Beda Sikap FIFA ke Indonesia dan Amerika Jadi Tuan Rumah Piala Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Penunjukan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah utama Piala Dunia 2026 terus menuai sorotan tajam. Di balik optimisme tinggi yang digaungkan oleh Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), terselip kontroversi besar mengenai kebijakan imigrasi dan akses masuk ke Negeri Paman Sam yang dinilai mempersulit sejumlah pihak.
Mengutip BBC, sejumlah pengamat dan penggemar sepak bola menilai badan sepak bola dunia itu menerapkan standar berbeda dalam menangani isu politik yang melibatkan negara peserta.
Perdebatan tersebut mengacu pada keputusan FIFA pada 2023 yang mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 setelah muncul penolakan terhadap kehadiran tim nasional Israel. Saat itu, FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia dengan membatalkan penyelenggaraan turnamen yang sedianya digelar di Tanah Air.
Namun, situasi berbeda terjadi pada Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat (AS), Meksiko, dan Kanada.
Salah satu kasus yang mencuat ke publik adalah Tim nasional Iran tetap berlaga di turnamen tersebut meskipun sejumlah anggota federasi, staf pendukung, dan pihak terkait dilaporkan mengalami kendala visa untuk masuk ke Amerika Serikat.
Ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran berdampak langsung pada area olahraga. Amerika Serikat secara sepihak membatalkan alokasi tiket pertandingan sebesar 8% yang menjadi hak para suporter Iran.
Selain itu, otoritas AS menolak menerbitkan visa untuk 13 staf kepelatihan Timnas Iran. Akibat hambatan ini, Timnas Iran terpaksa memindahkan basis pelatihan mereka ke Tijuana, Meksiko, yang berada dekat perbatasan untuk mengantisipasi ketidakpastian izin masuk pemain.
Tidak hanya itu, kontroversi lainnya terjadi terhadap Omar Abdulkadir Artan, wasit asal Somalia yang dipilih oleh FIFA dan diproyeksikan mencetak sejarah sebagai wasit pertama dari negaranya di Piala Dunia. Artan dilarang masuk ke wilayah Amerika Serikat.
Penolakan ini terjadi akibat implementasi kebijakan imigrasi ketat pemerintahan Presiden Donald Trump yang membatasi kunjungan warga dari beberapa negara tertentu, termasuk Somalia. Meskipun sempat diinterogasi selama 11 jam atas dugaan keamanan, ia akhirnya dideportasi cepat dan batal bertugas di turnamen ini.
Kemudian, striker andalan Timnas Irak, Aymen Hussein, sempat ditahan dan menjalani proses interogasi intensif selama tujuh jam oleh pihak imigrasi setibanya di Bandara Internasional O'Hare Chicago. Walau pada akhirnya Aymen diberikan izin masuk setelah melalui pemeriksaan dokumen dan keamanan yang ketat, insiden ini menambah daftar panjang kekhawatiran tim-tim asal Timur Tengah.
Bagi Omar Artan dan semua orang lain yang menghadapi komplikasi serius untuk masuk ke Amerika Serikat, mungkin mereka merasa belum dibantu. Janji "dukungan penuh" dari pemerintah AS yang dipuji oleh Infantino dirasa masih menjadi retorika belaka bagi mereka yang tertahan di gerbang imigrasi.
Sementara itu, Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan bahwa FIFA tidak memiliki kewenangan untuk mengatur kebijakan imigrasi pemerintah Amerika Serikat. Menurutnya, keputusan terkait izin masuk tetap berada di tangan otoritas negara tuan rumah.
Piala Dunia di AS 'mustahil' tanpa Trump
FIFA telah menghadapi tuduhan bahwa mereka telah kehilangan kendali atas Piala Dunia mereka sendiri. Bahwa mereka tidak mampu mencapai konsesi nyata dan konkret apa pun dari pemerintahan Trump yang menjadikan kebijakan anti-imigrasi sebagai pilar administrasinya.
Secara terbuka, Infantino pasang badan dan memuji komitmen pemerintah AS dalam mempersiapkan turnamen sepak bola terbesar di jagat raya ini. Menurutnya, pemerintah setempat sangat memahami skala dan dampak masif dari kompetisi ini.
"Dia (Trump) langsung memahami besarnya Piala Dunia, dampak Piala Dunia, dan menginstruksikan administrasi untuk membantu dan mendukung," kata Presiden FIFA tersebut, merujuk pada komitmen penuh dari otoritas tertinggi Amerika Serikat.
Infantino menegaskan bahwa koordinasi antara FIFA dan administrasi pemerintah AS berjalan sangat suportif demi menjamin kelancaran turnamen yang akan menyedot perhatian miliaran pasang mata.
"Saya tidak menyesali apa pun. Saya memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Trump. Saya sangat senang tentang itu. Tanpa keterlibatan dan partisipasinya, saya pikir mustahil untuk menyelenggarakan Piala Dunia di Amerika Serikat," kata Infantino ketika ditanya tentang Piala Dunia yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat.
Terkait berbagai kejadian tersebut, FIFA pun di desak melakukan intervensi lebih kuat kepada pemerintah Amerika Serikat agar Piala Dunia tidak hanya menjadi pesta eksklusif bagi negara-negara yang direstui oleh kebijakan imigrasi AS saja.
(fab/fab) Add
source on Google