8 Photos
Anak Muda Korea Ramai-Ramai Cari Jodoh di Kuil, Nyerah dengan Aplikasi
Retret perjodohan di Kuil Naksansa, Korea Selatan, berhasil mempertemukan lima pasangan lajang sebagai upaya mengatasi rendahnya angka kelahiran.
Sebuah kuil Buddha berusia lebih dari 1.300 tahun di Korea Selatan menjadi lokasi retret perjodohan yang mempertemukan para lajang muda di tengah kekhawatiran terhadap rendahnya angka kelahiran di negara tersebut. Program yang digelar selama dua hari satu malam di Kuil Naksansa, Kabupaten Yangyang, berhasil memasangkan lima pasangan. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Retret berlangsung di Kuil Naksansa yang didirikan pada 671 Masehi pada era Kerajaan Silla. Salah satu kegiatan utamanya adalah latihan membangun kepercayaan, di mana peserta berjalan dengan mata tertutup sambil bergandengan tangan dan saling memandu melalui deskripsi pemandangan. Seorang biksu mengikuti mereka dari belakang hingga mencapai gerbang kuil yang menurut legenda merupakan tempat mimpi menjadi kenyataan. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Program ini diikuti 10 pria dan 10 wanita lajang berusia 20 hingga 30 tahun. Retret diselenggarakan oleh Yayasan Buddhis Korea untuk Kesejahteraan Sosial yang meluncurkan inisiatif tersebut pada 2023 sebagai upaya membantu mengatasi krisis angka kelahiran dengan mempertemukan para lajang muda. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Minat terhadap program terus meningkat. Pada penyelenggaraan tahun ini, sebanyak 4.225 orang mendaftar untuk memperebutkan hanya 20 tempat yang tersedia, mencatat jumlah pelamar tertinggi sejak program dimulai. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Salah seorang peserta, Choi Ye-ri (30), mengaku terdorong mengikuti retret karena melihat banyak orang di sekitarnya telah menikah dan membangun keluarga. "Mereka bilang angka kelahiran menurun dan semakin banyak orang memilih tidak menikah. Namun, semua orang di sekitar saya menikah dan memiliki pasangan. Melihat itu membuat saya juga ingin melakukan hal yang sama," katanya. Ia menambahkan bahwa suasana kuil membuatnya yakin peserta yang datang memiliki karakter yang baik. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Berbeda dengan kencan buta pada umumnya, para peserta menjalani berbagai aktivitas bersama untuk saling mengenal. Mereka mengenakan pakaian tradisional kuil, dipasangkan secara acak melalui undian nomor atau pencocokan barang pribadi, berbincang sambil minum teh dan berjalan kaki, mengikuti yoga berpasangan di pantai, hingga menjalani sesi kencan singkat satu lawan satu. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Ketua Yayasan Buddhis Korea untuk Kesejahteraan Sosial, Yang Mulia Doryun, mengatakan retret tersebut bukan sekadar ajang mencari pasangan. Menurutnya, kegiatan itu juga bertujuan mendorong peserta merenungkan persoalan rendahnya angka kelahiran serta memikirkan masa depan Korea Selatan. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
Menurut Kementerian Data dan Statistik Korea Selatan, angka kesuburan total negara itu naik menjadi 0,80 pada 2025 dari 0,75 pada 2024, menandai peningkatan selama dua tahun berturut-turut. Meski demikian, pemerintah memperkirakan jumlah penduduk Korea Selatan akan menyusut dari sekitar 51,8 juta jiwa menjadi 36,2 juta jiwa pada 2072. Panitia mengumumkan pada Minggu (12/7/2026) bahwa retret tersebut berhasil mempertemukan lima pasangan. (REUTERS/Kim Soo-hyeon)
source on Google