Liburan ke Jepang Makin Mahal, Pajak Turis Naik Mulai Juli 2026

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
13 April 2026 10:50
Seorang wanita berbaju kimono mengambil foto selfie di parit Chidorigafuchi, saat pengunjung menikmati bunga sakura yang mekar sepenuhnya, selama musim semi di Tokyo, Jepang 26 Maret 2018. REUTERS / Issei Kato
Foto: REUTERS/Issei Kato

Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang merupakan salah satu destinasi wisatawan favorit bagi warga Indonesia. Selain karena budaya dan kulinernya, Jepang bisa dikunjungi tanpa visa bagi warga negara Indonesia pemegang paspor elektronik. 

Sayangnya, Jepang mengalami overtourism akibat jumlah wisatawan yang semakin membludak. Kondisi ini memaksa pemerintah setempat untuk menaikkan pajak bagi turis. 

Jepang akan melipatgandakan pajak bagi turis asing dari 1.000 yen, atau sekitar Rp100 ribu per orang - menjadi 3.000 yen, atau sekitar Rp300 ribu per orang - mulai 1 Juli.

Hokuto Asano dari Kedutaan Besar Jepang di Washington, D.C., dalam wawancara dengan Fox News, bahwa perubahan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengatur pariwisata.

"Jepang menargetkan 60 juta pengunjung asing dan pengeluaran pariwisata mancanegara sebesar 15 triliun yen pada tahun 2030 - sambil menyeimbangkan perluasan pariwisata dengan kualitas hidup penduduk dan mempromosikan destinasi regional," kata Asano.

Meski begitu, salah satu agenda wisata paling ikonik di Jepang, Festival Bunga Sakura Taman Arakurayama Sengen, resmi dibatalkan tahun ini. Pemerintah kota di Prefektur Yamanashi mengumumkan kebijakan tersebut diambil dengan alasan utama kekhawatiran atas overtourism dan turis yang berperilaku buruk.

Festival yang telah diselenggarakan selama sekitar satu dekade ini biasanya dikunjungi sekitar 200.000 turis. Mereka datang untuk memotret Gunung Fuji yang dibingkai oleh bunga sakura mekar dan pagoda lima lantai.

Saat ini, hampir 10.000 orang melewati daerah tersebut setiap hari selama puncak musim bunga sakura, volume yang menurut warga lokal tidak dapat lagi mereka tangani dengan nyaman.

Sepanjang 2025, jumlah turis asing di Jepang melampaui 40 juta untuk pertama kalinya, sebuah rekor baru di Negeri Sakura.

Namun, ada 'harga' di balik banyaknya turis asing.

Kota Fujiyoshida mengeluhkan perilaku turis yang mengganggu dan memengaruhi kehidupan sehari-hari. Pihak berwenang menyebutkan masalah sanitasi sebagai salah satu masalah paling serius, termasuk kasus pengunjung memasuki rumah pribadi untuk menggunakan toilet, buang air di halaman rumah, dan menimbulkan konfrontasi ketika ditegur, menurut Kyodo News.

Kekhawatiran akan keselamatan juga muncul, terutama dari keluarga yang tinggal di dekat lokasi wisata. Menurut pihak kota, orang tua melaporkan anak-anak mereka tidak aman saat berjalan menuju sekolah karena kerumunan besar berkumpul di sepanjang trotoar yang sempit untuk mencapai tempat-tempat foto populer.

"Saya merasakan krisis yang mendalam saat menyaksikan kenyataan bahwa, di balik pemandangan indah ini, kehidupan tenang warga kita terancam," kata Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Malaysia Luncurkan Kapal Pesiar Mewah untuk Umrah, Ini Fasilitasnya


Most Popular
Features