Ada 40 Spesies Hantavirus di Dunia, Ini Varian yang Muncul di RI

Tim Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 13/05/2026 16:30 WIB
Foto: REUTERS/Hannah McKay

Jakarta, CNBC Indonesia - Penyakit hantavirus kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan tiga kematian penumpang dan sejumlah kasus positif di kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi virus langka tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan potensi bertambahnya kasus, terutama jika pengendalian kesehatan masyarakat tidak dilakukan secara ketat.

Hantavirus adalah kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat, seperti tikus dan kelelawar. Secara global, ada lebih dari 40 spesies hantavirus yang dapat menyebabkan penyakit parah pada manusia. 

Virus ini secara umum dikategorikan menjadi virus "Dunia Lama" (Eropa, Asia, Afrika) yang menyebabkan Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS), dan virus "Dunia Baru" (Amerika) yang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).


Ada Penumpang MV Hondius Tinggal di Indonesia

Kementerian Kesehatan mengungkap ada satu penumpang kapal pesiar MV Hondius, di mana hantavirus pertama kali menyebar, yang berdomisili di Indonesia.

Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes dr. Andi Saguni mengatakan, kewaspadaan dilakukan setelah Indonesia menerima notifikasi dari International Health Regulation National Focal Point (IHR NFP) Inggris terkait satu warga negara asing (WNA) berinisial KE yang berdomisili di Jakarta. WNA tersebut merupakan kontak erat kasus positif hantavirus di kapal pesiar MV Hondius.



"Pada tanggal 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB, IHR NFP Inggris menotifikasi ke Indonesia terkait satu orang kontak erat yang berdomisili di Indonesia," kata Andi dalam konferensi pers secara daring pada Senin (11/5/2026).

Ia menjelaskan, WNA laki-laki berusia 60 tahun itu sempat berada satu hotel dan satu penerbangan dengan pasien perempuan berusia 69 tahun yang kemudian meninggal akibat hantavirus. Kontak erat tersebut diketahui turun dari kapal di Saint Helena dan melanjutkan perjalanan ke Johannesburg, Afrika Selatan sebelum kembali ke Indonesia.

Kemenkes, kata Andi, langsung melakukan penyelidikan epidemiologi sehari setelah notifikasi diterima. Hasilnya, WNA tersebut tidak menunjukkan gejala virus hanta. Pemeriksaan PCR dari lima spesimen, yakni serum, urin, saliva, usap tenggorok, dan darah lengkap juga menunjukkan hasil negatif.

Kasus Hantavirus di Indonesia

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus hantavirus yang terkonfirmasi sejak 2024 hingga 2026 minggu ke-16. Dari 23 kasus tersebut, sekurangnya 20 pasien sembuh dan 3 orang meninggal dunia.

Secara total terdeteksi 251 kasus suspek pada periode tersebut, 225 negatif, dan 3 tidak dapat diperiksa. Kasus hantavirus yang paling banyak tercatat adalah pada 2025 sebanyak 17 kasus, kemudian 2026 (hingga minggu ke-16) sebanyak 5 kasus, dan 2024 sebanyak 1 kasus.

Kasus hantavirus di Indonesia tersebar di Jakarta (6), Yogyakarta (6), Jawa Barat (5), Jawa Timur (1), Banten (1), Sumatra Barat (1), NTT (1), Sulawesi Utara (1), Kalimantan Barat (1), dan Jawa Timur (1).

Di Indonesia, 23 kasus hantavirus yang terdeteksi memiliki tipe Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS). Gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, lemas, dan tubuh menguning. 


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Barcelona Jadi Juara Liga Spanyol Usai "Bantai" Real Madrid 2-0