Warga Singapura Ogah Punya Anak, Angka Kesuburan Sentuh Rekor Terendah

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
27 February 2026 17:10
Ilustrasi Ritel di Singapura. AP/David Goldman(AP Photo/David Goldman)
Foto: Ilustrasi Singapura. AP/David Goldman

Jakarta, CNBC Indonesia - Angka kesuburan Singapura turun signifikan ke angka terendah yaitu 0,87 pada 2025, kata Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong di parlemen pada Kamis (26/2/2026).

Tingkat kesuburan Negeri Singa turun di bawah 1,0 untuk pertama kalinya pada tahun 2023 menjadi 0,97, menurut laporan CNA. Kondisi tersebut semakin memburuk pada 2025 saat tingkat kesuburan mencapai rekor terendah baru di angka 0,87.

Meski ada imigrasi, pertumbuhan populasi Singapura melambat selama 10 tahun terakhir - turun dari rata-rata 0,9 persen per tahun pada 2015 hingga 2020, menjadi 0,8 persen per tahun selama tahun 2020 hingga 2025.

"Jika tidak ada tindakan baru yang diambil, populasi warga negara kita akan mulai menyusut pada awal tahun 2040-an," kata Gan.

Dengan asumsi angka kelahiran total tetap di angka 0,87, setiap 100 penduduk saat ini hanya akan memiliki 44 anak dan 19 cucu, tambahnya. 

Seiring waktu, Gan menilai "hampir mustahil" untuk membalikkan tren tersebut, karena Singapura akan memiliki lebih sedikit perempuan yang dapat melahirkan anak.

Singapura mencatat sekitar 27.500 kelahiran penduduk pada 2025, angka terendah dalam sejarahnya. "Tren secara keseluruhan juga sangat mengkhawatirkan. Tingkat pernikahan menurun, dan mereka yang menikah memiliki lebih sedikit anak atau tidak memiliki anak sama sekali," tambah Gan.

Apa strategi Singapura?

Untuk mendongkrak angka kelahiran tidak bisa hanya dengan kebijakan saja, kata Menteri di Kantor Perdana Menteri Indranee Rajah.

"Yang kita butuhkan adalah perubahan mendasar dalam pernikahan dan pengasuhan anak," tambahnya.

Singapura harus mengubah tiga hal: bagaimana pernikahan dan pengasuhan anak dipandang dan didukung, bagaimana tempat kerja dapat berkembang untuk lebih menyelaraskan pekerjaan dan keluarga, dan bagaimana setiap orang dapat memainkan perannya.

Dia menambahkan bahwa pemerintah akan mempertimbangkan cuti perawatan anak yang lebih banyak dan memberikan lebih banyak dukungan bagi orang tua terkait biaya.

Selain itu, Singapura juga akan menerima hingga 30.000 warga negara baru setiap tahun dalam lima tahun ke depan. Kebijakan ini disesuaikan dengan tren demografi, termasuk angka kelahiran total.

(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pemerintah Longgarkan Aturan Menikah, Bisa di Gunung hingga Klub Malam


Most Popular
Features