5 Penyebab Gula Darah Tinggi yang Bukan Makanan

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
28 September 2026 17:00
lustrasi kadar gula darah. (Freepik)
Foto: lustrasi kadar gula darah. (Freepik)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi penyandang diabetes, memantau kadar gula darah dan mencatat asupan makanan merupakan bagian penting dalam pengelolaan kondisi sehari-hari. Kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang memahami bagaimana tubuh merespons makanan, aktivitas fisik, maupun perubahan rutinitas.

Namun, tidak semua kenaikan gula darah disebabkan oleh makanan yang dikonsumsi. Dalam kondisi tertentu, kadar glukosa dapat meningkat secara tidak terduga meski pola makan relatif terjaga.

Ada sejumlah faktor yang kerap luput diperhatikan, berikut paparannya melansir Eating Well.

1. Saat sakit atau mengalami stres

Ketika tubuh sedang sakit, terjadi respons stres yang dapat mendorong kenaikan kadar gula darah. Stres memicu pelepasan hormon kortisol yang berperan dalam respons tubuh terhadap tekanan. Bersama berbagai zat yang berkaitan dengan peradangan, kondisi tersebut dapat mendorong proses pemecahan glikogen dan pembentukan glukosa baru di dalam tubuh.

Glikogenolisis merupakan proses pemecahan glikogen, yaitu bentuk glukosa yang tersimpan di dalam tubuh, menjadi glukosa yang kemudian dilepaskan ke aliran darah. Sementara itu, glukoneogenesis merupakan proses pembentukan glukosa dari sumber non-karbohidrat.

Kombinasi proses tersebut dapat membuat kadar gula darah meningkat.

Saat sedang sakit, penyandang diabetes sebaiknya lebih rutin memantau kadar gula darah dan mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan tenaga medis. Asupan makanan dan minuman juga tetap perlu diperhatikan, terutama karbohidrat dalam bentuk cair seperti jus, minuman bersoda, atau kopi manis yang dapat meningkatkan gula darah dengan cepat.

Jika terjadi perubahan kadar gula darah yang signifikan atau sulit dikendalikan, komunikasikan kondisi tersebut kepada tim medis.

2. Dehidrasi

Kekurangan cairan juga dapat berpengaruh terhadap kadar gula darah. Air dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi penting, termasuk membantu mengatur suhu tubuh, proses pencernaan, mengangkut zat-zat di dalam tubuh, hingga membuang sisa metabolisme.

Ketika mengalami dehidrasi, jumlah cairan dalam tubuh berkurang sehingga konsentrasi glukosa dalam darah dapat meningkat.

Karena itu, menjaga kecukupan cairan perlu menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Salah satu indikator sederhana yang dapat diperhatikan adalah warna urine. Urine berwarna kuning muda umumnya menunjukkan hidrasi yang cukup, sedangkan warna yang lebih pekat dapat menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak cairan.

Kebutuhan cairan setiap orang berbeda-beda dan dapat dipengaruhi kondisi kesehatan, aktivitas, cuaca, serta faktor lainnya. Air putih dapat menjadi pilihan utama, sementara teh herbal tanpa tambahan gula juga dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan.

3. Obat-obatan tertentu

Beberapa jenis obat dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Di antaranya adalah steroid, obat penstabil suasana hati, serta sejumlah obat seperti statin dan diuretik yang digunakan dalam penanganan kondisi kardiovaskular.

Efeknya dapat berbeda-beda tergantung jenis obat, dosis, kondisi kesehatan, serta respons tubuh seseorang. Steroid, misalnya, dapat memengaruhi kerja insulin dan metabolisme glukosa. Sementara itu, diuretik meningkatkan pengeluaran urine dan pada kondisi tertentu dapat berkontribusi terhadap perubahan kadar glukosa.

Karena itu, penyandang diabetes sebaiknya tidak menghentikan atau mengubah dosis obat secara asal hanya karena mendapati gula darah meningkat. Sebaliknya, tanyakan kepada dokter atau tenaga kesehatan apakah obat yang dikonsumsi dapat memengaruhi kadar gula darah, efek samping apa yang perlu diperhatikan, dan kapan harus mendapatkan pertolongan medis.

4. Perubahan hormon

Hormon juga memainkan peran penting dalam pengaturan kadar glukosa. Glukagon, amilin, epinefrin, kortisol, dan hormon pertumbuhan terlibat dalam proses yang memengaruhi produksi glukosa oleh hati serta sensitivitas tubuh terhadap insulin.

Pada perempuan dengan diabetes tipe 1, perubahan hormon selama siklus menstruasi dapat menyebabkan perubahan kadar glukosa pada fase tertentu. Kehamilan juga membawa perubahan hormonal yang dapat memengaruhi kadar gula darah.

Hormon yang diproduksi plasenta selama kehamilan, misalnya, dapat meningkatkan resistensi insulin sehingga kadar gula darah ibu dapat meningkat.

Karena itu, pemantauan gula darah menjadi bagian penting dalam pemeriksaan selama kehamilan. Bila diperlukan, ibu hamil dapat berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan panduan mengenai pola makan dan pengelolaan gula darah yang sesuai.

5. Kurang tidur

Kualitas dan durasi tidur ternyata juga berkaitan dengan pengelolaan gula darah. Kurang tidur dapat membuat sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin, yang pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap peningkatan kadar gula darah. Karena itu, menjaga kebiasaan tidur yang baik atau sleep hygiene penting bagi penyandang diabetes.

Jika gangguan tidur berlangsung terus-menerus, pemeriksaan lebih lanjut dapat dipertimbangkan untuk mengetahui penyebabnya.

Pada akhirnya, kenaikan gula darah yang tidak terduga tidak selalu berarti seseorang melakukan kesalahan dalam memilih makanan. Kondisi tubuh saat sakit, dehidrasi, obat-obatan tertentu, perubahan hormon, hingga kurang tidur dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Bau Badan Bisa Jadi Pertanda Diabetes, Begini Cara Bedakannya


Most Popular
Features