali menemukan barang yang masih layak pakai, seperti bingkai foto dan skuter anak-anak, Darryl meminta izin kepada staf supermarket untuk mengambil barang-barang tersebut.
"Hasilnya cukup mengejutkan. Saya nemu pakaian baru untuk anak-anak saya," ujar Darryl, seperti dilaporkan BBC.
Dalam kurun waktu enam bulan, Darryl memperkirakan telah menghemat ratusan poundsterling atau jutaan rupiah.
Sejumlah pakaian bermerek yang ditemukannya antara lain Ralph Lauren, Nike, dan The North Face. Selain digunakan sendiri dan diberikan kepada keluarga, sebagian barang juga disumbangkan atau dijual kembali. Salah satunya jaket pria merek Barbour yang berhasil terjual seharga 30 poundsterling.
Sudah Lebih dari 50 Tahun Berburu Barang Bekas
Fenomena ini juga dilakukan Jeff Ferrell, pria berusia 72 tahun asal Fort Worth, Texas, Amerika Serikat. Ia telah menjalani aktivitas mencari barang bekas di tempat sampah selama lebih dari 50 tahun. Bahkan, Jeff masih rutin berkeliling menggunakan sepeda untuk mencari barang-barang yang bisa dimanfaatkan.
"Hampir semua barang di rumah kami berasal dari hasil memungut di tempat sampah. Saya tidak pernah membeli sabun, perlengkapan mandi, peralatan medis, sepatu, pakaian, perkakas, maupun perlengkapan berkebun," ungkapnya.
Jeff juga mengumpulkan logam bekas untuk dijual ke tempat pengepul dan memperoleh sekitar 150 dolar AS atau setara Rp2,7 juta setiap dua minggu.
Baginya, aktivitas tersebut bukan hanya tentang menghemat uang, tetapi juga membagikan barang-barang yang masih layak digunakan kepada orang lain.
Delapan Tahun Tidak Membeli Sampo
Cerita menarik lainnya datang dari Charlotte Bayford, perempuan berusia 44 tahun asal Essex, Inggris.
Baginya, keberhasilan menemukan barang berharga sangat bergantung pada waktu. Salah satu momen terbaik adalah ketika banyak mahasiswa Universitas Essex pulang untuk liburan musim panas dan membuang barang-barang yang tidak ingin mereka bawa.
Dari situ, Charlotte kerap menemukan berbagai perlengkapan mandi yang masih bisa digunakan, termasuk botol sampo yang isinya belum habis.
"Saya sudah delapan tahun tidak membeli sampo," ungkap perempuan yang bekerja sebagai asisten penjualan tersebut.
Ia mengaku kegiatan ini cukup membantu mengurangi pengeluaran sehari-hari.
Seperti pencari barang lainnya, Charlotte juga menyumbangkan sebagian hasil temuannya untuk kegiatan amal. Sementara barang-barang yang masih bernilai terkadang ia jual kembali.
Tidak hanya pakaian dan perlengkapan rumah tangga, makanan dengan kemasan yang masih tersegel juga menjadi salah satu barang yang dicari.
(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]