Terbongkar! Perusahaan AS Diam-Diam Tambahkan Bahan Kimia ke Makanan
Jakarta, CNBC Indonesia - Investigasi terbaru menemukan setidaknya 111 zat dengan tingkat keamanan yang belum diketahui telah ditambahkan ke makanan, minuman, dan suplemen yang dijual di Amerika Serikat tanpa pemberitahuan kepada Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA).
Melansir CNNÂ Internasional, praktik tersebut dimungkinkan karena adanya celah regulasi yang dikenal sebagai "generally recognized as safe" (GRAS), yang memungkinkan perusahaan menentukan sendiri bahwa suatu bahan aman digunakan tanpa harus melalui peninjauan resmi dari regulator.
"Perusahaan makanan memutuskan sendiri untuk diam-diam menambahkan bahan kimia yang belum ditinjau ke dalam produk, alih-alih mengikuti pedoman federal yang ada untuk memastikan bahan tersebut 'generally recognized as safe' atau diakui secara umum aman," kata Wakil Presiden Urusan Pemerintahan Environmental Working Group (EWG) Melanie Benesh, organisasi advokasi kesehatan dan lingkungan yang melakukan investigasi tersebut, dikutip Sabtu (7/3/2026).
Untuk memenuhi standar GRAS, perusahaan seharusnya dapat menunjukkan bahwa bahan makanan baru aman melalui bukti ilmiah yang diterima secara luas dan tersedia untuk publik. Pemberitahuan kepada FDA mengenai data keamanan tersebut merupakan praktik umum untuk memastikan kepatuhan regulasi. Namun langkah itu bersifat sukarela, sehingga produsen secara hukum dapat menentukan sendiri bahwa produknya aman.
"Produsen kini secara rutin memanfaatkan celah GRAS ini - sehingga semakin menjadi 'generally recognized as secret' (diakui secara umum sebagai rahasia) daripada 'generally recognized as safe'," kata Benesh.
Investigasi EWG menemukan 49 bahan kimia yang digunakan industri dalam sekitar 4.000 produk yang tercantum dalam basis data FoodData Central milik Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), yang menyediakan informasi publik mengenai nutrisi dan bahan makanan.
"Karena pemerintah belum pernah meninjau bahan kimia ini, konsumen tidak memiliki cara untuk mengetahui apakah bahan tersebut aman atau memiliki risiko kesehatan yang belum diketahui," ujarnya.
Direktur Riset Institut Nasional Kesehatan dan Penelitian Medis Prancis di Paris, Mathilde Touvier, mengatakan celah GRAS memang legal di Amerika Serikat, tetapi sulit dibenarkan dari sudut pandang ilmiah maupun etika.
"Ini sangat bermasalah karena perusahaan diizinkan menentukan sendiri bahwa bahan yang mereka gunakan termasuk GRAS, mengingat adanya konflik kepentingan finansial yang jelas," kata Touvier yang tidak terlibat dalam investigasi EWG.
"Keputusan mengenai keamanan bahan kimia makanan seharusnya didasarkan pada penilaian independen oleh otoritas kesehatan masyarakat."
American Beverage Association dan Consumer Brands Association yang mewakili produsen makanan dan minuman tidak memberi respons mengenai hal ini ketika diminta tanggapan.
Sementara itu, Senior Vice President Consumer Brands Association Sarah Gallo mengatakan organisasinya mendukung reformasi GRAS melalui undang-undang federal yang menetapkan standar nasional terkait keamanan dan transparansi bahan makanan.
"Kami mendukung reformasi GRAS menjadi bagian dari rancangan undang-undang tersebut," kata Gallo, seraya menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki salah satu sistem pangan paling aman dan paling diatur di dunia.
Ekstrak bahan alami
Dari 49 bahan kimia yang ditemukan dalam makanan, sebanyak 22 di antaranya merupakan ekstrak bahan alami seperti lidah buaya, kayu manis, kakao, minyak biji cranberry, kulit anggur, biji kopi hijau, hemp, lemon balm, dan jamur.
Ahli biokimia sekaligus penulis laporan investigasi EWG Maricel Maffini mengatakan ekstraksi bahan alami dapat menghasilkan senyawa baru yang sangat terkonsentrasi.
"Ketika Anda mulai mengambil zat dari kulit anggur, lidah buaya, atau jamur, misalnya, Anda bisa mendapatkan ekstrak atau campuran zat yang sangat terkonsentrasi," kata Maffini.
Menurutnya, ekstrak tersebut seharusnya diuji terlebih dahulu jika akan digunakan dalam produk yang dijual ke publik.
Laporan tersebut juga menemukan ekstrak teh hijau yang belum pernah ditinjau FDA digunakan dalam 901 produk, termasuk granola, energy bar, permen, es krim, minuman ringan, teh, air minum, hingga produk makanan laut.
Maffini menjelaskan terdapat perbedaan besar antara antioksidan dari teh hijau yang diseduh di rumah dengan ekstrak antioksidan teh hijau yang diproses di laboratorium.
