Bukan Uang, Ahli Ungkap Kunci Hidup Bahagia yang Sebenarnya

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
23 September 2026 20:10
Ilustrasi Bahagia (Pixabay)
Foto: Ilustrasi Bahagia (Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Punya banyak uang, menikmati makanan favorit, atau melakukan hal-hal menyenangkan mungkin bisa membuat seseorang bahagia. Namun, penelitian terbaru menemukan ada faktor lain yang berperan penting dalam membuat seseorang merasa puas dengan hidupnya.

Faktor tersebut adalah otonomi, yakni perasaan bahwa seseorang memiliki kebebasan dan kendali untuk menentukan pilihan dalam hidupnya sendiri, alih-alih merasa hidupnya dikendalikan atau dipaksakan oleh orang lain. Temuan tersebut berasal dari penelitian psikolog University of Toronto, Jason W. Payne dan Ulrich Schimmack, yang diterbitkan dalam The Journal of Positive Psychology.

Melansir ScienceAlert, Rabu (23/9/2026), penelitian ini mencoba melihat lebih jauh faktor yang membentuk persepsi seseorang mengenai kehidupan yang baik dan memuaskan.

"Memiliki kehidupan seks yang hebat dan menikmati es krim tentu menyenangkan," kata ilmuwan kognitif Yale University Laurie Santos, yang mempelajari ilmu kesejahteraan.

"Namun pada akhirnya, kebahagiaan sejati berasal dari apa yang kita lakukan bersama orang lain dan bagaimana kita membangun kehidupan yang baik," lanjutnya.

Apa yang Sebenarnya Bikin Hidup Bahagia?

Pertanyaan tentang kunci kebahagiaan manusia sebenarnya sudah menjadi bahan pemikiran selama ribuan tahun. Dalam perkembangannya, terdapat dua pandangan utama mengenai kesejahteraan.

Pandangan hedonik menilai kebahagiaan pada dasarnya berkaitan dengan kesenangan dan upaya menghindari pengalaman yang tidak menyenangkan. Sementara pandangan eudaemonic melihat kehidupan yang baik tidak hanya berdasarkan kesenangan.

Ada berbagai hal yang dianggap bermakna meskipun tidak selalu membuat seseorang merasa nyaman atau bahagia pada saat menjalaninya. Contohnya merawat anggota keluarga yang sakit. Aktivitas tersebut dapat melelahkan, membuat stres, dan jauh dari menyenangkan. Namun, bukan berarti pengalaman tersebut tidak memiliki nilai hanya karena tidak memberikan kebahagiaan dalam jangka pendek.

Payne dan Schimmack kemudian meneliti tiga kebutuhan psikologis yang terdapat dalam self-determination theory. Pertama adalah relatedness, yakni memiliki hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Kedua, competence, atau perasaan bahwa seseorang mampu dan efektif dalam melakukan sesuatu. Terakhir adalah autonomy atau otonomi, yaitu ketika tindakan dan keputusan seseorang terasa berasal dari pilihannya sendiri dan bukan karena paksaan.

Otonomi Jadi Pembeda

Untuk mengujinya, para peneliti melakukan survei terhadap lebih dari 1.200 orang dewasa berusia 18 hingga 80 tahun di Kanada dan Inggris pada 2022. Para peserta menjawab pertanyaan mengenai kepuasan hidup, emosi positif dan negatif, kepribadian, serta sejauh mana tiga kebutuhan psikologis tersebut terpenuhi.

Hasilnya, ketiga kebutuhan psikologis berkaitan dengan kepuasan hidup dalam tingkat tertentu. Namun, hubungan sosial dan kompetensi sebagian besar dianggap penting karena keduanya membuat seseorang merasa lebih baik secara emosional.

Sementara itu, otonomi menunjukkan pola yang berbeda. Orang yang merasa memiliki otonomi lebih tinggi cenderung melaporkan kepuasan hidup yang lebih besar, bahkan setelah peneliti memperhitungkan seberapa positif atau negatif perasaan mereka terhadap aspek lain dalam kehidupan.

"Bahkan setelah memperhitungkan seberapa baik atau buruk perasaan seseorang, mereka yang merasa lebih memiliki otonomi ternyata lebih puas dengan kehidupannya," kata Payne.

"Otonomi merupakan satu-satunya kebutuhan psikologis yang tampaknya memberikan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan hanya oleh perasaan," ujarnya menambahkan.

Dengan kata lain, manusia tampaknya tidak hanya menilai kehidupan dengan pertanyaan, "Bagaimana perasaan saya?" Ada pertanyaan lain yang juga berperan, yakni: "Apakah kehidupan ini benar-benar milik saya?"

Pilihan Sulit Bisa Tetap Membuat Hidup Memuaskan

Temuan tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang terkadang mengambil keputusan yang tidak memberikan kesenangan secara langsung. Seseorang mungkin memilih pekerjaan yang lebih berat karena pekerjaan tersebut memberinya kemandirian lebih besar.

Orang lain mungkin memilih pindah ke tempat yang asing karena ingin menentukan jalan hidupnya sendiri. Pilihan seperti itu belum tentu menghasilkan emosi positif setiap saat.

Namun, keputusan tersebut tetap dapat membuat seseorang merasa hidupnya berjalan dengan baik karena keputusan itu dibuat atas pilihannya sendiri. Meski demikian, para peneliti tidak menyimpulkan bahwa kesenangan tidak penting.

Emosi positif dan negatif tetap menjelaskan sebagian besar penilaian seseorang terhadap kepuasan hidupnya. Hasil penelitian justru menunjukkan kehidupan yang memuaskan kemungkinan tidak bisa dijelaskan hanya dari kesenangan maupun makna semata.

Manusia tampaknya mempertimbangkan keduanya ketika mengevaluasi kehidupan mereka. Peneliti juga mengingatkan adanya keterbatasan dalam studi tersebut.

Para peserta penelitian berasal dari masyarakat Barat dan berbahasa Inggris sehingga hasilnya masih perlu diuji pada kelompok masyarakat dengan latar belakang budaya yang lebih beragam. Temuan ini juga dapat menjadi pertimbangan dalam berbagai program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan seseorang.

"Program dan intervensi yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan mungkin berhasil membuat perasaan seseorang menjadi lebih baik. Namun, jika program tersebut membatasi pilihan mereka, pada akhirnya hal itu justru bisa membuat seseorang menilai kehidupannya secara keseluruhan menjadi lebih buruk," kata Payne.

Sebab, terkadang yang membuat hidup terasa memuaskan bukan karena orang lain telah menentukan pilihan yang dianggap "benar". Kepuasan justru dapat muncul karena seseorang memiliki kesempatan untuk menentukan pilihannya sendiri.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article 9 Kalimat Sering Diucapkan Orang Tidak Bahagia, Banyak Orang Tak Sadar


Most Popular
Features