Ratusan Supermarket Diserang Hacker, Stok Makanan Rusak

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Selasa, 13/10/2026 15:35 WIB
Foto: CNBC

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan siber berskala besar menyasar sistem pendingin di ratusan supermarket di Prancis. Peretasan tersebut menyebabkan suhu lemari pendingin dan freezer melonjak hingga 50 derajat Celsius, sehingga merusak persediaan makanan segar dan beku. Insiden ini juga memicu kebakaran di sejumlah toko.

Serangan yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya itu terungkap pada Senin (12/10), setelah sejumlah jaringan supermarket besar melaporkan gangguan dalam sistem pendingin mereka.

Mengutip laporan Al Jazeera, Selasa (13/10), jaringan supermarket yang terdampak antara lain Intermarché, Netto, Coopérative U, Carrefour, Monoprix, dan E.Leclerc.


Sedikitnya 300 gerai Intermarché dan Netto menjadi sasaran serangan. Sementara itu, lebih dari 100 gerai Coopérative U dan 80 supermarket Carrefour dilaporkan terdampak. Monoprix menyebut sekitar 5 persen dari total 490 gerainya mengalami gangguan, sedangkan E.Leclerc melaporkan sejumlah tokonya turut menjadi sasaran.

Kantor Kejaksaan Paris menyatakan serangan tersebut menyasar lemari pendingin yang terhubung ke jaringan digital di sejumlah peritel makanan besar di Prancis. Akibatnya, terjadi kerugian persediaan makanan dan kebakaran di beberapa lokasi.

Suhu Pendingin Melonjak, Ribuan Produk Terancam

Serangan tersebut membuat sistem pendingin bekerja tidak semestinya. Para peretas diduga mengaktifkan proses pencairan es secara paksa dari jarak jauh, sehingga suhu di lemari pendingin dan freezer meningkat drastis.

Akibatnya, berbagai produk segar dan makanan beku tidak lagi dapat disimpan pada suhu yang aman. Supermarket yang terdampak terpaksa membuang produk-produk tersebut untuk mencegah risiko kesehatan bagi konsumen.

Thierry Cotillard, CEO Intermarché, mengatakan serangan itu berpotensi menimbulkan kerugian hingga puluhan juta euro di seluruh Prancis hanya dalam satu hari.

Besarnya kerugian secara keseluruhan masih belum diketahui. Namun, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan ritel, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi dan pasokan bahan pangan.

Dominique Schelcher, CEO Coopérative U, menyebut serangan terhadap peralatan yang berperan penting dalam menjaga kesegaran makanan dan pasokan pangan masyarakat sebagai tindakan yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya.

Pihaknya kini berupaya memulihkan sistem pendingin dan mengembalikan operasional toko seperti semula.

Pemerintah Prancis Turun Tangan

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu telah meminta Badan Keamanan Siber Nasional Prancis (ANSSI) menyelidiki serangan tersebut. Pemerintah juga berkoordinasi dengan negara-negara Eropa lainnya untuk mengetahui apakah serangan serupa turut mengancam perusahaan di luar Prancis.

Penyelidikan awal mengarah pada kerentanan software yang digunakan untuk mengendalikan sistem pendingin, yang dipasok oleh perusahaan Denmark, Danfoss.

Danfoss mengakui mengetahui adanya insiden yang memengaruhi sejumlah sistem pengelolaan pendingin di Prancis. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa perangkat yang terdampak menggunakan firmware atau perangkat lunak internal versi lama.

Danfoss sebelumnya sudah menyarankan pelanggan untuk memperbarui perangkat lunak serta mengganti peralatan lama yang sudah tidak lagi menerima pembaruan keamanan.

Meski demikian, penyelidikan masih diperlukan untuk memastikan bagaimana para peretas memanfaatkan kelemahan tersebut dan siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Bangun Ekosistem Plasma RI: Dari Investasi hingga Dampak bagi Pasien