Penyebab Berat Badan Naik Saat Ramadan, Banyak Orang Tak Sadar
Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan jam makan dan aktivitas selama Ramadan kerap membuat pola tidur ikut bergeser. Tak heran banyak orang yang merasa kurang tidur selama bulan suci. Kondisi ini tidak hanya bisa memicu mood swing, tapi juga kenaikan berat badan.Â
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Lailatul Muniroh mengingatkan, perubahan pola tidur saat puasa tidak boleh dianggap sepele. Ia menjelaskan, perubahan jam tidur biasanya dipicu kebiasaan begadang yang berlanjut hingga sahur. Kondisi ini diperparah dengan perubahan hormon selama puasa.
"Selama puasa terjadi perubahan hormon kortisol dan melatonin yang memengaruhi kualitas tidur. Jika ditambah begadang sampai sahur, durasi tidur bisa berkurang dan kualitasnya terganggu," ujarnya dikutip dari laman resmi Universitas Airlangga, Senin (2/3/2026).
Dampak ke Konsentrasi hingga Berat Badan
Pola tidur yang berantakan, terutama begadang hingga dini hari, berisiko memicu kantuk berlebihan di siang hari, sulit fokus, perubahan suasana hati, hingga sakit kepala. Dalam jangka menengah, gangguan ini dapat memengaruhi metabolisme tubuh.
Lailatul menyebut peningkatan hormon stres serta pola makan yang tak terkontrol saat berbuka dapat memicu kenaikan berat badan. Selain itu, regulasi gula darah dan keseimbangan hormon lapar juga bisa terganggu.
Tak hanya kurang tidur, kelebihan tidur seperti tidur siang terlalu lama juga dapat menimbulkan masalah. Dampaknya antara lain pusing saat bangun dan kesulitan tidur di malam hari.
"Metabolisme tubuh pun bisa melambat, terutama jika aktivitas fisik minim, sehingga tubuh terasa lemas," kata ia.
Cara Menjaga Pola Tidur Tetap Sehat
Untuk mencegah gangguan tidur selama Ramadan, ia menyarankan agar waktu tidur dimajukan dan kebiasaan bermain ponsel sebelum tidur dikurangi. Begadang sebaiknya dihindari kecuali ada keperluan mendesak.
Tidur siang singkat selama 20-30 menit dinilai cukup untuk memulihkan energi tanpa mengganggu tidur malam. Selain itu, konsumsi kafein saat berbuka perlu dibatasi, aktivitas fisik ringan bisa dilakukan di pagi hari, dan sahur sebaiknya mengandung gizi seimbang.
Menurutnya, Ramadan bukan hanya momen menahan lapar dan haus, tetapi juga waktu yang tepat untuk menata kembali ritme hidup. Pola tidur yang teratur menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan agar ibadah tetap optimal.
"Ramadan adalah momen belajar pengendalian diri, sekaligus melatih kedisiplinan hidup. Tidur yang teratur bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi bagian dari menjaga tubuh. Jadikan Ramadan sebagai bulan menata ritme hidup agar lebih seimbang, sehat, dan berkualitas. Karena ibadah yang optimal lahir dari tubuh yang sehat," ujarnya.
source on Google [Gambas:Video CNBC]