Gen Z Ramai Tolak Promosi Jabatan, Pakar Ungkap Alasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Dosen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University Rahmi Damayanti mengatakan fenomena Gen Z yang memilih menolak promosi jabatan demi work-life balance tidak serta-merta menunjukkan generasi tersebut tidak ambisius atau enggan berkembang.
Ia menilai, fenomena tersebut justru menunjukkan adanya pergeseran cara pandang mengenai makna keberhasilan dalam bekerja. Bagi sebagian Gen Z, kesuksesan tidak lagi hanya diukur dari jabatan atau besarnya tanggung jawab, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
"Bagi sebagian Gen Z, keberhasilan tidak lagi semata-mata diukur dari kenaikan jabatan, besarnya tanggung jawab, atau posisi struktural, tetapi juga dari kemampuan memperoleh keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, kehidupan pribadi, kesehatan, dan pengembangan diri," kata Rahmi, dikutip dari laman IPB University, Kamis (3/9/2026).
Rahmi menjelaskan, ketika tuntutan pekerjaan semakin besar sementara waktu dan energi untuk keluarga maupun kehidupan personal semakin berkurang, seseorang dapat mempertimbangkan kembali pilihan kariernya. Oleh sebab itu, keputusan menolak promosi dapat menjadi bentuk prioritas terhadap kualitas hidup, bukan sekadar keengganan menerima tanggung jawab atau berkembang dalam karier.
Terlebih, kata ia, Gen Z memasuki dunia kerja ketika terjadi berbagai perubahan besar, mulai dari digitalisasi, tuntutan kerja yang semakin cepat, fleksibilitas kerja, hingga meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan dan kesejahteraan.
Meski demikian, Rahmi mengingatkan fenomena tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh Gen Z. Banyak pekerja muda tetap memiliki keinginan menjadi pemimpin, tetapi mengharapkan model kepemimpinan yang lebih fleksibel, manusiawi, dan kolaboratif.
Kantor Perlu Berubah?
Rahmi menilai tantangan perusahaan bukan sekadar membuat Gen Z bersedia menerima promosi, melainkan menciptakan pekerjaan dan posisi kepemimpinan yang lebih sehat serta berkelanjutan. Salah satu caranya melalui konsep family-friendly workplace atau tempat kerja ramah keluarga.
Konsep tersebut memungkinkan pekerja tetap produktif dan berkembang dalam karier tanpa mengabaikan fungsi dan tanggung jawab dalam keluarga. Penerapannya dapat dilakukan melalui fleksibilitas kerja, pengelolaan beban kerja yang sehat, dukungan terhadap kebutuhan keluarga, kebijakan cuti, waktu kerja yang lebih adaptif, hingga budaya perusahaan yang tidak menganggap bekerja berlebihan sebagai ukuran loyalitas.
"Pekerjaan ramah keluarga bukan berarti mengurangi produktivitas atau tuntutan profesional. Justru, pendekatan ini mendorong terciptanya sistem kerja yang memungkinkan seseorang tetap produktif dan berkembang dalam karier tanpa harus mengabaikan fungsi dan tanggung jawabnya dalam keluarga," jelasnya.
Menurut Rahmi, dunia kerja juga perlu menyediakan pilihan jalur karier yang lebih beragam. Pekerja tidak harus selalu masuk jalur manajerial untuk dianggap berkembang, tetapi dapat memilih jalur keahlian profesional atau individual contributor.
Sementara itu, calon pemimpin dapat dipersiapkan secara bertahap melalui mentoring, coaching, pengembangan kompetensi, hingga pengalaman memimpin.
"Solusi krisis kepemimpinan bukan dengan menyalahkan Gen Z karena tidak mau naik jabatan, tetapi dengan membangun sistem kerja yang membuat kepemimpinan tetap kompatibel dengan kehidupan keluarga dan kualitas hidup," kata Rahmi.
Fenomena tersebut sekaligus menunjukkan adanya perubahan dalam definisi kesuksesan karier. Jabatan dan pekerjaan tetap dianggap penting, tetapi bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
Keluarga, kesehatan, kehidupan sosial, waktu pribadi, hingga kesejahteraan juga semakin diperhitungkan pekerja muda. Namun, Rahmi menegaskan work-life balance juga bukan berarti menghindari tanggung jawab atau berhenti mengembangkan diri.
"Keseimbangan bukan berarti mengurangi tanggung jawab atau membatasi pengembangan diri, tetapi mampu mengelola pekerjaan dan kehidupan secara sehat, tetap bertanggung jawab, dan terus bertumbuh," ujarnya.
"Yang perlu kita bangun bukan generasi muda yang 'dipaksa mengejar jabatan', tetapi generasi muda yang memiliki kapasitas dan kemauan untuk memimpin karena mereka melihat kepemimpinan sebagai sesuatu yang bermakna, bukan sebagai pengorbanan terhadap kehidupan mereka," ujarnya menutup.