CLOSE AD

Cari Kerja Susah, Banyak Gen Z Beralih ke Profesi Jadul

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
11 August 2026 10:05
Ilustrasi Petani China Muda. (Dok. Freepik)
Foto: Ilustrasi Petani China Muda. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Suramnya pasar tenaga kerja membuat banyak generasi muda, terutama Gen Z, beralih ke profesi yang dianggap jadul, seperti petani.

Laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF) menempatkan petani dan pekerja pertanian sebagai profesi dengan pertumbuhan tertinggi secara global hingga 2030. Sektor pertanian diperkirakan akan membutuhkan tambahan 35 juta pekerja dalam lima tahun ke depan. Ini artinya, bukan tak mungkin profesi petani yang dianggap jadul akan kembali jadi primadona.

Apa yang membuat profesi petani tren lagi?

Menurut WEF, lonjakan kebutuhan pangan global dan ancaman krisis iklim menjadikan pertanian sebagai sektor yang sangat strategis yang kini mengalami kekurangan tenaga kerja muda.

Presiden World Farmers' Organisation, Arnold Puech Pays d'Alissac mengingatkan, dunia membutuhkan lebih banyak petani muda karena mayoritas petani yang ada saat ini sudah lansia.

"Banyak petani akan segera pensiun. Ini membuka peluang besar bagi generasi muda," ujarnya dalam wawancara di Forum Ekonomi Dunia di Davos dikutip dari World Economic Forum.

Permintaan pangan global terus meningkat, seiring prediksi populasi dunia yang mencapai puncaknya di angka 10,3 miliar jiwa pada 2080-an. World Resources Institute bahkan memperkirakan dunia harus menutup food gap sebesar 56% pada 2050 agar cukup memberi makan seluruh populasi.

Aktor China jadi pedagang sayur

Perubahan pasar tenaga kerja yang dipengaruhi kecerdasan buatan (AI) memaksa aktor China Xu Peng beralih profesi menjadi pedagang sayur di kampung halamannya. 

Melansir Channel News Asia, aktor berusia 30 tahun tersebut sebelumnya dikenal luas lewat perannya sebagai karakter CEO dalam drama pendek vertikal format hiburan yang sangat populer di China. Xu sebenarnya telah membintangi sejumlah serial televisi, namun saat tren drama mikro meledak pada 2025, ia memutuskan beralih ke produksi drama pendek atas saran para penggemarnya. 

Keputusan itu sempat membuahkan hasil. Kemampuan aktingnya membuat Xu terus mendapat peran utama. Pada puncak kariernya, ia bahkan menjalani syuting hingga 15-16 jam setiap hari dengan jadwal yang padat.

Namun situasi berubah drastis dalam waktu singkat ketika AI mulai mengambil alih proses produksi. Laporan menyebutkan, pada kuartal I-2026 terdapat sekitar 128.000 drama pendek yang dirilis di China. Dari jumlah tersebut, sekitar 122.000 judul diproduksi menggunakan AI atau lebih dari 95% dari seluruh drama pendek baru. Akibat perubahan tersebut, Xu Peng kehilangan seluruh pekerjaannya sebagai aktor.

Setelah menyelesaikan proyek drama pendek terakhirnya awal tahun ini, ia meninggalkan Hengdian, Provinsi Zhejiang, yang dikenal sebagai pusat industri film dan televisi China, lalu kembali ke kampung halamannya di Provinsi Shandong.

Kini, Xu membantu kakeknya berjualan sayur di pasar tradisional. Dari sebelumnya berdiri di depan kamera, ia kini mengendarai kendaraan listrik keluarga menuju pasar dan menjajakan hasil panen di bawah terik matahari.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Lagi Tren Gen Z Tolak Promosi, Kenapa Tak Mau Jadi Bos?


Most Popular
Features