BPOM Kantongi WLA, Banyak Negara Mau Belajar ke RI
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sebagai WHO Listed Authority (WLA) dalam regulasi produk medis (vaksin) beberapa waktu lalu. Pengakuan ini menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator terkemuka yaitu negara-negara maju di dunia, seperti Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia.
Atas pencapaian itu, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM William Adi Teja menyebut beberapa negara menaruh minat untuk belajar ke Indonesia.
"Sudah banyak negara yang datang ke BPPOM, misalnya negara di Timur Tengah, di Asia yang ingin belajar bagaimana supaya bisa masuk WHO Listed Authority," ungkap dia dalam Health Forum CNBC Indonesia, Jumat (27/2/2026).
"Mereka ingin belajar baik itu Jepang, Singapura, Pakistan, negara Afrika, bagaimana masuk ke dalam WLA sebagaimana efisien negara untuk masuk atau diakui WHO, " lanjut William.
Dia memaparkan bahwa melalui status ini, BPOM tidak hanya sebagai regulator, tetapi mampu berkontribusi terhadap perekonomian nasional yang ditargetkan tumbuh 8%.
"Di Indonesia pertumbuhan ekonomi sektor farmasi tahun lalu itu 10%. Artinya 10% bisa membaut pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa mendorong," jelas dia.
William juga berharap dengan adanya WLA, produsen atau industri farmasi lokal bisa menjangkau pasar global.
Sebagai informasi status WLA menempatkan Indonesia menjadi otoritas regulatori pertama dari negara berkembang pertama di dunia yang sistem regulasinya diakui memenuhi standar global tertinggi. Negara yang memperoleh status WLA mendapatkan pengakuan internasional, sehingga produk farmasi dan vaksinnya dapat dimasukkan ke dalam daftar produk yang direkomendasikan oleh WHO.
Pencapaian status WLA akan memberikan dampak strategis bagi Indonesia, antara lain meningkatkan produksi dalam negeri sehingga mendukung kemandirian obat dan vaksin, mendorong ekspor produk, yang keduanya berkontribusi pada penguatan perekonomian Indonesia, mendukung rantai pasok yang lebih tangguh, khususnya dalam situasi darurat kesehatan, dan meningkatkan reputasi internasional Indonesia di kancah diplomasi kesehatan global. Selain itu, pencapaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi negara berpendapatan rendah dan menengah lainnya untuk memperkuat sistem regulasi nasional menuju standar global.
(rah/rah) Add
source on Google