Kemenkes Turunkan 2.106 Nakes Tangani Dampak Kebakaran Hutan

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Kamis, 15/10/2026 14:55 WIB
Foto: REUTERS/Arief Rahman Septian Prathama

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan sebanyak 2.106 tenaga kesehatan (nakes) untuk menangani dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah juga menyalurkan jutaan masker dan berbagai perlengkapan medis ke daerah terdampak.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat layanan kesehatan di tengah memburuknya kualitas udara akibat karhutla yang melanda tujuh provinsi serta 63 kabupaten/kota di Indonesia. Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Widyawati mengatakan, pemerintah terus memperkuat kesiapsiagaan dan respons kesehatan untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan masyarakat akibat paparan asap karhutla.



"Merespons situasi ini, pemerintah telah memobilisasi 2.106 tenaga kesehatan dan memperkuat layanan kesehatan, sistem rujukan, serta pemantauan penyakit di wilayah terdampak," kata Widyawati dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (15/10/2026).

Selain mengerahkan ribuan tenaga kesehatan, Kemenkes juga mendistribusikan berbagai perlengkapan medis dan logistik untuk mendukung penanganan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak. Bantuan tersebut mencakup sekitar tiga juta masker, oksigen konsentrator, obat-obatan, hingga alat pelindung diri (APD).

Penyaluran logistik kesehatan ini dilakukan untuk memastikan pelayanan medis tetap berjalan optimal, terutama di wilayah yang mengalami penurunan kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan. Di sisi lain, hasil pemantauan kualitas udara menunjukkan sejumlah wilayah terdampak karhutla berada dalam kondisi yang perlu diwaspadai.

Berdasarkan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), terdapat 37 stasiun pemantau yang menunjukkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya. Rinciannya, sebanyak 13 daerah berada dalam kategori berbahaya, 11 daerah masuk kategori sangat tidak sehat, dan 13 daerah lainnya berada dalam kategori tidak sehat.

Memburuknya kualitas udara tersebut turut menjadi perhatian pemerintah seiring tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat di tengah situasi karhutla. Kemenkes mencatat sebanyak 277.075 kasus ISPA secara kumulatif hingga 12 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus terjadi pada anak-anak berusia 0 hingga 5 tahun.

"Berdasarkan data hingga 12 Oktober 2026, tercatat 277.075 kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) secara kumulatif, dengan 62.400 kasus di antaranya pada rentang usia 0-5 tahun," ujar Widyawati.

Pemerintah terus memperkuat pelayanan kesehatan, sistem rujukan, dan pemantauan penyakit di wilayah terdampak guna mengantisipasi risiko kesehatan masyarakat akibat memburuknya kualitas udara.



(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Terobosan Kebijakan Kesehatan: Cepat, Tepat, & Fokus ke Pasien