"Itu bukan lagi teh hijau. Itu adalah zat baru yang diekstraksi secara sintetis untuk meningkatkan ketersediaannya sebagai antioksidan," ujarnya.
Ia menambahkan, ekstrak teh hijau dengan konsentrasi tinggi diketahui berkaitan dengan gangguan hormon estrogen serta kerusakan hati. Setidaknya terdapat sekitar 100 kasus kerusakan hati serius pada orang yang mengonsumsi ekstrak teh hijau konsentrat yang dijual untuk penurunan berat badan atau pemulihan otot.
Kasus lidah buaya dan jamur
Investigasi tersebut juga menemukan ekstrak lidah buaya yang tidak melalui peninjauan FDA digunakan dalam lebih dari 450 produk, terutama minuman jus buah dan sayur.
Padahal, ekstrak lidah buaya dari daun utuh yang tidak dimurnikan diketahui dapat menyebabkan kanker. FDA bahkan pernah melarang penggunaan salah satu bentuk lidah buaya dalam obat pencahar karena kekhawatiran terkait risiko kanker pada hewan dan gagal ginjal pada manusia.
Perpustakaan Nasional Kedokteran AS menyatakan bahwa produk herbal sering dianggap aman karena alami, padahal tidak selalu demikian. Beberapa herbal bahkan dapat berinteraksi dengan obat resep maupun obat bebas.
Touvier mengatakan dampak kesehatan suatu zat sangat bergantung pada bentuk, dosis, serta interaksinya dengan kondisi kesehatan lain.
Ia mencontohkan beta-karoten yang aman dalam jumlah alami dari buah dan sayuran, tetapi konsumsi dalam dosis tinggi justru dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru, terutama pada perokok.
Selain itu, ekstrak jamur yang tidak pernah dilaporkan ke FDA juga ditemukan dalam 428 produk, termasuk kopi, jus buah dan sayur, sup, serta susu.
Meskipun jamur dikenal memiliki nilai gizi tinggi, beberapa jenis jamur dapat memicu reaksi alergi, gangguan pencernaan, hingga berinteraksi negatif dengan obat tertentu seperti pengencer darah.
Pada 2024, FDA bahkan meminta produsen menghentikan penggunaan jamur Amanita muscaria dalam produk makanan setelah muncul laporan efek samping serius. Spesies jamur tersebut sebelumnya telah dimasukkan dalam daftar agen beracun yang dapat menyebabkan keracunan jika tertelan.
Risiko bagi konsumen
Ketiadaan pengawasan terhadap bahan GRAS sebelumnya juga pernah menimbulkan dampak kesehatan bagi konsumen.
Pada 2022, sebuah produk pengganti daging berbasis sayuran ditarik secara sukarela setelah produsen menerima 470 keluhan terkait gangguan pencernaan, hati, saluran empedu, dan kantong empedu.
Penyebabnya diduga berasal dari tepung tara yang dibuat dari biji pohon Peruvian carob. Bahan lain dari pohon tersebut, yaitu tara gum, telah lama digunakan secara aman sebagai pengental makanan. Namun tepung tara diproses secara berbeda dan belum pernah dikaji secara memadai sebagai bahan makanan bagi manusia di Amerika Serikat.
Setelah penyelidikan FDA, diperlukan waktu dua tahun bagi badan tersebut untuk menghapus tepung tara dari daftar GRAS.
Profesor kedokteran Harvard Medical School Pieter Cohen mengatakan kasus tersebut menunjukkan kelemahan sistem regulasi makanan di Amerika Serikat.
"Tepung tara masuk ke pasokan makanan, dan hanya karena terjadi wabah cedera hati barulah FDA meninjau apakah bahan itu aman," kata Cohen.
Masalah lama
Masalah terkait celah GRAS sebenarnya telah lama menjadi sorotan.
Laporan Natural Resources Defense Council pada 2014 menemukan 56 perusahaan menggunakan penilaian GRAS yang tidak diungkapkan untuk 275 bahan kimia.
Sementara analisis Environmental Working Group pada 2022 menunjukkan hampir 99% bahan kimia baru yang digunakan dalam makanan atau kemasan makanan sejak tahun 2000 disetujui bukan oleh FDA, melainkan oleh industri makanan dan kimia itu sendiri.
Dalam periode tersebut, produsen makanan hanya meminta izin FDA untuk memperkenalkan bahan baru sebanyak 10 kali.
Pemerintah Amerika Serikat kini menyatakan ingin menutup celah GRAS tersebut.
"Selama terlalu lama celah GRAS memungkinkan bahan masuk ke rantai pasok makanan tanpa transparansi yang memadai atau pengawasan FDA," kata Deputi Asisten Menteri Hubungan Media Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Andrew Nixon.
Namun para ahli menilai perbaikan sistem tersebut akan memakan waktu lama.
"Jika reformasi besar tidak dilakukan, banyak bahan yang disebut GRAS namun belum pernah diuji keamanannya akan tetap berada dalam makanan yang dikonsumsi masyarakat Amerika," kata Cohen.
source on Google [Gambas:Video CNBC]