Sering Dikira GERD, Gejala Ini Bisa Jadi Tanda Awal Kanker Ovarium

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Selasa, 19/05/2026 13:10 WIB
Foto: Ilustrasi (Kindel Media via Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kanker ovarium kerap dijuluki sebagai "silent killer" atau pembunuh diam-diam. Bukan karena penyakit ini tidak memiliki gejala, melainkan karena tanda-tandanya sering dianggap sepele oleh banyak wanita.

Perut kembung setelah makan, nyeri punggung bawah, tubuh mudah lelah, hingga cepat merasa kenyang sering kali dianggap hanya gangguan pencernaan biasa atau GERD, perubahan hormon, atau efek kelelahan sehari-hari. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi tanda awal kanker ovarium.

Indian Council of Medical Research (ICMR) mencatat, kanker ovarium menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak menyerang wanita di India. Diagnosis yang terlambat masih menjadi tantangan terbesar dalam penanganannya.

Dokter spesialis onkologi ginekologi dari Max Cancer Care Saket India, Kanika Batra Modi mengatakan, banyak wanita cenderung mengabaikan gejala yang muncul hampir setiap hari selama beberapa minggu.

"Gejala seperti perut kembung terus-menerus, nyeri punggung bawah, atau cepat kenyang setelah makan sedikit sering dianggap masalah pencernaan atau menstruasi biasa. Namun jika gejala itu baru muncul, terasa tidak biasa, dan terjadi hampir setiap hari selama beberapa minggu, jangan diabaikan," ujar Modi dikutip dari Times of India, Selasa (19/5/2026).

Kanker ovarium memang sulit dikenali sejak awal karena gejalanya mirip dengan masalah kesehatan umum lainnya. Banyak penderita baru memeriksakan diri saat kanker sudah memasuki stadium lanjut.

Beberapa gejala yang disebut perlu mendapat perhatian antara lain:
- Perut kembung terus-menerus
- Nyeri pada panggul atau perut
- Cepat kenyang saat makan
- Sering buang air kecil
- Nyeri punggung bawah berkepanjangan
- Kelelahan yang tidak membaik meski sudah istirahat
- Perubahan pola buang air besar seperti sembelit
- Berat badan berubah tanpa sebab jelas




Dokter menyebut yang perlu diperhatikan bukan hanya jenis gejalanya, tetapi juga durasi dan frekuensinya. Jika keluhan muncul hampir setiap hari selama dua hingga tiga minggu, pemeriksaan medis menjadi penting.

Salah satu alasan kanker ovarium sering terlambat terdeteksi adalah karena banyak wanita menganggap gejalanya sebagai keluhan normal. Ada yang merasa celana tiba-tiba lebih sempit meski berat badan tidak naik.

Ada juga yang mulai sulit menghabiskan makanan karena cepat merasa penuh. Sebagian lainnya terus mengonsumsi obat pereda nyeri untuk sakit punggung karena mengira penyebabnya hanya postur tubuh.

"Kesadaran terhadap perubahan tubuh dan memeriksakan diri lebih awal bisa berperan penting dalam deteksi dini kanker ovarium," kata Modi.

Bisakah Dicegah?

Hingga saat ini belum ada cara yang benar-benar dapat mencegah kanker ovarium sepenuhnya. Namun, penelitian menunjukkan beberapa faktor dapat membantu menurunkan risiko.

Modi mengatakan, penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang, menyusui, dan riwayat melahirkan dikaitkan dengan risiko kanker ovarium yang lebih rendah. Selain itu, faktor keturunan juga berpengaruh.

Wanita dengan mutasi gen BRCA1 atau BRCA2 memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker ovarium maupun kanker payudara. Dokter menyarankan wanita untuk rutin berkonsultasi dan tidak mengabaikan perubahan tubuh yang terasa tidak biasa.

"Kesadaran bukan berarti panik. Kesadaran berarti mulai memperhatikan tubuh sendiri," tulis laporan tersebut.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Barcelona Jadi Juara Liga Spanyol Usai "Bantai" Real Madrid 2-0