Kemenkes Ungkap Kondisi Terkini Penyakit Campak di Indonesia

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Senin, 30/03/2026 17:25 WIB
Foto: Dok: Ist

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes dr. Andi Saguni mencatat, kasus campak di Indonesia turun tajam. Jumlah kasus campak nasional turun hingga sekitar 93% jika dibandingkan puncak awal tahun.

Meski begitu, Andi menegaskan situasi belum sepenuhnya aman dan tetap perlu diwaspadai. Ia mendata, lonjakan kasus terjadi pada minggu pertama 2026, sebelum akhirnya berangsur turun hingga minggu ke-12.

"Pada minggu ke-12, suspek campak 212 dan kasus campak tercatat 146. Ini turun jauh dibanding minggu pertama yang mencapai 2.220 kasus," ujarnya dalam konferensi pers daring, Senin (30/3/2026).


Meski tren menunjukkan penurunan, Kemenkes menekankan pengawasan tetap diperketat, terutama di wilayah yang sebelumnya mencatat lonjakan. Sejumlah provinsi seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, hingga Jawa Barat sempat mengalami peningkatan kasus di akhir 2025 dan awal 2026.

Hingga minggu ke-12, sebagian besar sudah menunjukkan tren penurunan, bahkan ada yang mencapai nol kasus. Hal serupa juga terjadi di wilayah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Sulawesi dan Kalimantan.

"Surveillance tetap kami lakukan ketat, meskipun angkanya sudah menurun," kata Andi.

Kemenkes juga menyoroti sejumlah daerah dengan kasus tertinggi yang terus dipantau, seperti Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang, Bima, hingga Palembang. Di beberapa wilayah, kasus memang sudah menurun. Namun, ada indikasi fluktuasi kecil yang masih perlu diwaspadai.

Semisal, di Kabupaten Tangerang dan Palembang yang sempat mengalami sedikit kenaikan kembali di minggu terakhir.

"Walaupun terlihat menurun, tetap harus kita waspadai dan pantau terus," ujarnya.

Kemenkes mengingatkan, penurunan kasus bukan berarti ancaman campak sudah hilang. Apalagi penyakit ini sangat mudah menular, terutama di kelompok yang belum mendapat imunisasi.

Pemerintah pun terus mengandalkan sistem surveilans untuk mendeteksi potensi lonjakan lebih dini, sekaligus memastikan respons cepat jika terjadi kasus baru.


(hsy/hsy) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bisnis Klinik Estetika Bersaing Ketat, Teknologi AI Jadi Solusi