Waspada! Mpox Muncul Lagi, Kini Menyerang Anak-Anak
Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit mpox kembali menjadi perhatian dunia setelah wabah baru terdeteksi di Guinea-Bissau. Ini menjadi pertama kalinya negara di Afrika Barat tersebut melaporkan kasus mpox.
Wabah terbaru ini menimbulkan kekhawatiran baru, terutama karena cukup banyak anak-anak yang diduga terinfeksi.
Melansir Guardian, berdasarkan data UNICEF, dari 46 kasus suspek yang ditemukan di Guinea-Bissau, sebanyak 23 di antaranya merupakan anak berusia di bawah 15 tahun. Sebagian besar dari kelompok tersebut bahkan berusia di bawah empat tahun.
Kemunculan kasus baru ini terjadi setelah dua gelombang wabah besar mpox pada 2022 dan 2024 menyebar ke berbagai negara di dunia. Sejak 2022, hampir 190.000 kasus mpox yang telah dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dilaporkan di 145 negara.
Sebelum periode tersebut, wabah mpox umumnya berskala kecil dan terkonsentrasi di sejumlah negara Afrika, tempat virus tersebut memang telah lama bersifat endemik.
Apa Itu Mpox?
Mpox merupakan penyakit menular yang umumnya diawali gejala menyerupai flu, seperti demam, menggigil, dan nyeri otot. Setelah itu, muncul ruam khas pada kulit. Ruam tersebut biasanya bermula sebagai bintik yang menonjol, kemudian berkembang menjadi lepuhan berisi cairan sebelum akhirnya mengering dan membentuk keropeng.
Penyakit ini sebelumnya dikenal dengan nama monkeypox atau cacar monyet. Nama tersebut muncul setelah virus pertama kali ditemukan pada monyet yang dipelihara di penangkaran pada 1958.
Namun, ketika wabah internasional terjadi pada 2022, muncul kekhawatiran bahwa penggunaan istilah monkeypox dapat memicu stigma dan bahasa bernuansa rasial. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kemudian merekomendasikan penggunaan istilah "mpox".
Virus ini secara historis endemik di sejumlah wilayah Afrika. Penularan awal pada manusia kerap dikaitkan dengan konsumsi daging hewan liar yang terinfeksi.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola penyebaran berubah. Virus semakin mampu menyebar melalui rantai penularan antarmanusia dan mulai ditemukan di luar wilayah endemiknya.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bahkan memperkirakan mpox berpotensi menjadi penyakit endemik di AS.
Mengapa Mpox Menyebar ke Negara Baru?
Secara umum terdapat dua kelompok utama mpox yang dikenal sebagai clade I dan clade II. Clade I sebelumnya dikenal sebagai Congo Basin clade, sedangkan clade II dikenal sebagai West African clade.
Clade II menjadi penyebab utama wabah global pada 2022. Virus tersebut diduga mengalami perubahan yang membuatnya lebih mudah menular dari satu manusia ke manusia lainnya.
Penularan mpox terjadi melalui kontak fisik yang dekat. Dalam wabah 2022, sebagian besar penularan berkaitan dengan kontak seksual, dengan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki menjadi salah satu kelompok yang memiliki risiko tinggi.
Kemudian pada Juni 2024, peneliti mengidentifikasi varian baru dari clade I di Republik Demokratik Kongo (DRC). Varian tersebut juga menunjukkan kemampuan penularan antarmanusia yang lebih tinggi.
Wabah itu berkembang menjadi keadaan darurat internasional. WHO menetapkannya sebagai public health emergency of international concern pada 14 Agustus 2024. Menurut Prof Michael Marks dari London School of Hygiene & Tropical Medicine dan University College London Hospital, munculnya mpox di lebih banyak negara Afrika Barat sebenarnya merupakan perkembangan yang dapat diperkirakan.
Mpox dapat menyebar melalui kontak fisik dekat dalam berbagai situasi. Selain jaringan seksual, penularan juga lebih mudah terjadi di lingkungan padat, termasuk tempat pengungsian dan permukiman dengan banyak orang yang tinggal berdekatan.
Wabah global 2022 dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat pada Juli tahun tersebut. Setelah dilakukan pelacakan kontak dan program vaksinasi massal, status darurat tersebut dicabut pada Mei 2023. Saat itu, sekitar 90.000 infeksi telah dilaporkan.
