Simpan HP di Kantong Bisa Merusak Kualitas Sperma? Ini Kata Dokter

Linda Hasibuan, CNBC Indonesia
Selasa, 13/10/2026 09:40 WIB
Foto: Ilustrasi sperma. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebiasaan menyimpan ponsel di kantong atau saku depan celana kerap dikaitkan dengan penurunan kualitas sperma pada pria. Kekhawatiran ini muncul karena radiasi elektromagnetik dari ponsel diduga dapat memengaruhi kesehatan sperma. Namun, apakah anggapan tersebut telah terbukti secara ilmiah?

Melansir Times of India, Dr. Rajeev Agarwal, dokter kandungan dan spesialis infertilitas di Renew Healthcare, menjelaskan bahwa hubungan antara paparan ponsel dan kesuburan pria tidak sesederhana yang sering diberitakan. Sejumlah penelitian memang menunjukkan adanya kaitan antara paparan radiasi ponsel dan penurunan kualitas sperma, tetapi bukti yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kebiasaan menyimpan ponsel di saku secara langsung menyebabkan infertilitas.

Salah satu temuan yang menjadi perhatian berasal dari meta-analisis yang menggabungkan data 18 penelitian dengan lebih dari 4.000 sampel semen. Analisis tersebut menemukan bahwa paparan radiasi elektromagnetik frekuensi radio dari ponsel (radiofrequency electromagnetic radiation/RF-EMR) secara konsisten dikaitkan dengan penurunan motilitas dan viabilitas sperma.


Motilitas merupakan kemampuan sperma untuk bergerak, sedangkan viabilitas menunjukkan persentase sperma yang masih hidup. Keduanya berperan penting dalam proses reproduksi.

Sebaliknya, hubungan antara paparan ponsel dan konsentrasi sperma atau jumlah sperma dalam semen menunjukkan hasil yang lebih beragam. Beberapa penelitian menemukan adanya hubungan, sementara penelitian lainnya tidak menunjukkan kaitan yang jelas.

Menurut Agarwal, perbedaan temuan tersebut penting untuk dipahami agar masyarakat tidak menarik kesimpulan berlebihan.

Pasalnya, penurunan kemampuan gerak dan viabilitas sperma tidak serta-merta berarti jumlah sperma akan berkurang atau seorang pria mengalami infertilitas.

Mengapa saku depan menjadi perhatian?

Sejumlah analisis menemukan bahwa dampak yang diduga berkaitan dengan paparan ponsel terlihat lebih nyata ketika perangkat disimpan di saku depan celana, dekat dengan testis.

Para peneliti mengajukan dua kemungkinan mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan tersebut. Pertama, paparan RF-EMR diduga dapat memicu stres oksidatif, yakni kondisi ketika jumlah radikal bebas melampaui kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Kondisi ini berpotensi merusak sel sperma dan materi genetiknya.

Kedua, panas dari perangkat menjadi perhatian karena produksi sperma membutuhkan suhu testis yang sedikit lebih rendah daripada suhu inti tubuh. Peningkatan suhu di sekitar testis dikhawatirkan dapat mengganggu proses pembentukan sperma.

Meski demikian, kedua mekanisme tersebut masih perlu ditelaah lebih lanjut untuk memastikan seberapa besar pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

Agarwal menegaskan bahwa temuan dari penelitian laboratorium tidak selalu mencerminkan dampak yang sama pada manusia dalam kondisi nyata.

Penelitian pada pasangan belum menunjukkan hubungan yang jelas

Di tengah temuan yang menimbulkan kekhawatiran, terdapat pula penelitian prospektif yang dirancang untuk mengamati pasangan yang sedang berusaha memperoleh kehamilan. Penelitian semacam ini dinilai penting karena tidak hanya mengukur kualitas sperma di laboratorium, tetapi juga memperhatikan hasil reproduksi dalam kehidupan nyata.

Salah satu penelitian tersebut tidak menemukan hubungan yang jelas antara kebiasaan menyimpan ponsel di saku dan kualitas sperma maupun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kehamilan.

