Lagi Tren Gen Z Tolak Promosi, Kenapa Tak Mau Jadi Bos?

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Senin, 27/07/2026 10:55 WIB
Foto: Ilustrasi Gen Z. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bagi Generasi Z (Gen Z), kesuksesan karir tidak lagi didefinisikan oleh promosi jabatan. Alih-alih mengejar posisi manajerial, banyak pekerja muda kini lebih memilih menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance.

Tren ini menjadi tantangan baru bagi perusahaan yang tengah mempersiapkan calon pemimpin masa depan. Pasalnya, semakin sedikit karyawan muda yang tertarik menduduki posisi manajemen.

CEO Enpulse sekaligus pakar keterlibatan karyawan, Tomasz Szklarski mengatakan, hanya sekitar 6% Gen Z di dunia yang bercita-cita menjadi manajer senior atau bos.

"Melihat riset global, hanya sekitar 6% Generasi Z yang ingin mengambil peran manajemen senior dan menjadi bos. Bagi organisasi dan strukturnya, ini merupakan masalah yang sangat besar," ujar Szklarski dilansir Euronews, Senin (27/7/2026).

Ia bilang, keengganan Gen Z untuk menjadi manajer terutama dipicu oleh semakin besarnya tanggung jawab yang melekat pada posisi tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah karyawan yang berada di bawah satu manajer meningkat signifikan.

Jika sebelumnya rata-rata seorang manajer membawahi sekitar enam orang, kini jumlahnya meningkat menjadi sekitar 12 orang. Kondisi tersebut membuat tekanan terhadap manajer semakin besar.

Di satu sisi, mereka harus memenuhi target bisnis yang ditetapkan direksi dan jajaran eksekutif. Di sisi lain, mereka juga dituntut membimbing, memotivasi, serta menjaga kesejahteraan tim yang ukurannya semakin besar.

"Generasi Z telah mempertimbangkan secara matang arti keseimbangan kehidupan dan pekerjaan dibandingkan pengorbanan yang diperlukan untuk menjadi bos. Mereka melihat dengan jelas beban yang harus ditanggung seorang manajer," kata Szklarski.

Menurutnya, seorang manajer bukan hanya bertanggung jawab kepada atasan, tetapi juga harus terus mendukung tim yang semakin besar dan kompleks.

Tantangan Besar bagi Dunia Kerja

Szklarski menilai minimnya minat terhadap jabatan manajerial bukan hanya menjadi persoalan bagi masing-masing perusahaan, tetapi juga merupakan tren global yang berpotensi memberi dampak besar, terutama di Eropa. Benua tersebut saat ini menghadapi perubahan demografi yang menyebabkan jumlah angkatan kerja terus menyusut.

"Akan ada semakin sedikit orang yang bekerja, terutama di Eropa. Jika kita tidak menyiapkan generasi baru manajer dan mendorong mereka mengambil tanggung jawab memimpin tim, maka organisasi akan menghadapi tantangan yang semakin besar dalam menjaga efisiensi," ujarnya.

Meski kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin banyak digunakan untuk mengotomatisasi berbagai pekerjaan, Szklarski menilai teknologi tersebut belum mampu mengatasi kekurangan pemimpin di tempat kerja. Ia mengatakan, masih belum jelas apakah karyawan bersedia menerima arahan dari algoritma AI atau apakah teknologi tersebut dapat menjalankan seluruh fungsi seorang manajer.

Ia menilai, memimpin tim tetap membutuhkan kemampuan yang sulit digantikan mesin, seperti empati, membangun hubungan dengan anggota tim, memotivasi karyawan, hingga mengambil keputusan dengan mempertimbangkan aspek kemanusiaan dalam organisasi.



(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Trump Puji Piala Dunia 2026 sebagai Salah Satu Acara Terbesar