Kamu Belum Punya Pasangan? Psikolog Ungkap Cara Tetap Bahagia
Jakarta, CNBC Indonesia - Menjalani hidup tanpa pasangan bukan berarti seseorang tidak bisa merasa bahagia. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebahagiaan orang lajang tidak hanya berkaitan dengan status hubungan, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan cara masyarakat memandang kehidupan tanpa pasangan.
Dikutip dari Forbes, Selasa (27/10), penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science ini melibatkan lebih dari 380.000 orang dewasa yang tinggal di hampir 400 distrik di Inggris Raya. Penelitian tersebut dipimpin oleh psikolog Tita Gonzalez Avilés untuk mengetahui apakah kepuasan hidup orang lajang dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka tinggal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki pasangan secara umum melaporkan tingkat kepuasan hidup lebih tinggi dibandingkan mereka yang lajang. Namun, perbedaan tersebut tidak serta-merta berarti orang lajang akan merasa kurang bahagia ketika berada di lingkungan yang dipenuhi pasangan. Sebaliknya, sikap masyarakat terhadap kehidupan lajang justru diduga memiliki peran penting dalam membentuk kesejahteraan seseorang.
Lingkungan yang Menghargai Kehidupan Lajang
Penelitian tersebut menemukan bahwa banyaknya orang yang memiliki pasangan di suatu wilayah tidak secara langsung membuat orang lajang merasa kurang bahagia. Kepuasan hidup mereka cenderung relatif stabil, terlepas dari seberapa banyak pasangan yang tinggal di sekitarnya.
Faktor yang diduga lebih berpengaruh adalah budaya dan pandangan sosial terhadap kehidupan tanpa pasangan. Dalam analisis tambahan, peneliti menemukan bahwa orang lajang melaporkan kepuasan hidup lebih rendah di wilayah yang lebih religius dan memiliki kecenderungan politik konservatif lebih kuat.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan tersebut masih memerlukan kehati-hatian. Penelitian ini tidak secara langsung mengukur bagaimana masyarakat di setiap wilayah memandang orang lajang sehingga hubungan tersebut belum dapat dipastikan sebagai sebab-akibat.
Temuan ini sejalan dengan konsep psikologi yang dikenal sebagai person-culture match, yakni kecenderungan seseorang merasa lebih baik ketika cara hidupnya selaras dengan nilai-nilai lingkungan sosialnya. Sebaliknya, seseorang bisa merasa tidak nyaman ketika pilihan hidupnya terus-menerus dipertanyakan atau dianggap berbeda dari standar yang berlaku di masyarakat.
Tekanan Sosial Bisa Membuat Orang Lajang Merasa Kurang
Tekanan terhadap orang lajang sering kali muncul melalui komentar yang dianggap biasa. Misalnya, pertanyaan berulang dari keluarga mengenai kapan memiliki pasangan atau anggapan bahwa seseorang belum menjalani kehidupan secara utuh karena belum menikah.
Psikolog Bella DePaulo menggunakan istilah singlism untuk menggambarkan stereotip dan perlakuan yang merendahkan orang lajang dibandingkan mereka yang memiliki pasangan.
Walaupun tidak selalu disampaikan dengan maksud buruk, komentar semacam itu dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Jika terus-menerus menerima anggapan bahwa hidup lajang merupakan sesuatu yang harus diperbaiki, seseorang bisa mulai merasa kehidupannya belum lengkap.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan psikologis akan otonomi, yaitu perasaan bahwa kehidupan yang dijalani merupakan hasil pilihan diri sendiri. Ketika lingkungan terus memperlakukan status lajang sebagai masalah, seseorang dapat kesulitan merasa nyaman dengan pilihannya, bahkan jika sebenarnya ia menikmati kehidupannya.
Cara Sederhana Menjalani Hidup Lajang dengan Bahagia
Salah satu langkah praktis yang dapat dilakukan adalah memilih lingkungan pertemanan yang menghargai pilihan hidup, termasuk keputusan untuk tidak memiliki pasangan. Caranya dapat dimulai dengan memperhatikan perasaan setelah berinteraksi dengan orang lain. Jika seseorang merasa dihargai dan didukung oleh teman-temannya, hubungan tersebut layak dipertahankan.
Sebaliknya, jika percakapan dengan orang tertentu selalu berujung pada pertanyaan mengenai pasangan atau membuat seseorang merasa tertinggal, membatasi interaksi dengan lingkungan tersebut dapat menjadi pilihan yang sehat.
Hal serupa berlaku di media sosial. Mengikuti komunitas yang berfokus pada minat, hobi, pengembangan diri, atau tujuan bersama dapat membantu seseorang membangun hubungan sosial tanpa terus-menerus menjadikan status hubungan sebagai tolok ukur kehidupan.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa orang lajang di wilayah dengan proporsi penduduk berpasangan yang tinggi cenderung sedikit kurang mengutamakan pentingnya memiliki pasangan. Peneliti menduga sebagian dari mereka mungkin mengalihkan perhatian pada tujuan hidup lainnya.
Meski begitu, bukan berarti seseorang harus berhenti menginginkan hubungan romantis. Seseorang tetap bisa berharap menemukan pasangan sambil menikmati kehidupan yang dijalaninya saat ini.
Kebahagiaan Tidak Hanya Ditentukan oleh Status Hubungan
Penelitian ini menggunakan data survei kepribadian daring yang dikumpulkan pada 2009 hingga 2011. Karena itu, hasilnya menunjukkan keterkaitan antara sejumlah faktor, bukan bukti bahwa lingkungan tertentu secara langsung menyebabkan seseorang lebih atau kurang bahagia.
Peneliti juga melakukan sejumlah analisis tambahan, termasuk terhadap orang-orang yang masih tinggal di wilayah tempat mereka dibesarkan. Pola serupa turut ditemukan pada skala lingkungan yang lebih kecil di London. Namun, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa pindah ke tempat lain akan membuat seseorang lebih bahagia.
Pada akhirnya, salah satu hal yang dapat diupayakan adalah membangun lingkaran sosial yang menerima dan menghargai pilihan hidup. Dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu seseorang merasa bahwa kehidupannya tetap bermakna, tanpa harus memenuhi ekspektasi masyarakat mengenai hubungan romantis.
Hidup bahagia sebagai orang lajang bukan berarti tidak menginginkan pasangan. Sebaliknya, seseorang dapat tetap membuka diri terhadap cinta sambil menyadari bahwa kebahagiaan dan kehidupan yang utuh tidak harus menunggu kehadiran orang lain.
(miq/miq)