Cari Kerja Sulit, Sarjana Pantang Gengsi Jual Minuman Keliling

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
01 October 2026 10:45
Threads./terrence_firly
Foto: Threads./terrence_firly

Jakarta, CNBC Indonesia - Para sarjana baru alias fresh graduate menghadapi tantangan besar di tengah memburuknya pasar tenaga kerja akibat perlambatan ekonomi global. Di tengah persaingan yang makin ketat, sebagian anak muda terpaksa menjadi pekerja "kerah biru" demi bisa bertahan hidup. 

Hal itu dirasakan Terrence Firly (25), lulusan S1 Ilmu Komunikasi di salah satu universitas swasta yang kini memilih berjualan minuman keliling di kawasan Cikarang, Jawa Barat. Ceritanya menjadi perhatian warganet setelah ia membagikan kesehariannya melalui Threads.

Terrence lulus kuliah pada Februari 2025. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia sempat menjadi volunteer, mengikuti program magang Kementerian Ketenagakerjaan, hingga terus mencari pekerjaan di bidang komunikasi secara online maupun offline. Setelah berbagai usahanya tak membuahkan hasil, Terrence akhirnya memutuskan menjadi pedagang minuman keliling.

Keputusan tersebut salah satunya muncul setelah mendapat nasihat dari sang ayah. Menurut Terrence, perkataan ayahnya saat itu cukup menohok sekaligus membuatnya melihat pekerjaan dengan cara berbeda.

"Tidak ada yang sia-sia mau kamu jadi cleaning service, SPB, waiter, pokoknya kerjaan yang orang anggap sebelah mata itu pada akhirnya kamu bisa tahu pelajaran kehidupan yang tidak akan kamu temui di sekolahan atau bangku kuliahan," cerita Terrence menirukan perkataan ayahnya kepada CNBC Indonesia.

Belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai juga membuatnya memilih untuk tidak terlalu pilih-pilih pekerjaan.

Terrence kini menjadi driver gerobak elektrik atau "huling" yang menjual minuman dingin. Ia biasa berkeliling di kawasan Cikarang Selatan, mulai dari Villa Mutiara, kawasan industri Delta Silicon hingga Lippo Cikarang.

Dalam sehari, Terrence bisa menghabiskan waktu sekitar 8 hingga 10 jam di jalan. Ia mulai berjualan sekitar pukul 07.00 pagi dan baru selesai pada pukul 15.00 hingga 17.00 sore.

Untuk memulai pekerjaan tersebut, kata ia, persyaratannya relatif sederhana. Ia hanya perlu menyerahkan fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan KTP. Namun, tantangan sesungguhnya justru datang ketika harus berkeliling di tengah panas dan berhadapan dengan rasa gengsi.

"Ya sudah saya jalanin saja dengan menurunkan gengsi saya," ujarnya.

Jika seluruh isi gerobaknya habis terjual dalam sehari, Terrence mengatakan penghasilan yang menjadi bagiannya sekitar Rp90 ribu.



Cari Kerja Sesuai Jurusan Makin Sulit

Pengalaman mencari pekerjaan membuat Terrence melihat ketatnya persaingan dunia kerja saat ini. Menurut ia, mencari pekerjaan yang benar-benar sejalan dengan jurusan ataupun keinginan pelamar bukan perkara mudah.

"Di zaman sekarang cari kerja yang serumpun, sejalan, sejurusan, bahkan yang sesuai sama pilihan kita itu memanglah sangat-sangat sulit untuk mendapatkannya," kata Terrence.

Ia melihat jumlah pencari kerja tidak sebanding dengan posisi yang tersedia. Kondisi tersebut membuat persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat.

"Yang terasa yang pasti manpower supply atau tenaga kerja lebih banyak daripada job demand atau panggilan kerja atau posisi yang mau ditawarkan malah sedikit sekali. Bahkan orang pun saling sikut-sikutan untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka mau atau impikan," lanjutnya.

Terrence awalnya mengaku membagikan ceritanya di media sosial hanya karena iseng. Namun, ia sekaligus ingin mengetahui apakah ada sarjana lain yang mengalami kondisi serupa dan memilih membangun usaha kecil dari bawah.

Ternyata, kolom komentar unggahannya dipenuhi cerita serupa. Sejumlah warganet yang mengaku sebagai lulusan perguruan tinggi menceritakan pekerjaan dan usaha yang mereka jalani saat ini.

Seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi juga mengaku mencoba pekerjaan serupa saat libur kuliah. "Izin tampil bang, mahasiswa Ilmu Komunikasi juga ikut nyoba kerja ginian. Btw ini lagi libur semester, sekarang jalan semester 7," tulis @er_ha***.

Cerita lainnya datang dari warganet yang mengaku lulusan S1 Manajemen Keuangan Universitas Jayabaya dan kini berdagang dimsum. Ada pula lulusan Manajemen Universitas Gunadarma yang bekerja sebagai host live sambil berjualan tahu.

Cerita menarik juga datang dari akun @reza.yuli***. Ia mengaku sebagai lulusan Ilmu Komunikasi LSPR yang pernah berdagang kaki lima sebelum akhirnya memiliki perusahaan sendiri.

"Aku anak Komunikasi LSPR 2007 waktu itu juga dagang kaki lima dari gak punya tenda. Alhamdulillah sekarang udah punya perusahaan di oil and gas. Kalau gak ada hari itu mungkin gak akan ada hari ini. Semangat," tulisnya.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ekonomi Sulit, Muncul Fenomena Sarjana Pilih Kerja Jadi ART


Most Popular
Features