Sementara itu, status keadaan darurat internasional akibat wabah 2024 dicabut pada September 2025. Pencabutan status tersebut bukan berarti mpox telah menghilang. Keputusan diambil karena jumlah kasus dan kematian telah menurun dan situasi dinilai lebih terkendali.
Namun, status darurat internasional dapat kembali diberlakukan apabila pengujian genetik menemukan varian baru atau sistem pemantauan menunjukkan bahwa wabah menyebar dengan sangat cepat, menyebabkan penyakit yang lebih parah, atau meningkatkan angka kematian.
Mengapa Wabah di Guinea-Bissau Mengkhawatirkan?
Guinea-Bissau sebelumnya belum pernah melaporkan kasus mpox. Perhatian khusus kini tertuju pada anak-anak. Dari 46 kasus suspek yang dilaporkan, 23 merupakan anak berusia di bawah 15 tahun dan sebagian besar berusia kurang dari empat tahun.
Dr Aula Abbara dari Imperial College London sekaligus penasihat Médecins Sans Frontières UK mengatakan anak-anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit berat dan kematian akibat mpox. Anak-anak, khususnya yang masih sangat kecil, dapat mengalami kondisi yang jauh lebih parah dibandingkan orang dewasa yang sehat.
Meski demikian, data mengenai tingginya proporsi anak dalam wabah Guinea-Bissau perlu dibaca secara hati-hati. Menurut Abbara, terdapat kemungkinan bias dalam data.
Keluarga cenderung lebih cepat mencari pertolongan medis ketika anak sakit dibandingkan ketika anggota keluarga dewasa mengalami gejala, terutama di negara dengan sumber daya kesehatan terbatas.
Faktor lingkungan juga berperan. Anak-anak memiliki kontak fisik yang dekat dengan orang tua dan sesama anak. Di wilayah dengan kondisi tempat tinggal yang padat, peluang terjadinya penularan pun meningkat.
Yang juga menjadi perhatian adalah sejumlah kasus yang telah dikonfirmasi tidak tampak memiliki hubungan satu sama lain. Kondisi tersebut dapat menjadi indikasi bahwa virus telah menyebar lebih luas di masyarakat dan masih terdapat kasus yang belum teridentifikasi.
Apakah Ada Vaksin dan Obatnya?
WHO merekomendasikan dua jenis vaksin mpox. Vaksin dapat diberikan kepada kelompok yang memiliki risiko tinggi maupun orang yang baru melakukan kontak dengan pasien terkonfirmasi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Namun, tantangan terbesar adalah distribusi vaksin. Pasokan vaksin saat ini relatif lebih banyak tersedia di negara berpendapatan tinggi. Sebaliknya, negara-negara berpendapatan rendah yang dalam banyak kasus justru memiliki kebutuhan lebih besar dan kondisi yang mendukung penularan, menghadapi keterbatasan pasokan.
Stok vaksin global baru juga dijadwalkan mulai diluncurkan dalam beberapa pekan. Mekanisme ini diharapkan dapat mempercepat pengiriman vaksin ketika wabah baru muncul.
Selain itu, stok global tersebut diharapkan memberikan kepastian permintaan kepada produsen sehingga mereka dapat melakukan perencanaan dan meningkatkan produksi vaksin. Untuk pengobatan, antivirus tecovirimat tidak menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan plasebo dalam uji terhadap pasien mpox clade I di DRC.
Namun, masih terdapat pertanyaan apakah obat tersebut dapat memberikan manfaat bagi kelompok tertentu, termasuk pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu seperti orang yang hidup dengan HIV.
Menariknya, penelitian tersebut menunjukkan bahwa perawatan suportif yang baik dapat meningkatkan peluang pasien untuk bertahan hidup secara signifikan. Para ahli juga menilai vaksin tetap menjadi instrumen penting dalam mengendalikan wabah mpox. Namun, vaksinasi bukan satu-satunya solusi.
Deteksi dini, pemeriksaan laboratorium, pelacakan kontak, perawatan suportif serta sistem pengawasan kesehatan masyarakat yang kuat juga diperlukan untuk menghentikan penyebaran.
"Vaksin penting, tetapi wabah tidak dapat dikendalikan hanya dengan vaksin," kata Abbara.
Ia bilang, kemampuan mendeteksi kasus sedini mungkin dan mengetahui siapa saja yang telah melakukan kontak dengan pasien menjadi kunci untuk mencegah terbentuknya rantai penularan baru.
(hsy/hsy)