Tempat Pembuangan Sampah Diduga Jadi Sumber Wabah Hantavirus

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
13 May 2026 12:25
Dalam ilustrasi ini, yang diambil pada 7 Mei 2026, terlihat sebuah tabung reaksi berlabel "Hantavirus positif". (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration)
Foto: "Hantavirus positif". (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tempat pembuangan sampah di Ushuaia, Argentina, menjadi pusat penyelidikan karena diduga menjadi sumber wabah hantavirus. Meski begitu, otoritas setempat menolak teori tersebut, dengan mengatakan bahwa Ushuaia tidak pernah mencatat kasus hantavirus.

Pejabat kesehatan nasional meyakini bahwa di sanalah pasangan Belanda, yang diduga pertama kali menularkan virus, terpapar hantavirus saat melakukan perjalanan untuk mengamati burung. Sementara itu, pemerintah lokal mengatakan bahwa mereka pertama kali mengetahui kecurigaan mengenai penyebab infeksi melalui laporan media.

"Saya yakin kita sedang menghadapi fitnah," kata Juan Facundo Petrina, direktur epidemiologi Ushuaia, kepada wartawan dalam konferensi pers, seperti dikutip dari Euronews, Rabu (13/5/2026). 

Facundo Petrina juga menambahkan bahwa wilayah tersebut, yang terletak di titik paling selatan Amerika Selatan, belum pernah mencatat kasus hantavirus, tidak seperti provinsi-provinsi Argentina di utara. Petrina berita tersebut dapat berdampak negatif pada pariwisata di wilayahnya.

Ushuaia menarik wisatawan karena keanekaragaman burung di wilayah tersebut, tetapi kondisi yang sama juga menjadikannya lingkungan yang disukai hewan pengerat, yang berpotensi membawa hantavirus.

Penularan hantavirus terjadi melalui kontak dengan kotoran, air liur, atau urin dari dua jenis hewan pengerat tertentu, yaitu tikus padi kerdil berekor panjang.

Yang membuat kasus ini sangat rumit adalah varian yang diidentifikasi: strain Andes adalah satu-satunya strain virus yang diketahui mampu menyebar dari manusia ke manusia. Ini menjelaskan mengapa, setelah berada di atas kapal pesiar MV Hondius, infeksi menyebar dengan cepat ke penumpang lain.

Kedua turis Belanda tiba di Argentina pada 27 November 2025 dan menghabiskan beberapa bulan berkeliling negara itu dengan mobil. Mereka mengunjungi Chili dan Uruguay sebelum kembali ke Argentina pada akhir Maret. Pada 1 April mereka naik kapal di Ushuaia.

Tak lama kemudian pria berusia 70 tahun itu menunjukkan gejala. Ia meninggal pada 11 April. Istrinya, yang berusia 69 tahun, meninggal di Afrika Selatan saat mencoba kembali ke Eropa.

(hsy/hsy) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Wamenkes Beberkan Hantavirus di RI Beda dengan Kasus di Kapal Pesiar


Most Popular
Features