Jepang Tiba-Tiba Batalkan Festival Bunga Sakura, Ada Apa?

Linda Hasibuan,  CNBC Indonesia
26 March 2026 14:35
A man takes pictures of cherry blossoms in almost full bloom in Tokyo, Japan, March 27, 2019.   REUTERS/Issei Kato
Foto: Seorang memotret bunga sakura yang mekar di Tokyo, Jepang. (REUTERS / Issei Kato)

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu agenda wisata paling ikonik di Jepang, Festival Bunga Sakura Taman Arakurayama Sengen, resmi dibatalkan tahun ini. Pemerintah kota di Prefektur Yamanashi mengumumkan kebijakan tersebut diambil dengan alasan utama kekhawatiran atas overtourism dan turis yang berperilaku buruk.

Festival yang telah diselenggarakan selama sekitar satu dekade ini biasanya dikunjungi sekitar 200.000 turis. Mereka datang untuk memotret Gunung Fuji yang dibingkai oleh bunga sakura mekar dan pagoda lima lantai.

Mengutip Independent, pihak berwenang mengatakan jumlah wisatawan telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh melemahnya yen dan popularitas viral lokasi-lokasi indah di media sosial.

Saat ini, hampir 10.000 orang melewati daerah tersebut setiap hari selama puncak musim bunga sakura, volume yang menurut warga lokal tidak dapat lagi mereka tangani dengan nyaman.

Sepanjang 2025, Jepang menyambut jumlah turis asing yang melampaui 40 juta untuk pertama kalinya, sebuah rekor baru di Negeri Sakura.

Namun, ada 'harga' di balik banyaknya turis asing. 

Kota Fujiyoshida mengeluhkan perilaku turis yang mengganggu dan memengaruhi kehidupan sehari-hari. Pihak berwenang menyebutkan masalah sanitasi sebagai salah satu masalah paling serius, termasuk kasus pengunjung memasuki rumah pribadi untuk menggunakan toilet, buang air di halaman rumah, dan menimbulkan konfrontasi ketika ditegur, menurut Kyodo News.

Kekhawatiran akan keselamatan juga muncul, terutama dari keluarga yang tinggal di dekat lokasi wisata. Menurut pihak kota, orang tua melaporkan anak-anak mereka tidak aman saat berjalan menuju sekolah karena kerumunan besar berkumpul di sepanjang trotoar yang sempit untuk mencapai tempat-tempat foto populer.

"Saya merasakan krisis yang mendalam saat menyaksikan kenyataan bahwa, di balik pemandangan indah ini, kehidupan tenang warga kita terancam," kata Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi.

Destinasi populer seperti Kyoto menghadapi tekanan yang sangat besar. Warga setempat mengeluhkan kemacetan lalu lintas yang semakin parah, antrean yang lebih panjang, dan gangguan terhadap kehidupan sehari-hari.

(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 6 Cara Menabung ala Orang Jepang, Bisa Bikin Uang Cepat Terkumpul Lho!


Most Popular
Features