Temuan ini menunjukkan bahwa bukti mengenai pengaruh ponsel terhadap kesuburan pria masih memiliki keterbatasan. Sebagian penelitian yang menunjukkan potensi dampak negatif berasal dari eksperimen laboratorium atau survei, sehingga belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat.

Dengan demikian, kebiasaan menyimpan ponsel di saku dapat dipandang sebagai faktor yang layak diperhatikan, tetapi belum terbukti sebagai penyebab langsung infertilitas pria.

Stres oksidatif dan nutrisi untuk kesehatan sperma

Di luar persoalan paparan ponsel, Agarwal menyoroti stres oksidatif sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan sperma. Kondisi ini dapat muncul akibat berbagai faktor dan tidak selalu berkaitan dengan penggunaan perangkat elektronik.

Sejumlah penelitian juga telah mengevaluasi peran antioksidan dalam mendukung kualitas sperma. Salah satunya adalah koenzim Q10 atau CoQ10, senyawa yang berperan dalam produksi energi sel dan memiliki fungsi antioksidan.

Menurut Agarwal, uji coba terkontrol secara acak menunjukkan bahwa suplementasi CoQ10 dapat menurunkan sejumlah penanda stres oksidatif dan meningkatkan motilitas sperma pada kondisi tertentu.

Namun, manfaat tersebut tidak berarti CoQ10 telah terbukti sebagai penawar khusus terhadap paparan radiasi ponsel. Bukti mengenai manfaatnya untuk parameter sperma perlu dibedakan dari bukti yang secara langsung menguji dampak paparan ponsel terhadap kesuburan.

Selain CoQ10, beberapa penelitian juga menelaah peran seng (zinc), selenium, vitamin C, vitamin E, dan likopen. Hasil analisis terhadap berbagai uji coba menunjukkan bahwa nutrisi tersebut berpotensi memberikan manfaat pada parameter sperma yang berbeda-beda.

Seng dan selenium, misalnya, dikaitkan dengan konsentrasi serta morfologi sperma, yaitu bentuk dan struktur sperma. Sementara itu, likopen diteliti karena potensinya dalam mengurangi kerusakan DNA akibat stres oksidatif.

Meski demikian, manfaat suplementasi dapat berbeda pada setiap individu. Kebutuhan nutrisi, kondisi kesehatan, dan penyebab gangguan kesuburan perlu dipertimbangkan sebelum seseorang mengonsumsi suplemen.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan pria

Untuk mengurangi paparan yang tidak diperlukan, pria dapat mempertimbangkan beberapa langkah sederhana, seperti tidak menyimpan ponsel di saku depan celana dalam waktu lama, terutama ketika sedang mengisi daya atau melakukan aktivitas yang membuat perangkat menjadi panas.

Meski begitu, langkah tersebut merupakan tindakan pencegahan yang masuk akal, bukan jaminan untuk meningkatkan kualitas sperma.

Hal yang tidak kalah penting adalah menghindari kesimpulan bahwa ponsel menjadi penyebab masalah kesuburan tanpa pemeriksaan medis. Kualitas sperma dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi kesehatan, usia, gaya hidup, dan faktor lingkungan.

Jika pasangan mengalami kesulitan memperoleh kehamilan, pemeriksaan klinis dan analisis semen dapat membantu menilai kondisi kesuburan pria secara lebih objektif.

Pada akhirnya, penelitian mengenai paparan ponsel dan kualitas sperma masih terus berkembang. Bukti yang ada menunjukkan kemungkinan hubungan dengan beberapa parameter sperma, terutama motilitas dan viabilitas, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa menyimpan ponsel di saku depan menyebabkan infertilitas.

Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan tanpa harus dilandasi kepanikan. Menjaga pola hidup sehat dan menjalani pemeriksaan medis ketika dibutuhkan tetap menjadi langkah penting untuk mendukung kesehatan reproduksi pria.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:

Bangun Ekosistem Plasma RI: Dari Investasi hingga Dampak bagi Pasien