CNBC Insight

Dunia Ikuti Sistem Kesehatan Indonesia, Semua Berubah Total

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Sabtu, 24/01/2026 16:15 WIB
Foto: Logo World Health Organization (WHO) (AP Photo/Anja Niedringhaus)
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sistem kesehatan Indonesia, khususnya terkait pemberantasan penyakit, ternyata pernah menjadi acuan bagi dunia. Ini terjadi pada dekade 1950-an saat dunia memberantas penyakit menular bernama frambusia.

Menurut WHO, Frambusia (yaws) merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan bakteri Treponema. Penyakit ini tidak mematikan, tetapi dampaknya sangat serius. Penderitanya bisa mengalami luka terbuka, kerusakan jaringan, hingga cacat permanen yang membatasi kemampuan bekerja dan beraktivitas.


Sebagai negara tropis, Indonesia menjadi "lahan subur" bagi frambusia. Kondisi lingkungan yang belum sehat, seperti permukiman padat, sanitasi buruk, dan kebersihan masyarakat yang rendah, membuat penyakit ini menyebar luas, terutama di pedesaan.

Tak heran, frambusia kemudian masuk dalam daftar penyakit prioritas yang harus diberantas. Sejak masa kolonial, pengobatan sebenarnya sudah dilakukan. Umumnya dengan pemberian penisilin. Namun upaya ini bersifat tambal sulam. Penyakit memang sembuh, tetapi kerap muncul kembali karena akar persoalan, yakni lingkungan dan pola hidup yang tak disentuh.

Titik balik terjadi pada awal 1950-an, berkat seorang dokter Indonesia bernama Raden Kodijat.

Sejarawan Vivek Neekalantan dalam Memelihara Jiwa Raga Bangsa (2018) menceritakan, Kodijat sejatinya telah merintis pendekatan berbeda sejak 1934. Dia menyadari, frambusia tak bisa diberantas hanya dengan mengobati pasien yang datang berobat. Penyakit ini harus dikejar sampai ke sumbernya.

Metode Kodijat berfokus pada pendeteksian aktif. Seluruh populasi di suatu wilayah diperiksa secara sistematis untuk mencari gejala frambusia. Mereka yang teridentifikasi, baik penderita maupun orang yang melakukan kontak langsung dengan luka frambusia, langsung diobati hingga sembuh.

Pengobatan tidak berhenti di satu kali terapi. Pasien mendapat suntikan rutin setiap minggu, disertai pemeriksaan ulang untuk memastikan infeksi benar-benar hilang dan tidak kambuh. Pendataan dilakukan ketat dan menjadikan metode ini sebagai salah satu strategi epidemiologi paling maju pada masanya.

Pelaksanaan besar-besaran dimulai pada periode 1951-1956. Dalam lima tahun, kampanye pemberantasan frambusia berhasil menjangkau sekitar 85% penduduk Indonesia dan angka penderita turun drastis. 

"Persentasi kejadian frambusia keseluruhan pada akhir periode lima tahun menurun dari 20% pada tahun 1951, menjadi 1% pada tahun 1956 sebagai akibat dari peningkatan deteksi kasus, pengobatan dugaan pasien frambusia, survei ulang untuk menentukan kasus kambuhan," ungkap Vivek.

Prestasi tersebut menarik perhatian dunia internasional. Indonesia kemudian dijadikan model global dalam pengendalian penyakit akibat bakteri Treponema. Pada periode 1950 hingga pertengahan 1960-an, Indonesia berperan penting dalam proyek internasional pengendalian frambusia yang disponsori WHO dan UNICEF.

Program global ini berada di bawah kepemimpinan Raden Kodijat, bersama Soetopo, yang sempat menjabat Menteri Kesehatan pada Januari-September 1950. Pengalaman Kodijat sebagai dokter daerah di Kediri pada 1930-an menjadi fondasi utama kebijakan internasional tersebut.

Tercatat, negara-negara seperti Malaya, Thailand, Haiti, Jamaika, dan Nigeria mengikuti sistem pemberantasan penyakit ala Indonesia. Hasilnya sangat mengejutkan. Jumlah penderita frambusia di sana menurun drastis. Hingga akhirnya, penyakit ini bukan lagi hal menakutkan. 


(mfa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Emas Cetak Rekor, Logam Mulia-Perhiasan Emas Jadi Buruan