Ekonomi Sulit, Muncul Fenomena Sarjana Pilih Kerja Jadi ART

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
24 September 2026 09:40
Ilustrasi asisten rumah tangga. (CNN Indonesia)
Foto: Ilustrasi asisten rumah tangga. (CNN Indonesia)

Jakarta, CNBC Indonesia - Himpitan ekonomi mendorong banyak orang untuk keluar dari zona nyaman, apa saja dilakukan demi bisa menyambung hidup. Belakangan, di tengah kondisi perekonomian global yang terus bergejolak, muncul fenomena banyak sarjana menjalani pekerjaan kasar atau pekerjaan yang tidak membutuhkan gelar. 

Hal itulah yang dialami Maha, perempuan berusia 31 tahun yang memutuskan meninggalkan pekerjaannya di Indonesia untuk menjadi asisten rumah tangga (ART) di Taiwan. Keputusan tersebut diambil Maha saat berusia 27 tahun.

Lulusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Ponorogo tahun 2018 itu sebelumnya bekerja di Perhutani KPH Jember selama dua tahun, di divisi sumber daya manusia (SDM) dan keuangan. Namun, penghasilan setara upah minimum regional (UMR) yang diterimanya saat itu habis untuk membayar kos dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, dia juga harus menanggung utang orang tuanya sehingga tidak memiliki kesempatan untuk menabung.

"Awalnya sudah bosan banget gajiku habis buat bayar kos dan biaya hidup di luar kota, bahkan aku enggak bisa nabung karena gajiku cuma UMR," kata Maha kepada CNBC Indonesia melalui pesan di Threads pada Rabu (23/9/2026).

Kondisi tersebut membuatnya mulai mempertimbangkan pekerjaan lain yang tidak mengharuskannya mengeluarkan biaya tempat tinggal. Pilihannya kemudian jatuh pada pekerjaan sebagai ART di Taiwan.

"Kupikir-pikir kalau kerja lagi maunya yang enggak perlu bayar kos, dan kepikiranlah ke Taiwan. Nekat saja sih ini," ujarnya.

Keputusan Maha untuk bekerja di luar negeri juga tidak terlepas dari latar belakang keluarganya. Ia mengatakan ibu, kakak, dan sejumlah anggota keluarga besarnya memiliki pengalaman sebagai pekerja migran. Hal itu memudahkannya memperoleh informasi mengenai proses keberangkatan dan bekerja di Taiwan.

Sistem pertahanan udara Patriot Taiwan dikerahkan di sebuah taman selama latihan tahunan Han Kuang di Taipei, Taiwan, Jumat (11/7/2025). (REUTERS/Ann Wang)Taipei, Taiwan, Jumat (11/7/2025). (REUTERS/Ann Wang) Foto: REUTERS/Ann Wang

Proses yang dijalaninya sejak pendaftaran hingga keberangkatan memakan waktu sekitar lima bulan sampai akhirnya resmi bekerja sebagai ART di Taiwan. Selama bekerja, ia bertanggung jawab memasak tiga kali sehari, membersihkan rumah empat lantai milik majikannya, mencuci pakaian menggunakan mesin maupun secara manual, serta berbelanja ke pasar. Sesekali, Maha juga membantu menjaga bayi ketika cucu majikannya datang berkunjung.

Bertanggung jawab atas semua pekerjaan tersebut, penghasilan Maha sebagai ART mencapai sekitar Rp10 juta per bulan. 

Di balik penghasilan yang lebih besar, Maha harus menghadapi rutinitas kerja yang cukup berat. Ia mengaku mulai bekerja pukul 05.30 pagi dan baru menyelesaikan pekerjaannya sekitar pukul 20.30 malam.

Terkadang, saking lelahnya, ia bahkan kerap tertidur di kamar mandi. Meski demikian, Maha bersyukur karena majikannya memperbolehkan dirinya menjalankan ibadah salat dan puasa serta memberikan fasilitas kamar tidur dan kamar mandi pribadi.

Bisa Lunasi Utang Keluarga dalam Setahun

Salah satu perubahan terbesar yang dirasakan Maha setelah bekerja di Taiwan adalah kondisi keuangannya. Jika sebelumnya seluruh penghasilannya di Indonesia habis untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar utang keluarga, selama bekerja di Taiwan ia bisa menyisihkan uang setiap bulan.

Hasil kerja kerasnya mulai terlihat sejak tahun pertama. Maha berhasil melunasi seluruh utang keluarga yang menjadi tanggungannya.

"Yang pasti bersyukur semua utang yang aku tanggung sudah lunas di tahun pertama aku kerja di Taiwan," katanya.

Selain memperbaiki kondisi keuangan, Maha merasa pengalamannya bekerja di Taiwan membuatnya berkembang secara pribadi. Ia terbukti mampu beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan bahasa yang berbeda.

"Aku merasa mentalku benar-benar di-upgrade ketika kerja di Taiwan. Ketemu orang baru yang beda budaya dan bahasa," ujarnya.

Maha pun menegaskan dirinya sama sekali tidak menyesali keputusan meninggalkan pekerjaan kantoran untuk menjadi ART. Menurutnya, pekerjaan sebagai ART tidak seharusnya dipandang rendah. Ia juga tidak merasa pendidikan sarjana yang ditempuhnya menjadi sia-sia hanya karena kini bekerja di bidang yang berbeda.

"Kerja sebagai ART menurutku bukan hal sepele. Aku enggak merasa pendidikanku sia-sia hanya karena aku jadi ART, malah itu jadi nilai plus menurutku," katanya.

Ia menilai pendidikan turut membentuk pola pikir, kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan tersebut tetap berguna meskipun seseorang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya.

Banyak Sarjana Lain Punya Pengalaman Serupa


Pengalaman Maha yang dibagikan melalui akun Threads @noraisaly*** ternyata mendapat banyak tanggapan. Sejumlah pengguna media sosial mengaku memiliki pengalaman serupa. 

Salah satunya, pengguna akun @maufy_i***, mengaku merupakan lulusan D1 Administrasi yang sebelumnya bekerja sebagai kepala gudang. Ia kemudian memutuskan berhenti dan bekerja sebagai ART di Hong Kong.

"Aku D1 Administrasi lulusan tahun 2012, kerja udah jadi kepala gudang dan resign, lalu memilih jadi babu Hong Kong. Alhamdulillah udah enam tahun di majikan yang sama dan aku betah," tulisnya.

Pengalaman lain datang dari pengguna akun @austin698*** yang mengaku sebagai lulusan S1 Ekonomi jurusan Manajemen dan kini bekerja sebagai ART di Singapura.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Sarjana Makin Banyak, Tapi 1 Juta Lulusan RI Masih Nganggur


Most Popular
Features