Terdesak Ekonomi, Sarjana Pantang Gengsi Kerja Jadi ART
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan ekonomi membuat sebagian orang harus mengambil keputusan besar demi memperbaiki kondisi keuangan. Bahkan, gelar sarjana dan pengalaman kerja tak selalu menjamin seseorang mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Fenomena ini terlihat dari sejumlah lulusan perguruan tinggi yang memilih menekuni pekerjaan di luar bidang pendidikannya, termasuk pekerjaan yang tidak mensyaratkan gelar akademik. Salah satunya adalah Maha, perempuan berusia 31 tahun yang memutuskan meninggalkan Indonesia untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Taiwan. Meski telah memiliki pekerjaan di Indonesia, penghasilannya saat itu dinilai belum mampu memberikan keleluasaan finansial yang diharapkan.
Maha merupakan lulusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada 2018. Sebelum merantau ke Taiwan, ia bekerja selama dua tahun di Perhutani KPH Jember, dengan penempatan di divisi sumber daya manusia (SDM) dan keuangan. Namun, gaji setara upah minimum regional (UMR) yang diterimanya kala itu sebagian besar terserap untuk membayar biaya kos dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, Maha juga harus membantu menanggung utang orang tuanya.
Kondisi tersebut membuatnya kesulitan menyisihkan penghasilan untuk ditabung. Situasi keuangan yang terbatas akhirnya mendorong Maha mengambil pilihan berbeda dengan meninggalkan pekerjaan di Tanah Air dan mencari penghidupan di Taiwan.
"Kupikir-pikir kalau kerja lagi maunya yang enggak perlu bayar kos, dan kepikiranlah ke Taiwan. Nekat saja sih ini," ujarnya.
Lunasi Hutang Keluarga dengan Gaji ART
Meski mengaku pekerjaannya berat sampai pernah tertidur di kamar mandi, menjadi ART di Taiwan terbukti memperbaiki kehidupan Maha dan keluarganya. Hasil kerja kerasnya mulai terlihat sejak tahun pertama.
Selain memperbaiki kondisi keuangan, Maha merasa pengalamannya bekerja di Taiwan membuatnya berkembang secara pribadi. Ia terbukti mampu beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan bahasa yang berbeda.
Maha pun menegaskan dirinya sama sekali tidak menyesali keputusan meninggalkan pekerjaan kantoran untuk menjadi ART. Menurutnya, pekerjaan sebagai ART tidak seharusnya dipandang rendah. Ia juga tidak merasa pendidikan sarjana yang ditempuhnya menjadi sia-sia hanya karena kini bekerja di bidang yang berbeda.
Ia menilai pendidikan turut membentuk pola pikir, kemampuan mengelola emosi, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan tersebut tetap berguna meskipun seseorang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya.
Banyak Sarjana Lain Punya Pengalaman Serupa
Pengalaman Maha yang dibagikan melalui akun Threads @noraisaly*** ternyata mendapat banyak tanggapan. Sejumlah pengguna media sosial mengaku memiliki pengalaman serupa.
Salah satunya, pengguna akun @maufy_i***, mengaku merupakan lulusan D1 Administrasi yang sebelumnya bekerja sebagai kepala gudang. Ia kemudian memutuskan berhenti dan bekerja sebagai ART di Hong Kong.
"Aku D1 Administrasi lulusan tahun 2012, kerja udah jadi kepala gudang dan resign, lalu memilih jadi babu Hong Kong. Alhamdulillah udah enam tahun di majikan yang sama dan aku betah," tulisnya.
Pengalaman lain datang dari pengguna akun @austin698*** yang mengaku sebagai lulusan S1 Ekonomi jurusan Manajemen dan kini bekerja sebagai ART di Singapura.
(hsy/hsy)