Wamenkes Beberkan Hantavirus di RI Beda dengan Kasus di Kapal Pesiar

Fergi Nadira,  CNBC Indonesia
12 May 2026 11:50
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono menyampaikan closing remarks dalam acara Health Summit di 25hours Hotel The Oddbird, Jakarta, Rabu (13/8/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan closing remarks dalam acara Health Summit di 25hours Hotel The Oddbird, Jakarta, Rabu (13/8/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan penularan hantavirus dari manusia ke manusia hingga kini masih diteliti. Pemerintah Indonesia pun masih memantau perkembangan kasus hantavirus yang ramai dibicarakan usai muncul laporan kematian di kapal pesiar luar negeri.

"Kematian tiga yang ada di kapal pesiar itu masih diselidiki apakah hantavirus ini ada penularan dari manusia ke manusia," kata Dante kepada media di Bandung, Selasa (12/5/2026).

Dante menjelaskan, hantavirus memiliki dua jenis utama. Pertama adalah Hantavirus Fever Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal, ditandai gejala panas tinggi, kuning, hingga gangguan ginjal. Tingkat kematiannya sekitar 15%.

Sementara jenis kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru. Jenis ini disebut lebih berbahaya dengan tingkat kematian mencapai 60% hingga 80%.

"Hanta Pulmonary Syndrome yang kena ke paru-paru angka kematiannya 60 hingga 80 persen," ujarnya.

Dante mengatakan, Indonesia sejauh ini menemukan 23 kasus hantavirus sejak 2023. Namun seluruh kasus yang ditemukan merupakan tipe HFRS yang relatif ringan.

"Indonesia sudah ketemu 23 kasus dari tahun 2023. Tapi semuanya adalah Hanta Fever Renal Syndrome yang ringan," kata ia.

Ia menambahkan, hantavirus memiliki reservoir berupa tikus, terutama di lingkungan kotor dan area pascabanjir yang banyak terkontaminasi urine tikus. Oleh sebab itu, hantavirus disebut mirip dengan leptospirosis dalam pola penyebarannya.

"Hanta virus itu ada reservoirnya. Reservoirnya atau perantaranya itu adalah tikus," ujar Dante.

Meski demikian, Dante meminta masyarakat tidak panik. Sebab hingga kini hantavirus yang ditemukan di Indonesia masih tergolong ringan.

"Nggak berbahaya. Angka fatality rate-nya cuma 15%," katanya.

Kemenkes kini juga mulai melakukan pemeriksaan hantavirus pada pasien leptospirosis untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit tersebut.

(miq/miq) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukan Penyakit Baru, Hantavirus Sudah Ada di RI Sejak 1991


Most Popular
Features