Studi Ungkap Faktor yang Bikin Susah Kaya, Banyak Orang Tak Sadar
Jakarta, CNBC Indonesia - Studi terbaru menunjukkan mahalnya harga rumah di wilayah dengan fasilitas publik yang berkualitas merupakan penghambat utama bagi banyak keluarga untuk membangun kekayaan jangka panjang.
Analisis terbaru dari analis Goldman Sachs membandingkan tingkat kepemilikan rumah di tingkat county (setara kabupaten) dengan kualitas sekolah publik. Kualitas sekolah diukur dari selisih nilai rata-rata tes lokal dibandingkan rata-rata nasional.
Hasilnya jelas, kualitas sekolah lokal sejalan dengan harga rumah di wilayah tersebut. Semakin tinggi kualitas sekolah, semakin mahal pula harga properti di sekitarnya.
"Bagi banyak rumah tangga, mahalnya rumah milik sendiri bukan sekadar masalah biaya hidup," tulis para analis dikutip dari USA Today, Kamis (5/2/2026). "Ini juga berarti hambatan yang lebih besar untuk membangun kekayaan, akses yang lebih terbatas ke layanan pendidikan, peluang kerja di kota-kota besar yang berkembang, serta mobilitas sosial jangka panjang," tulis mereka melanjutkan.
Temuan ini memperkuat riset sebelumnya yang menunjukkan kesenjangan kekayaan yang tajam antara pemilik rumah dan penyewa. Studi pada 2024 menemukan, pemilik rumah memiliki kekayaan hingga 40 kali lebih besar dibanding penyewa.
Sementara itu, hanya sekitar 39% penyewa yang memiliki arus kas positif setiap bulan. Tekanan biaya sewa juga makin berat.
Lebih dari seperempat penyewa di AS menghabiskan lebih dari separuh pendapatannya hanya untuk biaya sewa dan utilitas per 2023. Kondisi ini membuat banyak keluarga kesulitan menabung untuk uang muka rumah, sehingga terjebak dalam siklus menyewa tanpa peluang naik kelas secara finansial.
Ketimpangan kepemilikan rumah juga terlihat jelas secara rasial. Sekitar 75% warga kulit putih di AS memiliki rumah, sementara tingkat kepemilikan rumah di kalangan warga kulit hitam hanya 46%.
Selain itu, pengajuan kredit pemilikan rumah dari peminjam kulit hitam ditolak lebih dari dua kali lipat dibanding peminjam kulit putih.
Meski tidak semua orang harus menjadi pemilik rumah, data selama puluhan tahun menunjukkan hubungan kuat antara kepemilikan rumah dan akumulasi kekayaan rumah tangga. Ketimpangan di pasar perumahan dinilai berperan besar dalam mempertahankan ketertinggalan ekonomi kelompok tertentu.
Para analis Goldman Sachs menyimpulkan masalah utama berada pada regulasi lokal yang membatasi pasokan rumah di kawasan-kawasan paling diminati.
"Dalam jangka pendek, pemberian subsidi untuk mendorong pembangunan rumah terjangkau serta kebijakan yang menurunkan biaya pembiayaan bagi pembeli rumah pertama, khususnya rumah tangga berpendapatan rendah, bisa menjadi opsi kebijakan yang realistis," tulis mereka.
(hsy/hsy)[Gambas:Video CNBC]