PHK Naik di Singapura, Lulusan Sarjana yang Jadi Korban Melonjak

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Rabu, 17/06/2026 11:05 WIB
Foto: Bendera Singapura. (AFP/Roslan Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Singapura meningkat pada kuartal I-2026. Pekerja berpendidikan sarjana menjadi kelompok yang paling terdampak di tengah restrukturisasi yang masih berlangsung pada sektor profesional dan berbasis pengetahuan.


Melansir Channel News Asia, Rabu (17/6/2026), Kementerian Tenaga Kerja Singapura atau Ministry of Manpower (MOM) mencatat, jumlah PHK naik menjadi 3.830 kasus pada kuartal I-2026, dari 3.690 kasus pada kuartal IV-2025. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh restrukturisasi dan reorganisasi perusahaan, bukan karena langkah penghematan biaya.

PHK banyak terjadi di sektor yang berorientasi pada pasar eksternal seperti manufaktur, jasa keuangan, dan jasa profesional. Meski demikian, MOM menegaskan tingkat PHK secara keseluruhan masih berada pada level 1,6 per 1.000 pekerja, yang dinilai masih berada dalam kategori normal dan belum mencerminkan kondisi resesi.

Data menunjukkan, tingkat PHK pada kelompok lulusan sarjana melonjak dari 2,6 menjadi 3,1 per 1.000 pekerja penduduk. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh kelompok tingkat pendidikan lainnya.

MOM mengatakan, kondisi itu menunjukkan aktivitas restrukturisasi masih terkonsentrasi pada pekerja berpendidikan tinggi, sejalan dengan perubahan organisasi yang berlangsung di sektor profesional dan industri berbasis pengetahuan.

Sebaliknya, tingkat PHK pada pekerja dengan pendidikan sekolah menengah atau lebih rendah justru turun menjadi 0,7 per 1.000 pekerja. Sementara pekerja dengan diploma dan sertifikasi profesional turun menjadi 1,1 per 1.000 pekerja.

Tidak hanya lulusan sarjana, pekerja berusia 50 hingga 59 tahun juga mengalami kenaikan tingkat PHK. Angkanya meningkat dari 2,8 menjadi 3,1 per 1.000 pekerja penduduk pada kuartal pertama tahun ini.

Sementara itu, kelompok profesional, manajer, eksekutif, dan teknisi atau PMET tetap menjadi kelompok pekerjaan dengan tingkat PHK tertinggi, yakni 2,6 per 1.000 pekerja. Angka tersebut tidak berubah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Meski jumlah PHK meningkat, pasar tenaga kerja Singapura masih menunjukkan ketahanan. Tingkat pekerja yang berhasil kembali mendapatkan pekerjaan dalam waktu enam bulan setelah terkena PHK meningkat menjadi 60,7%, dari sebelumnya 57,4%. Perbaikan terlihat pada kelompok PMET, lulusan sarjana, serta pekerja muda berusia di bawah 30 tahun.

Menteri Tenaga Kerja Singapura, Tan See Leng, mengatakan, PHK tetap menjadi pengalaman yang berat bagi pekerja. Namun ia melihat perkembangan positif dari semakin cepatnya pekerja yang terdampak kembali memperoleh pekerjaan.

"PHK tidak pernah menjadi hal yang mudah. Namun yang menggembirakan, kami melihat semakin banyak pekerja yang terkena PHK mampu kembali mendapatkan pekerjaan lebih cepat," ujar Tan.

Dalam laporan yang sama, MOM untuk pertama kalinya turut menyoroti dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja. Berdasarkan data yang dirilis pada April lalu, hanya 6,2% perusahaan yang menerapkan atau menguji coba AI melaporkan pengurangan jumlah pekerja, sementara 8,5% melaporkan penurunan perekrutan.

Sebaliknya, perusahaan lebih banyak memilih mendesain ulang pekerjaan setelah mengadopsi AI. Sebanyak 18,9% responden menyatakan telah mengubah fungsi pekerjaan akibat penerapan teknologi tersebut. Tan menilai AI sejauh ini lebih banyak mengubah bentuk pekerjaan dibanding menghilangkannya.

"AI memang akan mengubah cara kita bekerja. Namun sejauh ini, yang kami lihat adalah AI lebih banyak membentuk ulang pekerjaan dibanding menggantikan pekerja," katanya.

Sekitar 85% pengguna AI juga melaporkan peningkatan produktivitas, penghematan waktu, dan kualitas pekerjaan yang lebih baik. Oleh sebab itu, pemerintah Singapura terus mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan pekerjaan baru di era AI.


(miq/miq) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Meksiko Taklukkan Afrika Selatan 2-0 di Piala Dunia 2026