Riset: Wanita 35-49 Tahun Berisiko Hadapi Risiko Infertilitas Tinggi

Linda Sari Hasibuan,  CNBC Indonesia
17 July 2026 17:15
Sekelompok perempuan berkebaya memperingati Hari Kartini di Kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu,21/4. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Sekelompok perempuan berkebaya memperingati Hari Kartini di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (21/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal medis terkemuka The Lancet membawa kabar penting bagi dunia kesehatan reproduksi.
Mengutip Euro News, para peneliti memperkirakan bahwa jumlah wanita yang mengalami infertilitas secara global akan melonjak hingga hampir 80 juta kasus dalam satu dekade mendatang. Angka ini menunjukkan peningkatan hampir 1,5 kali lipat dibandingkan data tahun 2023, yang sebagian besar didorong oleh tren menunda kehamilan.

Berdasarkan analisis data dari studi Beban Penyakit Global 2023 yang mencakup 204 negara dan wilayah, lonjakan ini terutama membayangi kelompok wanita berusia 35 hingga 49 tahun. Pada tahun 2023, tercatat ada sekitar 53,60 juta kasus infertilitas pada kelompok usia tersebut. Namun, angka ini diproyeksikan meroket hingga mendekati 80 juta pada tahun 2036, dengan peningkatan paling tajam diperkirakan terjadi pada wanita berusia 35 hingga 39 tahun.

Para penulis studi menjelaskan bahwa faktor biologis alami menjadi hambatan terbesar ketika seorang wanita memutuskan untuk menunda kehamilan seiring bertambahnya usia. Hal ini tentunya mengurangi kesuburan, meningkatkan risiko keguguran, dan menurunkan tingkat keberhasilan teknologi reproduksi berbantuan seperti bayi tabung atau IVF) justru menurun pada usia lanjut.

"Seiring dengan percepatan penuaan populasi dan transisi sosial-ekonomi, jumlah wanita yang terpapar risiko infertilitas di usia lanjut terus meningkat, menjadikannya isu kesehatan masyarakat yang semakin penting," tulis para peneliti asal China yang memimpin studi tersebut.

Tren peningkatan infertilitas ini ditemukan paling tinggi di negara-negara maju dan berkembang pesat, di mana perubahan sosial dan demografis terjadi secara bersamaan. Saat ini, semakin banyak orang yang memilih untuk menikah dan membangun keluarga di usia yang lebih matang.

Di sisi lain, kesadaran yang lebih tinggi mengenai kesehatan reproduksi membuat semakin banyak pasangan yang aktif mencari bantuan medis. Sayangnya, kesadaran ini tidak selalu diiringi dengan kemudahan akses. Di banyak negara, tes dan perawatan kesuburan masih sangat mahal, terbatas, dan sulit dijangkau. Akibatnya, permintaan masyarakat akan perawatan medis tumbuh jauh lebih cepat daripada ketersediaan layanannya sendiri.

Meski demikian, jalan keluar dari masalah ini dinilai tidak bisa hanya mengandalkan teknologi medis semata. Rocío Núñez Calonge, seorang ahli biologi dan pakar kesuburan yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menekankan pentingnya perbaikan struktural di masyarakat.

"Di negara-negara seperti Spanyol, kita juga harus mengatasi faktor sosial yang membuat orang-orang menunda kehamilan. Ini termasuk urusan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance), stabilitas ekonomi, serta dukungan kelembagaan agar pasangan merasa siap dan aman untuk memiliki anak di usia yang lebih muda."

Sebagai catatan, infertilitas bukanlah masalah yang hanya dihadapi oleh wanita. Data global menunjukkan bahwa sekitar satu dari enam orang di seluruh dunia akan mengalami infertilitas pada suatu waktu dalam hidup mereka, memengaruhi sekitar 8 hingga 12 persen pasangan usia subur secara global.

Melalui temuan ini, para ahli berharap pemerintah di berbagai belahan dunia mulai merancang kebijakan sosial yang lebih ramah keluarga untuk membantu mengatasi tantangan reproduksi di masa depan.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Penyakit Menular Seksual Naik Tajam Sentuh Rekor, Apa Pemicunya?


Most Popular
Features