Merasa Tak Dianggap, Gen Z Paling Tidak Bahagia di Dunia Kerja
Jakarta, CNBC Indonesia - Di saat pekerja Indonesia dinobatkan sebagai yang paling bahagia di Asia Pasifik, ada satu kelompok yang justru tertinggal, yaitu Gen Z. Laporan Workplace Happiness Index 2025-2026 dari Jobstreet by SEEK menunjukkan, Gen Z menjadi generasi dengan tingkat kebahagiaan kerja terendah, hanya 76%, tertinggal dari Gen X (85%) dan milenial (84%).
Padahal, generasi ini kini mulai mendominasi angkatan kerja nasional. Menurut Acting Managing Director Indonesia Jobstreet by SEEK, Wisnu Dharmawan, masalah utama Gen Z bukan sekadar soal gaji atau jam kerja, melainkan perasaan tidak dihargai dan tidak terhubung dengan makna pekerjaan.
"Gen Z sering merasa mereka hanya mengerjakan tugas sehari-hari, tapi tidak tahu dampaknya ke tujuan besar perusahaan," ujar Wisnu dalam pemaparan riset di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Dalam riset tersebut, Gen Z tercatat paling tidak puas terhadap dua pendorong utama kebahagiaan kerja di Indonesia, seperti work-life balance dan purpose at work. Mereka juga menjadi generasi yang paling jarang merasa kontribusinya diakui oleh pimpinan.
Berbeda dengan stereotip yang sering dilekatkan, Wisnu menegaskan, Gen Z bukan generasi yang anti-kerja keras. Yang mereka cari adalah fleksibilitas dan kejelasan.
"Work-life balance itu sering disalahartikan sebagai kerja lebih sedikit. Padahal bukan itu. Intinya fleksibilitas dan integrasi antara kerja dan kehidupan," jelasnya.
Fleksibilitas jam kerja, opsi kerja hybrid atau work from home, hingga kebebasan mengatur ritme kerja dinilai jauh lebih relevan bagi Gen Z dibanding sekadar status pekerjaan tetap atau freelance.
"Pekerjaan full-time pun bisa memberikan work-life balance kalau desain kerjanya tepat," imbuhnya.
Masuknya Gen Z ke dunia kerja juga bertepatan dengan situasi pasar tenaga kerja yang penuh tekanan. Data Jobstreet by SEEK mencatat, 43% pekerja Indonesia mengalami burnout, dan Gen Z termasuk kelompok paling rentan.
Selain beban kerja, ketidakpastian masa depan pekerjaan turut membebani. Sebanyak 42% pekerja Indonesia khawatir AI mengancam pekerjaan mereka yang membuat kecemasan yang kuat dirasakan generasi muda yang masih berada di fase awal karier.
"Ketika pilihan kerja terasa terbatas dan masa depan terlihat tidak pasti, wajar kalau Gen Z jadi lebih cemas," kata Wisnu.
Ia bilang, di negara dengan jumlah kandidat jauh lebih besar dibandingkan lapangan kerja, seperti Indonesia, banyak pekerja muda akhirnya memilih bertahan meski tidak sepenuhnya bahagia.
Kunci Bahagia Gen Z: Apresiasi dan Makna Kerja
Riset ini menunjukkan, karyawan yang bahagia jauh lebih siap bekerja ekstra. Sebanyak 90% pekerja yang bahagia termotivasi untuk 'go above and beyond', sementara pada kelompok yang kurang bahagia angkanya turun drastis. Karena itu, Wisnu menilai perusahaan perlu mengubah pendekatan terhadap Gen Z.
"Bukan dengan mem-push lebih keras, tapi dengan memberi konteks, apresiasi, dan ruang untuk berkembang," ujarnya.
Ia menekankan pentingnya pemimpin untuk lebih sering mengaitkan tugas harian dengan tujuan perusahaan, sekaligus memberi pengakuan atas progres kecil yang dicapai pekerja muda. "Kalau Gen Z merasa dihargai dan pekerjaannya bermakna, mereka justru bisa kasih lebih," kata Wisnu.
[Gambas:Video CNBC]